Bagaimana Rasanya Menjadi 27 Tahun?

Bagaimana Rasanya Menjadi 27 Tahun?

Artikel ini saya peruntukkan untuk adek-adek di luar sana yang masih berumur di bawah 27 tahun yang terlalu banyak berpikir, yang terlalu banyak bertanya-tanya, dan suka menghabiskan waktunya berandai-andai, seperti saya dulu. Mudah-mudahan banyak kesalahan yang bisa dicegah (atau malah dibuat dengan sengaja) dengan membaca artikel ini.

Jika kalian mencari nama saya di media massa mungkin tidak banyak berita yang bombastis, mungkin malah ketemu website yang aneh-aneh. Namun apa yang membuat saya merasa relevan dalam menceritakan ketuaan ini? Tidak lain tidak bukan, ya karena saya sudah 27 tahun. Pasti ada yang bertanya? “Lah semua orang kan bisa jadi 27 tahun?”

“Tapi gak semua orang sudah melewati 27 tahun kan?” Dan di situ saya menang, maka saya sudah menjadi expert di bidang ketuaan.

Oke tanpa panjang lebar dan tinggi, saya akan berbagi pengalaman tentang umur ini. Saya akan berbagi cerita saya di 3 faktor kebahagiaan yang selalu dibahas pada level cangkang, yakni : kepuasan terhadap hidup, relationship, dan karir.

 

A.Kepuasan Terhadap Hidup

Satu hal yang saya pelajari dari menua adalah hampir semua hal yang saya pikir itu sifatnya linear, nyatanya tidak. Kita pikir siapa yang paling banyak belajar paling banyak uangnya, semakin kita banyak belajar semakin banyak kita mengerti, semakin banyak kita memiliki pengalaman akan semakin bijaknya kita. Nyatanya semua itu hanyalah adegan film-film underdog belaka. Nyatanya semakin tua, semakin sedikit yang bisa kita prediksi. Semua hal berubah, seperti quotes-quotes di toilet gedung BUMN, “Yang pasti hanya perubahan, berubah atau punah”.

Saya masih ingat sekali dulu waktu saya masih 16 tahun, saya disuruh nulis tentang visi hidup saya, bagaimana saya menyusun mimpi besar saya menjadi lompatan-lompatan kecil. Saya dulu menulis saya akan menjadi engineer di salah satu perusahaan minyak terbesar dunia, Exxon. Dan saya sudah memiliki usaha sampingan yang besar di umur itu. Saya bermimpi masuk kuliah di ITB untuk mengambil jurusan Teknik Elektro. Apa yang terjadi saudara?

Dengan bangga kami sekeluarga menyampaikan: “Tidak ada yang kesampean”.

Namun saya percaya bahwa bagaimana kita bercerita & berinterpretasi, adalah fakta alternatif yang lama-kelamaan menjadi fakta sesungguhnya. Ya intinya belajar boong.

Apa saya puas tentang hidup saya yang sekarang? Kalau yang sekarang sih belum. Tapi kalau yang sudah terlewati sih saya puas (mau gimana lagi). Untuk yang masih muda, berikut saran hidup dari saya.

1.Belajar Statistik

Kenapa statistik? Karena statistik akan membuat kita waras. Dengan statistik kita mengetahui mana yang mungkin, mana yang hampir tidak mungkin, mana yang resikonya tinggi, dan lain-lain. Saya ingat betul waktu masih SMA, hampir semua anak-anak woke & berasa pinter di sekolah (mungkin abis kebanyakan baca kaskus pada jamannya) berkata “Sekolah itu gak penting-penting banget kali, lo liat dari samplenya aja kayak Bill Gates, Steve Jobs, Mark Zuckerberg, mereka aja gak lulus kuliah, tapi jadi orang paling kaya di dunia”.

Mamam tuh gak sekolah bener.

Bukannya saya penjunjung tinggi dan bagian dari advokasi pendidikan tinggi di seluruh semesta raya ya. Tapi tolong diliat persentasenya berapa, persentasenya lebih besar dari 60% atau nggak.

2.Belajar Delayed Gratification

Yang namanya kesenangan itu instan, tapi kepuasan atas suatu pencapaian itu bertahan lebih lama (sedikit). Sudah banyak riset yang menunjukkan bahwa bisa menunda kesenangan yang sementara memiliki asosiasi dengan kesuksesan secara finansial dan kepuasan emosional. Lagipula hidup itu relatif panjang, kalau kita lihat gambar di bawah.

