Melodrama Pria Hampir Dewasa - Part 3

Melodrama Pria Hampir Dewasa - Part 3

Semilir angin berhembus lembut melewati bahuku. Bau daun dan musim gugur memenuhi indera penciuman. Hutan jingga terlihat indah, membutakan pandangan. Kakiku melangkah, menaiki bukit kecil di tengah kepungan pohon-pohon tinggi besar. Cahaya matahari menerobos di antara ranting-ranting panjang.

“Jaya… jangan.” sayup-sayup suara terdengar memanggil.

“Jangan pergi!” suara wanita tersebut semakin terdengar jelas.

Suara alarm tiba-tiba berbunyi membangunkan. Mataku terbuka, tepat jam delapan pagi. Aku segera duduk di tepi tempat tidur lalu melap keringat di keningku. Ah, mimpi ini lagi. Mimpi yang sesekali muncul sejak beberapa bulan ke belakang. Mimpi yang selalu bisa kuingat dengan jelas rasa, suara, bau dan tempatnya.

Sampai hari ini, aku tidak tahu siapa dibalik suara wanita yang ada di mimpi tersebut. Teringat pada  sebuah artikel, bahwa sosok manusia yang muncul dalam mimpi, pasti adalah manusia yang pernah kita temui di masa lalu. Sayangnya, sampai sekarang, suara di mimpi yang kuingat dengan jelas, tidak mengingatkan pada siapapun.

Suara jarum jam yang berdetak menyadarkanku. Jarum jam sudah bergerak selama dua puluh menit. Aku segera mengambil handuk di samping tempat tidur dan bergegas mandi. Tidak ada waktu untuk sarapan, akan kubeli di dekat kantor saja. 

Jam sembilan tepat aku sudah meluncur bersama BMW tua kesayanganku. Hanya membutuhkan waktu dua puluh menit untukku sampai di kantor, tidak seperti Dennis yang harus berjibaku selama satu jam bersama jutaan pengendara pagi yang akan segera memenuhi kota dengan segala hiruk-pikuknya.

Berjarak seratus meter dari kantor, sebuah toko roti terlihat sudah mulai didatangi pelanggan. Setiap jam enam pagi, sang pemilik bersama karyawannya sudah sibuk di dapur toko, mempersiapkan berbagai macam roti untuk pelanggan yang akan mulai datang saat toko buka dua jam lagi. Entah sejak kapan Bu Rika menjalankan toko tersebut, usianya yang terlihat masih di penghujung umur tiga puluhan membuatku berteori sendiri bahwa toko ini tidak mungkin berdiri lebih dari sepuluh tahun yang lalu.

Sesampai di toko, aku mengantri dengan rapi di belakang pria berjaket hijau. Hanya ada enam orang di depanku, tidak buruk. Bu Rika langsung menyapaku dari balik counter. Setelah meletakan roti di rak kaca, ia menghilang dengan cepat, tenggelam dalam keramaian dapur di belakang. 

Pelan-pelan antrian mulai bergerak, sedikit lagi aku akan sampai di depan kasir. Tiba-tiba suara pesan masuk berbunyi,. Aku langsung merogoh saku untuk mengambil handphone, sepertinya Dennis ingin menitip roti.

 

“Jaya, kalau kamu nggak sibuk, ntar malem ketemu yuk ngobrol-ngobrol! Kamu yang tentuin tempatnya ya.”

 

Mataku melotot, kantuk yang masih menyelimuti seluruh tubuh tiba-tiba hilang seperti habis menenggak bergelas-gelas kopi. Aku terus mengulang-ngulang pesan tersebut, masih belum percaya bahwa Minnie mengajakku bertemu tiba-tiba. Padahal hanya selang beberapa hari sejak dia memberikan nomornya kepadaku. Perutku terasa mual, kepalaku mendadak berat. Berbagai skenario muncul dan terus berulang di kepalaku dengan cepat

“Mas Jaya, mau beli apa hari ini?” Ujar kasir toko Roti yang selalu tersenyum lebar setiap ku datang. Hari ini wajahnya semakin merona merah, entah kenapa.

Terkaget karena sudah berada di ujung antrian, aku memesan asal aja. Pikiranku masih terkunci pada rencana bertemu Minnie nanti malam. Sambil menunggu menunggu pesananku disiapkan, aku segera membalas pesan Minnie.

“Eh mas kembaliannya?” Kasir toko roti berteriak kencang, tapi terlambat. Aku sudah bergerak secepat angin meninggalkan toko. Gerak tubuhku seperti  dalam mode autopilot. Kaki melangkah kembali tanpa perintah dari otak. Otaknya sedang sibuk memikirkan seorang gadis berambut sebahu yang selalu mengagetkan. Tepat ketika aku berbelok masuk ke dalam halaman gedung kantor, Dennis yang baru saja datang naik vespa bututnya langsung menyapa.

