Fiksi selalu menjadi satu bagian dari Fakta

Fiksi selalu menjadi satu bagian dari Fakta

“Salah satu perbedaan manusia dengan hewan lainnya, adalah kemampuan kognitifnya yang mampu menerima konsep abstrak yang bisa dibilang fiksi/fiktif menjadi satu kesadaran yang konsensus.”

Bagaimana kita melakukan reduksi definisi terhadap satu objek yang ada di depan kita? Apakah masuk akal memberikan definisi yang begitu substansial tanpa ada unsur subjektivitas sedikitpun?

Misal seseorang satpam komplek mengomentari rumah yang sudah lama kosong: “Oh itu rumahnya Pak Junaedi”.

Lalu ada orang dengan rambut gimbal yang baru saja ikut kelas filosofi tiba-tiba menceramahi satpam tersebut.

“Pak, di dunia ini tidak ada yang namanya kepemilikan murni. Walaupun semua orang bilang rumah itu milik Pak Junaedi, dan semua orang bilang itu fakta yang tidak terbantahkan. Sebenarnya itu hanya fiksi yang koheren yang dibentuk, yang sebenarnya membelenggu kita sendiri.

Coba kita ingat-ingat lagi, seribu tahun yang lalu, tanah ya sekedar tanah untuk dibangun, tidak perlu ada milik ini milik itu, kalau sudah tidak digunakan ya bisa dipakai yang membutuhkan. Ini suatu fiksi yang dibangun secara struktural agar mempertahankan kekuasaan dan kekayaan kaum elite tertentu.”

Satpam itu pun berhenti sejenak, dia sadar bahwa orang di depannya tidak waras. Lalu siangnya dia makan nasi uduk dan es teh manis. Lalu ia terdiam, apakah selama ini teh manis merupakan air yang tercemar Camellia sinensis?

Kembali lagi ke topik substansi, fakta, dan hal-hal yang membuatnya lebih benar dari persepsi lainnya.

Peradaban, pada dasarnya merupakan penambahan nilai-nilai abstrak secara terus menerus menjadi kian kompleks. Tapi kata kuncinya di sini adalah nilai. Sebelum manusia mampu melakukan desentralisasi propaganda terkait nilai mana yang lebih baik dari lainnya, nilai-nilai luhur umumnya hanya terletak di komunitas elite.

Disadur dari Ibn Khaldun – Muqaddimah, suatu peradaban akan dipastikan hancur ketika negaranya menjadi terlalu makmur, karena negara yang makmur tidak terbiasa untuk berperang, di luar sana akan selalu ada yang secara barbaric menyerang mereka yang sudah lebih makmur, atas dasar kekuasaan semata.

Salah satu statement yang saya suka dari Bill Gates adalah, ketika ia ditanya mengapa kita harus mengangkat semua orang dari garis kemiskinan? Jawabnya, “secara transaksional, orang yang diangkat dari jurang kemiskinan akan lebih kooperatif dengan mereka yang sudah maju secara peradaban, dan kita akan terhindar dari perang”.

Dan dari situ juga lah, mengapa militer dari setiap negara tetap terus mempersenjatai negaranya walaupun secara bukti statistik, tidak ada yang harus dikhawatirkan. Dan, dari situ juga lah saya kini paham, mengapa mereka yang sudah established cenderung konservatif, dan tidak sungkan-sungkan mematikan suatu ide yang tumbuh secara liar di kelompok masyarakat.

Karena fiksi itu sangat kuat, lebih kuat dari apapun. Fiksi lah yang membangun negara, mampu menjadikan tanah kosong gersang dipenuhi piramida sebagai persembahan, mampu menjadikan manusia membunuh satu sama lainnya, atau mampu menjadikan manusia jauh lebih manusiawi dari kondisi yang sekarang.

Segala faham-faham yang menurut saya sebenarnya konyol untuk diimplementasikan, terutama sistim kapitalisme yang menyatakan bahwa segala sesuatu didasari oleh pasar bebas dan keuntungan berupa kapital, yang berentet menjadikan meritocracy sebagai faham dasar yang harus dianut individu, dan nilai-nilai fana seperti anti korupsi, kolusi, dan nepotisme digaungkan, agar terjadi persaingan yang sehat.

Individualisme adalah janji kosong dari dunia pasar bebas ini, mereka yang menang adalah mereka yang bergerombol, berkonspirasi, melakukan propaganda, dan sehitam-hitamnya pernyataan ini, lebih baik daripada persaingan yang menjadikan budak pasar bebas, dan mereka yang sudah lebih lama berada di sistimnya, tentu tahu di mana titik eksploitasinya.

Mudah-mudahan suatu hari, negara memiliki simposiumnya sendiri di mana setiap ide walaupun begitu taboo untuk dibicarakan, bisa dibantah maupun dipuja asalkan ia koheren. Bukan sekedar untuk pertumbuhan, bukan sekedar untuk credit rating, bukan sekedar ikut-ikutan karena mereka bilang “memang ini faktanya”.