Memang sudah cycle nya juga hidup akan turun secara kebahagiaan hingga akhirnya pelan-pelan naik kembali.

Source : statmodeling.stat.columbia on Age and Happiness

Nah nanti yang muda-muda juga akan perlahan sadar bahwa yang namanya personal development atau pengembangan diri pun kebutuhannya perlahan bergeser. Tergantung dari usia mental ya tapi, karena banyak juga yang sudah berumur tapi personal development-nya masih nyangkut di usia bocah.

Nanti nih ya, tergantung traumatic-experience apa yang terjadi di hidup kalian, tapi nanti akan ada masa-masa di mana kebutuhan atas kasih sayang, nilai-nilai, dan aktualisasi diri serentak tumbuh, di situ kalian akan susah tidur, banyak ngopi, dan mendadak religius.

Source: Maslow Personal Development, Phillipp Guttmann.

3.Belajar Dengar Diri Sendiri & Orang Lain

Ini gak ada rumusnya sih, tapi intinya, banyak orang yang hidupnya jadi gak karuan karena gak mau denger orang lain. Tapi ada juga yang hidupnya jadi gak maju-maju karena dengerin orang lain terus. Ada dua ekstrem yang memang sudah jadi permainan keseimbangan sehari-hari. Mungkin kalau saya personal, penyakit saya malah terlalu banyak mendengar dari orang lain.

Oke itu dari sisi kepuasan hidup. Lanjut?

Lanjut Pakde.

 

B.Relationship

Dari visi saya saat 16 tahun, dulu saya menulis saya akan menikah di umur 27 tahun. Dari mulai SMP, SMA, kuliah, hingga masuk umur produktif saya melalui masa-masa naif dalam berhubungan, hingga akhirnya saat saya berumur 26 tahun saya memutuskan untuk menikah.

Nah kalau dari sisi relationship sih saya termasuk yang naif. Karena mungkin dari dulu saya percaya yang namanya there is the one. Meskipun saya bukan sosok keren ala film drama korea yang tangannya kesentuh dikit langsung slow motion setengah jam, saya sih memang dulu agak mendayu-dayu.

Hingga akhirnya fast forward 10 tahun, saya di sini bisa share tipsnya. Oke, jadi saya hanya akan beri 2 tips saja.

1.Apapun definisi kalian tentang cinta-cintaan, coba dibuat ke tengah

Mungkin saya berkali-kali jatuh ke tahap ekstrem saat memulai relationship, dengan visi yang salah, hubungan kalian bisa tidak sekedar menyisakan luka, tapi juga trauma yang merusak. Misalnya dulu saya (mungkin sekarang masih) percaya bahwa yang namanya cinta itu ya pengorbanan. Jadi saya tidak sungkan-sungkan untuk melakukan lebih, menjadi lebih, dan apapun yang lebih-lebih demi menjunjung tinggi perasaan pasangan saya. Hingga saya sering hanyut secara identitas, dan saya lupa diri saya sendiri ini juga harus diperhatikan.

Banyak sekali film, novel, ataupun media lainnya yang membungkus toxic relationship menjadi seolah hal yang normal. Padahal ketika kita masuk ke dalamnya terdapat hal di bawah:

Cinderella-Complex : umumnya ada pada wanita yang merasa dirinya tidak akan lengkap & nyaman jika tidak ada sosok yang mendampinginya & mengurusnya. Selalu menanti pangeran datang ke hidupnya.

White Knight Syndrome : tentang pria ataupun wanita yang ingin selalu berkorban, agar dirinya merasa memiliki jiwa ksatria dan merasa mencapai sesuatu.

Ya pokoknya adek-adek banyak baca buku deh ya.

Oiya sebelum tips nomor 2. Ada quick fyi bahwa mereka yang menghargai Love cenderung lebih bahagia daripada mereka yang menghargai Money loh. Tapi sebelum para budak-budak cinta seneng mari kita bahas tips nomor 2.

Source : theatlantic.com Love & Money Relationship

2.Pada Akhirnya Cinta Gak Cukup

Meskipun di film-film romantic comedy selalu menyajikan bahwa mereka yang mengejar pasangannya sambil lari-lari di airport megang celananya yang melorot akhirnya mendapatkan kekasihnya, nyatanya kalau dengan lari-lari bisa bahagia selamanya, mungkin tukang bubur dekat rumah saya sekarang sudah hidup bahagia bersama Sophia Latjuba.