“Selamat pagi ganteng, abis beliin gue sarapan ya hehehe.” ujar Dennis cengengesan, tangannya langsung mengambil plastik isi roti.

“Kok nggak ada roti isi ayam kecap favorit gue?” senyum Dennis pudar.

“Hah?” balasku kencang tanpa memperhatikannya. 

“Iya, lo kan tau favorit gue.”

Tiba-tiba di kepalaku langsung terbayang makanan favorit Dennis yang bentuknya aneh. Segala problematika di kepalaku tentang pertemuan nanti malam langsung buyar. 

“Makanan lo aneh banget anjir, mana ada di tokonya bu Rika!” teriakku kesal pada Dennis. “Yaudah deh gue makan ini aja.” ujar dennis langsung lari ke lantai dua, menggondol almond croissant terakhir yang kubeli toko. Aku mengintip isi plastik, teronggok roti keju biasa yang seharusnya diambil Dennis. 

“Kenapa ya gue?” hela nafasku sambil bergegas naik menyusul Dennis untuk menyelamatkan sarapanku.

 

**********************

 

Sinar matahari menghujam kota Jakarta dengan begitu galaknya, aku mulai menyesali ajakan Dennis makan soto panas siang-siang. Tak terlalu bernafsu, aku membuka handphone dan mencari ide tempat untuk nanti malam. Dennis dengan semangat terus menyeruput kuah soto.  Keringatnya bercucuran, mungkin sudah tercampur sedikit ke kuahnya.

“Eh lo ada ide nggak, tempat makan yang asik?” jariku terus menari dengan lincah di layar handphone.

“Mau yang kayak gimana?” jawab Dennis sambil menyeruput kuah soto.

“Yang vibenya enak buat nongkrong, bisa makan dan minum juga. Tapi jangan yang crowdnya rame berisik teriak-teriak gitu. Jangan ada live band juga, gak enak buat ngobrol. Jangan yang terlalu romantis juga ya!” ujarku banyak minta. Entah kenapa aku menyerahkan nasibku ke Dennis.

“Ejieeee, mau makan sama siapa sih nih? Kagak cerita-cerita deh.”

“Sama Minnie.”

Tiba-tiba Dennis menggebrak meja, mengagetkan pengunjung kedai soto lainnya yang langsung melotot ke arahnya. Mulutnya terbuka lebar dan berteriak, “HAAAAAAAAH? Kok gue belom dapet update apa-apa nih? Tiba-tiba udah jalan bareng aja!? Cerita dulu bangsaaaat!”

“Woy gila! lo jangan bikin malu gitu ah! Gue ceritain di mobil deh, udah mau kelar jam makan.” Aku langsung menghardik Dennis yang bikin malu.

“Oke-oke. Tenang, gue bayarin makanan lo hari ini, tapi lo mesti cerita semua.” Dennis mengeluarkan dompet seperti boss besar, tangannya langsung terangkat, memberi kode pada penjual soto. Dengan gaya, ia mengeluarkan selembar seratus ribu. Tentu saja langsung ditolak penjual soto karena uangnya terlalu besar. Kepalanya langsung menoleh ke arahku sambil tersenyum. Pada akhirnya, aku yang harus membayar makanannya.

Di dalam mobil,  menembus lautan kendaraan yang bergerak dengan lambat, akhirnya aku bercerita pada Dennis. Dimulai dengan cerita jumat malam saat aku mengirim pesan dan dibalas oleh Minnie, sampai tadi pagi Minnie mengirimkan pesan ajakan untuk bertemu. Aku juga menceritakan perasaanku yang senang, tegang dan ragu bercampur jadi satu. Dennis terkekeh senang mendapatkan bahan ejekan baru.

“Hahaha lo emang ye, dibilangin udah pede aja gak usah takut-takut. Yaudah deh nih, gue kasih tempat kuncian gue di kemang.” Dennis segera membuka handphone mencari foto tempat yang ia maksud.

“Tanggung jawab ya lo, awas sampe jelek.” 

“Nggak, nih liat sendiri.” Dennis lalu menyodorkan handphone kepadaku. 

Walaupun kesal dengan celotehan Dennis siang ini, Jaya harus mengakui, pilihan tempatnya sempurna. 

“Bagus juga, tau dari mana lo nih tempat?” tanyaku dengan rasa penasaran. 

“Lo meragukan gue? Sang don juan jaksel?” jawab Dennis dengan penuh rasa bangga. “Nih tempatnya kok kayak gelap gitu ya.” sedikit keraguan muncul. 

