Melodrama Pria Hampir Dewasa - Part 2

Melodrama Pria Hampir Dewasa - Part 2

Dua minggu berlalu begitu saja tanpa aku ingat soal Minnie. Tenggelam dalam pekerjaan, aku lupa untuk mencari tahu kontak Minnie kepada teman-teman. Dennis sempat memberitahu dan menyarankan untuk menghubunginya lewat Instagram Minnie, tapi belum kulakukan sampai hari ini.

 

“Eh, Video yang buat konten minggu depan udah lo cek belom?” Dennis berteriak dari mejanya yang padahal hanya berjarak 3 meter dari mejaku.

“Belom, ntar ya, memory gue penuh.” Balasku berteriak kencang tidak mau kalah.

“Lah, buka di laptop aja sih?” Dahi Dennis bertekuk, tidak setuju pada jawabanku.

“Gua mau sekalian ngerokok dibawah. Ini gue kerjain sekarang.”

 

Sambil melangkah turun ke lantai dasar, aku membuka gallery iPhoneku dan bingung memilih, foto dan video apa yang harus dihapus agar memberi ruang lega. Tersimpan dokumentasi seluruh kehidupanku selama 3 tahun kebelakang sejak iphone ini pertama kali kubeli. Memilih siapa yang tidak beruntung untukku hapus malah membuat diriku terlalu asyik melihat foto-foto lama, kilas balik berputar di kepalaku, sampai akhirnya tiba pada satu foto yang sudah 3 tahun lamanya. Satu-satunya fotoku bersama Minnie yang masih kusimpan dan juga merupakan terakhir kali aku bertemu Minnie 3 tahun lalu, sampai akhirnya sore kemarin aku melihat lagi wajahnya.

 

“Cantik ya? Nyesel banget ya gak dilanjutin?” Di belakangku ada muka Dennis sumringah menangkap basah 

“Ah kagak kampret, ini lagi ngapus foto-foto lama aja.” Aku mencoba menyembunyikan wajah yang memerah.

“Gak usah tipu-tipu. Gue kenal lo cukup lama buat tau kalo lo tuh pasti lagi ada pikiran. ternyata tentang Minnie toh.” Dengan bangga, Dennis berkata.

“Hah, gimana-gimana?”

“menurut lo gue gak sadar lo jadi sering bengong? lagi  meeting bengong, kemaren ngerebus air aja, airnya ampe udah mau abis nguap, lo masih bengong depan kompor.”

 

Aku berniat membantah tapi setelah dipikir-pikir, semua yang dikatakan Dennis benar apa adanya. Semenjak pertemuanku dengan Minnie, aku seperti kehilangan fokus pada segala hal. Bayangkan, seorang atlet lari marathon yang biasanya fokus pada garis finish, menghantam jalanan dengan teknik yang sudah diatur secara efektif, tiba-tiba kehilangan kemampuannya dan akhirnya berhenti di kilometer 20. Tidak ada rasa ingin melanjutkan marathon lagi.

 

“Jadi kenapa tiba-tiba lo jadi Minnie lagi nih? waktu itu kan lo udah memutuskan ninggalin dia karena….”

 

“Woy, ini video gimana woy, mau naik tayang sore ini nggak? kagak ada kabarnya dah.” Suara editor video dari pintu ruang sebelah membuyarkan bayangkanku akan Minnie dan semangat Dennis untuk memaksaku bercerita.

 

“iya-iya bentar. 15 menit ya!”

 

Lalu kami melanjutkan pekerjaan sampai sore tiba.

 

**

 

“Jadi gimana-gimana? cerita dong.”

 

Tanya Dennis di teras belakang kantor sambil menghembuskan asap rokok dengan lembut. Aku memandang langit jingga Jakarta sambil berpikir, haruskah kuceritakan kepada si sialan di sebelahku ini? Apakah pertemuanku ini adalah hal penting yang harus diceritakan? 

 

Aku mengambil rokok dari meja dan membakarnya.

“Hmmm… iya gue kepikiran Minnie lagi.” Akhirnya aku memutuskan untuk menceritakan kejadian yang lalu kepada Dennis. Toh, aku juga butuh pendapatnya.

 

Dengan suara lembut, Dennis bertanya “Gara-gara apa? gak ada angin gak ada ujan..”

“Lo inget gak dua minggu lalu gue beli perabotan di IKEA? gue ketemu dia di sana.” Jawabku sambil terus menatap langit.

“HAAAAAH?? Terus-terus?” Suara lembut Dennis hilang, tergantikan teriakan melengking.

 

Dennis yang tadinya duduk santai sambil merokok. Tiba-tiba meloncat berdiri, rokoknya terlampar ke halaman dan mukanya kaget seperti orang yang baru saja diberitahu akan masuk acara bedah rumah.

 

“Dia tiba-tiba nyapa gue duluan dan gue sampe kaget, hampir gak bisa ngomong apa-apa.

Terus yaudah kita ngobrol aja, catching up with everything selama beberapa tahun ini sejak waktu itu. Gak berapa lama dia pamit karena mesti pergi.”

