Suksesmu Malah Milik Orang Lain

Suksesmu Malah Milik Orang Lain

Ketika seseorang memiliki kelas sosial ekonomi yang memasuki kategori kaya secara finansial, banyak orang yang langsung terburu-buru memberikan korelasi antara kebahagiaan dengan keadaan sosial ekonomi tersebut, lalu mengambil kesimpulan beberapa kondisi ekstrem yang sering kita dengar ketika kita sedang ngopi bersama orang terdekat kita seperti : “ya orang kaya itu hidupnya emang gak tenang” atau “ya kalau lo miskin, boro-boro mau ngerasa bahagia atau nggak, makan aja susah”.

Namun bagaimana jika korelasi itu tidak pernah ada? Korelasi itu hanya dibuat oleh ego untuk menutup rasa inferior / rasa kerdil dan ingin diakui oleh semua orang sebagai seseorang yang besar, maka setelah suatu titik finansial tercapai, orang akan melihat saya sebagai sosok yang lebih bahagia. Atau malahan rasa takut tidak berhasil menurut sudut pandang orang-orang terdekat?

Karena tidak adanya korelasi tersebut, maka lahirlah manusia-manusia di istana megah yang berbahagia dan yang selalu gundah gulana, sama halnya dengan gubuk yang gempita dan gubuk yang durjana.

Namun sulit untuk memungkiri bahwa titik finansial fatamorgana tersebut bagai suatu pencapaian yang absolut bukan sesuatu yang relatif. Karena tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk mencapai titik tersebut, banyak yang menjadikan titik tersebut seperti Tuhan yang akan ia temukan saat ia sampai, sambil bercerita betapa ia menjadi sosok yang lebih produktif dengan melakukan ini dan itu.

Ketika kita bertanya lebih dalam, dengan kata-kata yang lebih kecil, dan dengan jawaban yang sedikit lebih jujur. Cerita apa yang sebenarnya ingin disampaikan dengan kita dan titik tersebut? Suatu ajang balas dendam karena sewaktu kecil kita selalu diolok-olok, suatu media melawan ingatan tentang bully ketika kita tidak berdaya, atau suatu pembuktian karena sepertinya semua orang selalu melihat kita sebagai orang yang lebih rendah dari nilai kita?

Kita akan selalu bersama dengan niat kita bukan?

Ketika titik itu tiba menghampiri, kita hanya kebetulan di posisi yang berbeda, namun kita tetaplah orang yang sama. Dengan segala cerita tentang perjalanan menuju ke sana, kita hanya menghabiskan semua rentang waktu untuk membuktikannya ke orang lain. Mungkin ironinya lagi, karena titiknya begitu jauh, orang lain yang ditujukan pun sudah tidak relevan untuk mendengar informasi tentang kita.

Di era pamer, era titik puncak lebih terlihat daripada distribusi median, sulit untuk memberitahu diri kita sendiri bahwa “tidak apa untuk memiliki definisi kesuksesan yang berbeda, sesuatu yang begitu personal & privat”.
Saya rasa meluangkan waktu untuk memberikan arti dari tujuan, jauh lebih penting daripada memiliki tujuan itu sendiri.

Dan saya sendiri pribadi percaya bahwa banyak sekali orang yang tidak meluangkan waktunya untuk memberikan arti dari kata-kata penting lainnya dalam hidupnya seperti cinta, pintar, aman, kaya, dan lainnya. Hanya karena kata-kata yang kita gunakan sama, bukan berarti definisinya bisa dipaksakan untuk semua orang.