Kalian tidak akan menyangka betapa banyak checklist yang harus dilalui, dan dari setiap orang mereka memiliki preferensinya sendiri-sendiri. Dan yang berhak untuk mengisi checklist itu juga bukan hanya pasangan kamu, tapi juga orang tua mereka, dan mungkin fakta buruknya adalah ya kadang ketika pacaran, kita tidak pernah tuh bahas hal-hal fundamental seperti itu bersama pasangan. Misal pasangan anda baru mau punya anak kalau sudah usia 30 tahun, sedangkan anda sendiri sudah hamil, kan susah, masa mau dibonsai?

Jadi jangan berasumsi, lebih baik tanya hal-hal yang sulit sekarang, agar tidak membangun menara tanpa pondasi, ya tinggal nunggu rubuhnya kan.

Oke yang galau sini baris.

Lompat sana ke sungai.

 

C.Karir

Jika kalian pernah berpikir bahwa masa-masa sekolah ataupun kuliah itu berat karena banyak tugas. Tunggu hingga kalian bekerja, maka kalian akan menyesal tidak cuti setahun dulu” – Abraham Lincoln.

Mungkin sebelum masuk ke karir atau dunia kerja, kita bisa lihat dulu statistik di bawah.

Source : Visualcapitalist.com College Salary, Jeff Desjardins 2018.

Dari jurusan kuliah kita bisa tahu kira-kira mana yang lebih menjanjikan ketimbang jurusan lain. Nah tapi bagi yang sudah terlanjur ambil jurusan, yasudah nikmatin saja. Ketika saya baru lulus kuliah, jujur saya gak banyak melakukan riset tentang jenis karir apa yang saya harus ambil. Kebetulan ayah saya seorang insinyur perminyakan, yang setiap hari selalu bicara tentang energi fosil & terbarukan. Kebetulan saya malah cenderung suka IT setelah lulus dengan gelar robotik saya.

Akhirnya ya, tanpa riset yang jelas, saya nyasar di industri yang sifatnya heavy & niche atau sifatnya sangat spesifik dan sempit yakni tentang data center. Untungnya karena saya masih di dunia sales, saya masih bisa pindah kesana kemari. Namun di era yang terus berubah seperti ini, mungkin lebih baik menjadi generalist selagi muda, lalu perlahan mencari spesialisasi di bidang tertentu, bukan sebaliknya.

Oke kita masuk ke tips soal karir.

1.Riset

Cari yang kamu suka & mau betul, tapi cari tahu juga semua yang ada di luar sana. Jika kamu selama ini kuliah di bidang perbankan, ya coba lihat kesempatan apa yang ditawarkan di bidang teknologi, dan contoh lainnya. Karena terjerumus di environment yang salah dapat mempersulit untuk loncatan-loncatan selanjutnya. Cari tahu di luar sana ada bidang pekerjaan apa saja selain yang dosen kamu ceritakan.

Karena ya mungkin dosen terakhir kali melihat ke luar ya hanya saat baca berita, namun itu kan hanya cangkangnya saja.

2.Follow where the money is

Agak kapitalis sih, tapi ketika era boom oil & gas sekitar 30-40 tahun yang lalu, hampir semua cream of the crop ingin masuk di bidang itu karena disekolahin ke Amerika, Prancis, dan Belanda tergantung perusahaannya. Dan tentunya dengan uang yang begitu banyak & booming di industri tersebut, mereka berani bayar mahal untuk investasi di aset mereka yakni people. Jika industri saat ini sedang lesu di area tertentu, bukannya tidak mungkin untuk menjadi sosok yang sukses, namun ketika orang-orang terbaik ada di sekitar kamu, ya kamu juga ketularan jadi baik juga.

Saya juga belum sukses-sukses amat sih, cuman kalian terus liat aja di youtube, sekitar 3 bulan lagi. Ya liat aja pokoknya.

Oke saya kira sudah cukup untuk berbagi pengalamannya. Semoga yang masih muda bisa terinspirasi dengan tulisan saya yang apa adanya ini. Jika ada pertanyaan, bisa tulis di komen bawah, kalau saya lagi baik, saya akan bales. Mungkin juga saya menulis artikel ini, karena saya krisis, sebentar lagi udah 30 tahun, tapi masih nungguin Dragon Ball Super season terbaru.

Semoga bermanfaat.

Salam.

 

Featured Image : kazuya-akimoto.com Blue Human Chrysalis, 2009