Mengapa akhir-akhir ini semua orang merasa paling benar?

Mengapa akhir-akhir ini semua orang merasa paling benar?

Artikel ini termotivasi secara garis besar oleh Covid-19, pandemi yang 70-80% penderitanya tidak memiliki / minim gejala namun bisa sangat mematikan bagi mereka yang berusia lanjut dan memiliki penyakit bawaan. Namun sayangnya keadaan yang seharusnya bersifat fakta yang objektif & empiris ini malah dijadikan sesuatu narasi yang dapat disalahartikan. Cognitive-bias atau kelemahan analisa manusia dieksploitasi secara besar-besaran karena maraknya informasi yang salah.

Di negara manapun, selalu ada kategorisasi socioeconomic status dari masing-masing warganya, mungkin salah satu cara paling mudah adalah berdasarkan pendapatannya. Di grafik distribusi (cara membaca : sumbu y merupakan frekuensi / seberapa banyak orang dengan pendapatan di sumbu x. sumbu x merupakan pendapatan per org) di bawah, kita bisa melihat di tahun 2019, Indonesia memiliki median pendapatan di 150,000 IDR per hari atau 3,000,000 IDR per bulannya.

Distribusi Pendapatan Indonesia I [1] source: gapminder.org

Di long-tail bagian kiri kita bisa melihat masih ada beberapa persen dari saudara kita yang hidup di bawah garis kemiskinan (pendapatan di bawah 30,000 IDR per hari atau 600,000 IDR per bulannya).

Distribusi Pendapatan Indonesia II [1] source: gapminder.org
Mengapa semua informasi ini menjadi penting? Ini dikarenakan pendapatan (hampir) berbanding lurus dengan tingkat pendidikan seseorang dan dilihat dari garis pendapatan di atas, kita bisa membayangkan masih sekitar >80% masih harus memenuhi pendapatan dan memperbaiki kondisi ekonomi & edukasi generasi selanjutnya, tiba-tiba dibombardir dengan informasi yang membutuhkan beberapa lapisan edukasi sebelum mampu mengerti konteks secara garis besar.

Sama halnya ketika tiba-tiba seseorang diinformasikan bahwa Indonesia berhutang sebesar 395.3 milyar USD, maka bagi beberapa orang akan sangat sulit untuk memahami apakah nilai tersebut besar / relatif kecil tanpa lapisan-lapisan informasi sebelumnya. Mungkin ibarat lebih mudahnya lagi, di antara dua lapisan masyarakat terdapat jurang mis-informasi, dan di antaranya tidak ada tangga. Hanya persentase kecil lah yang mampu melompat & memanjat jurang tersebut, sisanya? Terjebak di jurang ketidaktahuan.

Mereka, Jurang Disinformasi,  dan Kenyataan, source : ilustrasi pribadi

Sulit rasanya memahami dengan begitu banyaknya informasi yang ada, namun kenyataannya memang manusia sangat rentan dalam memilih informasi yang salah. Namun mungkin yang membuat lebih sulitnya lagi adalah ketika informasi yang kontroversial mendapatkan klik lebih banyak daripada informasi yang benar secara empiris, sehingga secara algoritma search engine seperti Google, Youtube, dan Facebook, mereka hanya akan memberikan informasi serupa secara terus menerus, hingga akhirnya menjadi kenyataan subjektif.

Distribusi Informasi terkait Vaksin, Source : ilustrasi pribadi

Tidak jarang juga orang yang menyebarkan informasi ini menjadi memiliki referensi yang sangat banyak dan di waktu yang bersamaan juga (sayangnya) salah, bahkan mungkin mereka bisa mengutip Nicolaus Copernicus yang akhirnya harus dihukum mati karena berkata bumi itu bulat, dan hal ini merupakan fakta sulit yang harus diterima seluruh masyarakat global. Padahal mereka yang berbicara seperti itu, tidak memiliki latar belakang pendidikan maupun jalur professional di bidang tersebut.

Hal ini juga menjangkit ke orang-orang terkenal seperti public figure ataupun artis yang memiliki kemampuan mempengaruhi cukup tinggi. Jadi bisa bayangkan jika kita secara individu & pemerintah tidak bisa memberikan konteks maupun edukasi ke orang terdekat kita, maka semua orang akan semakin terpolarisasi atas pilihan-pilihan yang bersifat cenderung konyol (walaupun penulis sendiri sadar bahwa banyak fakta yang harus dipertanyakan).

Jadi sebelum terlambat, penulis berharap 3 poin di bawah ini bisa kita tanamkan di keluarga maupun tolong disampaikan ke pemerintah terdekat (kalau artikel ini tiba-tiba viral macam artis nyamar jadi gembel).

1. Berusaha memahami orang yang mendapatkan informasi yang salah, ketimbang membombardir mereka dengan tamparan-tamparan verbal.

2. Bagi mereka yang mendapat pendidikan yang relatif tinggi & kemampuan analisa yang baik, teruslah membagikan artikel yang benar, dan berikanlah justifikasi yang mudah dimengerti.

3. Menginformasikan kerabat terdekat untuk mengurangi mencari informasi yang memberikan justifikasi opini diri sendiri, dan merangkul erat opini yang berbeda.

Ketika suatu sarana / platform demokrasi tiba dengan proses yang begitu efisien sehingga semua orang bisa menyampaikan pendapat yang paling kontroversial, mereka yang cenderung konservatif tidak akan pernah mendapatkan panggung.

Di saat ini juga lah buzzer politik menjadi kaki tangan pemerintah untuk memberikan justifikasi kontroversial, dan influencer terus mendapatkan panggung dengan konten yang tidak mendidik, dan mereka yang waras cenderung acuh, hingga suatu hari mereka sadar semua orang terdekatnya sudah sama sesatnya. Dan kita tinggal, sendiri.

Source :

[1] Gapminder.org on Income Distribution
[2] Featured Image : Control Chaos 4 x 2.1 meters, Silkscreen on Corrugated boards, 2003, Phunk Studio