“Iya, enak kan buat ciuman.” ujar Dennis sambil memonyongkan bibirnya. Walaupun kesal dengan kelakuan Dennis, hari ini dia cukup berjasa, jadi kubiarkan hari ini dia berkuasa.

 

Sampai di kantor, aku langsung mengirimkan pesan kepada Minnie.

“Lo duluan aja naik, gue mau ngasih tau Minnie dulu.” ujarku dengan gerakan tangan mengusir.

“Iya deh yang lagi kangen banget.” ejek Dennis sambil langsung turun dari mobil.

 

“Ah, aku tau tempatnya! Oke, jam tujuh, malam ini kita ketemu ya! See you..”

 

Melihat balasan dari Minnie, aku bernafas lega. Paling tidak sampai titik ini sudah aman.  Akupun langsung buru-buru masuk ke dalam ke kantor, tidak sabar untuk menunggu matahari terbenam. 

 

*************

 

Ketika sore tiba, aku langsung merapikan meja dan pergi ke kamar mandi. Kaos putih yang lembab karena keringat makan soto tadi siang segera kulepas. Wajah yang sedikit kotor langsung kubasuh dengan air dan sabun. dua jam menuju waktu pertemuan, aku memikirkan topik pembicaraan apa yang harus kubawa nanti. Sambil mengenakan kaus ganti yang kubawa, aku teringat pertemuan terakhir dengan Minnie sebelum ia menghilang. Walaupun tidak tahu alasannya, saat itu aku sedikit merasa bersalah. Ada ketakutan bahwa aku yang menyebabkan Minnie menjauh. Aku bertekad, malam ini harus menjadi malam yang menyenangkan, kita akhiri dan kunci serapat-rapatnya segala memori yang tidak menyenangkan.

Pintu kamar mandi terbuka, Dennis langsung berteriak, “ lo ngapain masih di sini? Udah buruan berangkat sana gila. Jangan kelamaan mikir!”

“Siap pak, saya berangkat dulu.” 

“Inget ya, gitu ketemu langsung lo rangkul mesra terus lo kecup pipinya.” teriak Dennis kencang. Seluruh penghuni kantor langsung menengok sambil tertawa. Aku langsung lari ke lantai satu agar tidak menjadi bulan-bulanan lagi. Dengan cekatan aku langsung mengeluarkan mobil dari tempat parkir dan langsung meluncur ke arah Kemang, membelakangi matahari terbenam. 

 

“I’ve been looking so long at these pictures of you, that i almost believe that they’re real”

 

Tanpa sadar, bibirku bergerak ikut bersenandung mengikuti lagu di radio. Suara riuh penyiar di sore hari, tergantikan oleh suara Robert Smith yang selalu sendu melankolis tapi terasa jahil. Tenggelam dalam arus deras lagu yang mengalir, deru mesin kendaraan dan suara klakson yang cempreng hilang begitu saja, seperti berada di ruang hampa udara. Tanpa sadar, mobilku sudah terparkir rapi di depan gedung megah dengan aksen modern penuh kaca yang berdiri tegak, tak peduli dengan keramaian manusia di Kemang Raya.

Karena sepertinya Minnie belum sampai, tanpa pikir panjang aku langsung berjalan masuk ke restoran. Di pintu depan, seorang staf restoran langsung menyambutku. Ia mengenakan kemeja putih dan apron hitam yang terlihat mewah. Pada lehernya, terhias dasi kupu-kupu.

“Selamat malam, berapa orang pak?” tanyanya dengan ramah.

“Dua orang ya, boleh minta tempat yang nggak terlalu berisik?”

Ia langsung memberi kode kepadaku untuk mengikuti ke dalam restoran. Aku dipersilahkan untuk duduk di depan meja yang bersebelahan tepat dengan jendela besar. Staf tersebut langsung meletakan lilin kecil di tengah meja. Di bawah cahaya yang remang-remang, apinya terlihat seperti menari-nari. Di sisi luar jendela terlihat tanaman-tanaman hijau yang merambat menghiasi dinding halaman belakang restoran. Sambil memesan segelas es kopi, aku memberi kabar kepada Minnie kalau aku sudah berada di dalam restoran. 

Tidak lama, sebuah pesan masuk dari Minnie,

 

“Lihat ke pintu depan deh.”

 

Dengan cepat mataku langsung lari ke arah pintu. Seorang gadis sedang berdiri, dengan tangan kanannya melambai-lambai kencang ke arahku. Bibirnya merekah tersenyum, terlihat begitu jelas di mataku, mengalahkan terangnya lilin di meja. Tanpa sadar, bibirku pun ikut tersenyum lebar.