Karena Hidup Selalu Punya Dua Sisi

Karena Hidup Selalu Punya Dua Sisi

Dalam satu kepingan kehidupan, selalu terdapat dua bagian yang hadir di dalam kehidupan, dua yang bertentangan namun melengkapi satu dengan lainnya. Layaknya kematian yang memuliakan kehidupan, seperti kesenangan yang terangkat derajatnya karena melalui peliknya kesedihan.

Sejatinya filosofi ini sudah lama dikenal di benua Asia sebagai ajaran yang sangat tua sejak 300 tahun sebelum masehi. Di mana keseimbangan alam semesta, seseorang, hingga keberuntungan seseorang bergantung dari lengkapnya dua elemen tersebut. Dari lambang Tao yang dilambangkan dengan hitam bertemu putih, dan di dalam hitam yang besar terdapat putih yang kecil dan sebaliknya, saling memadu, memberikan kesempatan bagi pembacanya untuk melakukan interpretasi seliar mungkin.

Jika diperbolehkan untuk melakukan interpretasi, saya ingin mengangkat tema ini ke dalam 3 praktek sehari-hari bagaimana mengerti dua hal yang bertentangan ini dapat membantu kita untuk melalui masa-masa yang sulit. Untuk kembali meletakkan hidup kembali ke salah satu interpretasi paling kunonya, yang akan saya perjelas di bawah.

 

1.Hidup sejatinya adalah untuk menghidupi dua rasa utama tersebut

Di saat-saat kritis dalam hidup kita, tentu kita sering mengalami keterbatasan kemampuan untuk mengubah sesuatu, segala sesuatu kita persiapkan, hitungan menit takdir menghujam menghukum kita yang sombong dalam menyusun rencana. Namun apa iya begitu?

Jika seorang anak terlahir begitu kaya dan harga dari suatu kebahagiaan terasa begitu murahnya, dengan mengedipkan mata, membalikkan tangan, ia mendapatkan apa yang diinginkan, apa iya, ia bisa merasakan tentram yang nyata?

Karena kodratnya bukan begitu. Seseorang harus merasakan kesenangan yang biru dan kesedihan yang merah merona untuk benar-benar menjadi manusia yang utuh, yang faham akan hakekat dirinya sendiri. Bahwa ia akan dicoba, diombang-ambingkan di dalam keraguan dirinya sendiri hingga ia mampu melihat kepingan hidup secara utuh.

 

2.Kontrakdiksi itu bukan membunuh satu definisi lainnya, melainkan memberikan ukuran baru agar kita tidak terburu-buru mengambil keputusan

Jawaban yang terdengar mudah dimengerti, masuk akal tidak langsung menjadi jaminan bahwa jawaban tersebut benar, dan jawaban yang sulit, berbelit-belit, dan melalui begitu banyak proses juga bukan jaminan bahwa itu salah.

Manusia cenderung terburu-buru dalam mencari kebenaran yang harus dia percayai dalam hidupnya, sehingga satu keping dipelajari, bagian lainnya tertutup rapat untuk bahkan didengar. Apakah hidup harus melalui penderitaan agar mendewasakan jiwa seseorang? Ataukah harus sekedar mencari sejuknya pagi dan berselimut di tengah malam sambil bersyukur pada Tuhan?

Apakah kontradiksi membunuh hal yang lainnya? Atau malah memperkenalkan jalur baru, yakni harmoni atau keseimbangan?

Kiri atau kanan, konservatif atau liberal, keras atau lembut merupakan faham-faham yang mengkerdilkan ukuran-ukuran kehidupan. Perkenalkanlah kesempatan untuk sisi yang lain meskipun sekedar melihat dari kejauhan, bagai air laut yang bertemu di tepian pantai tanpa larut menjadi satu.

Karena perbedaan merupakan persepsi bagi mereka yang belum pernah mengunjungi sisi yang lain. Ketika mereka sudah merasakan tepi yang lainnya, semua manusia terasa seperti saudara.

 

3.Pada akhirnya syukur itu tentang berusaha memahami bahkan saat tidak ada ruang untuk melakukannya

Seperti titik putih di tengah luasnya hitam di lambang Tao itu sendiri, tentang dua bagian yang menjadi satu ini mengajarkan bahwa kadang suatu bagian dari hidup kita terasa begitu hitam dan pekatnya, seolah ruang untuk syukur sudah dikunci rapat dan sumpah serapah hingga mengutuk Tuhan dan semua orang menjadi cara terakhir. Ingatlah bahwa di dalam putih ada hitam dan di dalam hitam ada putih.

Mereka terpadu namun tidak menyatu, membiarkan dua warna itu terpisah, dan kita juga tidak berusaha untuk mengaduknya agar semua menjadi abu-abu dan kita menjadi tidak tahu mana lagi yang harus dipercaya.

Bersyukur adalah untuk melihat dua titik tersebut. Memahami ketika terang maupun gelap, dan menerimanya. Ketika hati sudah faham, maka benderanglah hatinya dengan syukur setiap denyut nadinya.