 

Dennis membakar rokok baru. Koreknya sulit menyala sampai harus berkali-kali dia mencoba. Setelah berhasil, dia menarik nafas panjang dan mencoba untuk tenang kembali. Aku malah bingung, kenapa dia jadi seperti orang panik.

 

“Lo anterin dia nggak?”

“Ya nggak. kan shock.”

“Anterin ke lobby?”

“Nggak juga.”

“Minta contactnya?”

“Apalagi.”

“YAELAAAAH BEGO AMET DAH LU!”

 

Apa yang dikatakan Dennis benar apa adanya. Aku merasa sangat bodoh, seandainya waktu itu sempat meminta nomornya, maka paling tidak aku bisa menghubunginya dan bukan hanya sekendar melihat akun instagram dan foto bersamanya beberapa tahun lalu.

 

“Ya gimana dong, lo tau kan shocknya gue ketemu lagi sejak 3 tahun lalu.” 

“Gini deh. lo punya japri dia apa aja?”

“Cuman instagram yang lo kasih ke gua doang. itu juga gak bisa anggep japri sih.”

“Dm dia sekarang! gue gak mau tau. gue mau liat lo DM dia sekarang!”
“Lah-lah-lah, ya aneh lah tiba-tiba gue nge-DM dia gitu.” Padahal sudah sminggu ini aku merencanakan hal tersebut walau tak kunjung terjadi juga. Mungkin yang kubutuhkan memang sedikit dorongan untuk melompat ke arah air terjun.

 

“Udah, keluarin hp lo sekarang, ketik depan gue.” Ujar Dennis begitu bersemangat.

 

Sejenak aku bingung, ini yang punya perasaan siapa, yang antusias siapa. 

 

**

 

Hari jumat malam dini hari, dan jariku terus membolak-balik lembaran kertas di atas meja kayu depanku. Bila orang lain sedang berpesta dan menikmati malam libur akhir minggu mereka, aku harus tenggelam dalam pekerjaan yang membuatku memutar otak lebih dari 2 jam yang lalu. Kenikmatan akhir minggu yang seharusnya kusambut dengan riang gembira malah dikalahkan oleh pekerjaan yang muncul secara tiba-tiba.

Kepalaku terasa panas memikirkan segala masalah yang harus diselesaikan sampai hari senin. Kucoba menuangkan kopi dingin ke kerongkonganku, dengan harapan agar dingin di leher dan perut bisa naik mendinginkan kepalaku. Sayangnya, yang terjadi hanyalah rasa panas yang terus bertambah. 

Aku terus menyesali keputusanku sebelumnya. Kenapa dengan santainya kusanggupi permintaan untuk mengerjakan angka-angka dan analisa sialan ini di akhir minggu?  Tidakkah lebih baik pada jam segini aku menghabiskan waktuku duduk santai menghabiskan bir dingin bersama Dennis dan yang lain? atau paling tidak tidur lelap di rumah setelah menghabiskan satu album penuh John Coltrane sampai aku terbangun esok siang.

 

“Gak bisa kayak gini terus nih. udahlah lanjutin aja besok” ujarku dalam hati, keringat bercucuran dari kening.

 

Aku memutuskan untuk mengakhiri malam ini sampai sini saja. Analisa tersebut bisa kulanjutkan besok walau itu artinya aku akan menghabiskan sabtuku di rumah sampai pekerjaan ini selesai. Tapi paling tidak, pikiranku akan lebih jernih dibanding tetap melanjutkan malam ini sampai pagi.

Malam ini begitu dingin karena baru saja hujan selesai membasuh Jakarta Selatan. Aku bergegas melangkah menginjak aspal basah tempat parkir menuju mobil. Di kepalaku saat ini hanya ada kasur di rumahku yang akan segera kutiduri tanpa mandi dan berganti baju. Aku berencana akan akan melompat langsung ke kasur tanpa ragu seperti seorang atlet loncat indah begitu sampai rumah, sampai tiba-tiba terdengar bunyi notifikasi pesan masuk di iphoneku.


“Minnie mengirimkan pesan”

 

Seketika jantungku berhenti sejenak. Dalam kondisi duduk di bangku kemudi mobil, aku melihat layar iphone sambil berpikir, atau mungkin lebih tepat bila kubilang tidak bisa berpikir apa-apa selain Minnie. Sepanjang perjalanan aku seakan-akan menyetir dengan dengan Auto-Pilot. Beruntung aku bisa sampai rumah dengan selamat.

 

Sesampai rumah aku langsung membuka pesan dari Minnie

 

“Hi Jay! Ya ampun aku baru sadar kita gak punya contact masing-masing ya? ini nomor aku kamu simpen ya, nanti telfon aja kalau kamu udah ada waktu, hehe.”

 

Di bawah pesan tersebut Minnie mencantumkan nomornya yang ia minta untuk aku telfon. Sambil menyimpan nomor tersebut, aku berpikir apakah aku harus melfon dia sekarang? Sekarang sudah jam 2 malam tapi dia juga baru membalas pesan ku 30 menit yang lalu, berarti kemungkinan dia juga belom tidur. Tanpa sadar, jari-jariku bergerak menekan nomor tersebut. Suara dering berbunyi sebentar, lalu tergantikan suara seorang gadis.