Tentang Prioritas, Berkata Tidak Meskipun Semua Bilang Iya

Tentang Prioritas, Berkata Tidak Meskipun Semua Bilang Iya

Mengapa kita tertarik untuk membuka artikel ketika mereka berkata “simak 5 cara meraih kesuksesan menurut Vicky Prasetyo” atau “3 tips ini membuat saya kurus lebih cepat”? Walaupun sebenarnya kita tahu bahwa setiap orang memiliki background & kemampuan mengambil keputusan yang berbeda? Tetap saja kita klik untuk sekedar tahu kan?

Jika kita kembali dari artikel di bawah:

Baca Lagi : Tidak Ada Cara Singkat Untuk Merubah Hidup Seseorang

Maka kita akan tahu bahwa, memang wajar untuk sinis, karena kemampuan kognitif kita yang begitu lemah ketika diharuskan memilih. Maka kita lebih memilih angka maksimum 5 ketika diharuskan melakukan pekerjaan dengan rentang waktu tertentu. Hal ini yang saya sangat pelajari di perusahaan startup tempat saya bekerja sekarang, di mana setiap hari akan ada orang yang menjerit minta pertolongan berkata mereka butuh dibantu dan sangat penting.

Kita suka ketika diberikan tanggung jawab yang sedikit, 3 hingga 5, dengan jelas dan spesifik. Ketimbang diberikan 100 tugas untuk dikerjakan dalam 1 tahun. Tidak ada yang akan pernah baca artikel “100 tips ini menjadikan kamu lebih awet muda”. Jadi agar konsisten dengan kata pengantar yang telah saya buat sebelumnya. Maka saya hanya memberikan 3 penjelasan mengapa dengan memiliki prioritas hidup kita yang berbelit akan jauh lebih mudah.

1. Batasan Untuk Berkata Iya atau Tidak

Jika kita memiliki batasan-batasan yang jelas. Memilih apapun jadi lebih mudah, terkait pekerjaan, hubungan sosial, pertemanan, dan apapun lainnya lah ya. Akan ada selalu yang berkata “lo kaku banget deh, harus seimbang juga kali kerja sama mainnya gimana” tapi ya, definisi seimbang kan subjektif sekali ya. Kalau dia bahagia karena lebih punya banyak waktu untuk keluarga, kenapa situ yang sewot.

Jadi memang ketika kita mulai memberanikan diri untuk menyusun prioritas, kita akan sadar betapa banyak energi yang kita selama ini buang-buang hanya untuk sekedar ada di kerumunan, ada di status sosial, ada di mana-mana. Satu-satunya yang gak ada adalah kesadaran kita sendiri, tau-tau udah capek aja.

Beranikan susun prioritas, pilih 3 elemen yang kalian sangat ingin raih dan jaga. Niscaya, ketika berhasil diraih, kebahagiaan bisa terjaga. Sesuai dengan quotes-quotes gombal, jangan sampai “we’re busy collecting stones while you lost a diamond“.

2. Memiliki sedikit tapi tercapai, lebih baik daripada banyak tapi tidak ada yang tercapai

Selama saya bekerja di startup, rasanya seperti menebang hutan, sambil mencari hewan buruan, sambil menanam padi, sambil juga membuat rumah perlindungan, dan sambil berusaha untuk membangun tim pemburu yang solid. Hingga saya ditegur bahwa mau sehebat apapun kita, mau sengerti apapun kita tentang konteks tiap divisi di dalam perusahaan, saya harus sadar bahwa saya tidak mencapai apapun kalau tidak fokus ke dalam 1-3 project setiap harinya.

Hingga hari demi hari, saya lebih jelas pencapaiannya. Dari hanya 1-2 selesai. Sekarang sudah lebih dari 20 inisiatif yang benar-benar secara fundamental menyelesaikan masalah.

Saya sangat percaya hal ini juga akan sama persis, ketika diterapkan di dalam kehidupan rumah tangga ataupun elemen lainnya. Merasa tidak mencapai apapun ketika semua orang berhasil mencapai sesuatu itu terasa sangat sakit di zaman meritocracy ini. Pilih 3 hal yang masuk akal untuk dicapai secara karir, finansial, relationship, hingga spiritual.

Dan saya juga ingat dulu bahwa, banyak di luar sana anak-anak cerdas yang ambisius terjebak dengan paradox of choices ini. Sehingga mereka malah frustrasi dan terdiam ketika diharuskan untuk memilih, dan malah memilih untuk mencoba semuanya secara serentak. Mereka berpikir bahwa mereka berbakat dan cerdas, mungkin secara kemampuan kognitif intelektual iya, namun saya percaya bahwa “jika gagal saja di satu pekerjaan belum pernah, apalagi berhasil”.

Prioritaskan, gagal, lalu coba lagi dengan cara yang berbeda.

3. Menyadari bahwa memang kita tidak bisa menyenangkan semua orang

Pada akhirnya untuk beberapa karakter manusia, sulit untuk mengerti kalimat ini, terutama saya; “Tidak akan mungkin seseorang bisa membuat semua orang senang, kecuali badut, bahkan gak semua anak kecil suka badut”. Semakin kita terseret dengan hal-hal receh seperti harus ada di sini sekedar untuk adat maupun kesopanan, apalagi karena sekedar tidak enakan, maka kita harus merelakan waktu-waktu kita yang sebenarnya lebih penting untuk digunakan ke hal-hal produktif.

Semakin kita ingin menyenangkan pak RT, kepala sekolah, office boy kantor, bos, temennya bos, kolega, anak buah, temennya anak buah, secara serentak. Maka semakin pula juga kita akan take it personal. Semakin kita merasa kita telah mengeluarkan begitu banyak effort untuk mereka. Sehingga seharusnya mereka berterima-kasih setiap kita melakukan satu inisiatif untuk masing-masing orang. Padahal nyatanya tidak harus begitu.

Jika memang kita baik sekedar baik yasudah. Namun jika kita menjawab iya ke semua orang hanya karena agar sekedar dilihat baik, mungkin siap-siap nanti akan sakit hati sendiri.

 

Mungkin itu saja dulu untuk artikelnya, setelah sekian lama berhenti menulis. Dan juga harus diingat “moderatisme adalah sebaik-baiknya jalan” jadi ketika ada pesan dari artikel ini, silahkan diolah melalui nalar dan digunakan pada saat yang tepat. Terima kasih telah membaca.