Pertanyaan Tanpa Jawaban

Pertanyaan Tanpa Jawaban

Mobil terus melaju dengan kencang di jalan tol, berkelok kanan-kiri menyalip truk besar yang bergerak lambat seperti siput, menguasai hampir semua lajur, seakan-akan jalan tol hanya milik mereka saja. Dengan gerak tangan yang luwes, aku mengganti persneling mobil dan membelokan setir. Bermanuver di jalanan ibu kota memang tidak bisa dibilang mudah. Macet, jalanan dengan kondisi yang buruk dan pengendara yang tidak patuh pada peraturan lalu lintas tidak bisa dipisahkan dengan Jakarta. Menurutku, siapapun yang mahir menyetir di Jakarta, dia bisa menyetir di belahan dunia manapun. Tapi tentu saja, dengan segala kekacauan yang membanjiri Jakarta setiap hari, aku menikmatinya bersama Honda Civic kesayanganku. Mobil yang selalu menemani keseharianku beberapa bulan kebelakang.

Sambil terus bermanuver, aku menambah kecepatan lalu membuka jendela sedikit dan  membakar rokok. Bara api menerangi kabin mobil yang gelap, seperti kunang-kunang yang menari pelan di udara. Dengan tangan kiri yang terselip rokok di antara jari, aku membuka asbak kecil. Tangan kanan dengan santai menggerakan setir, memindahkan mobil ke jalur tengah.

 

“Pelan-pelan aja kali, gue belom mau mati muda.”

 

Taka yang duduk di bangku penumpang tiba-tiba mengomel. Wajahnya pucat pasi, tangan kirinya memegang handle di atas pintu. Terlihat badannya sedikit gemetar dan matanya mencoba terus melihat ke arah depan dengan kepala yang sedikit menengok ke arahku. Sejujurnya, walau sudah lima tahun mengenalnya, aku baru sadar bahwa Taka paling takut dibawa mengebut dengan mobil.

 

“Kalau gak ngebut nanti telat jemput Stella, diamuk yang ada.”

“Telat gimana!? Ini aja masih dua jam sebelom dia mendarat. Yang ada kita bakal bengong di Bandara.” Taka protes dengan keras walaupun tetap gemetaran.

“Ya gapapa, kan bisa nongkrong dulu sambil liatin pesawat.”

“Alesan aja lo. Bilang aja lo kangen sama dia. Berapa lama lo gak ketemu?”

Terdiam sejenak, lalu aku membalas, “satu bulan.”

 

Yak, tertangkap basah. Memang tidak ada alasan selain bahwa aku sangat ingin bertemu dengan Stella. Aku dan Stella sudah berpacaran selama sepuluh bulan tetapi hari-hari di mana kami bertemu kurasa tidak ada setengahnya. Stella bekerja sebagai pramugari dan dengan jadwal terbang dia yang padat, sulit bagi kami berdua untuk bertemu. Saking sulitnya, beberapa kali aku putus asa dan berpikir bahwa hubungan ini tidak akan bisa berlanjut dengan baik. Tapi setiap akhirnya aku bisa bertemu dengan Stella, segala pikiran negatif hilang. Seperti badai yang tadinya menyelimuti pemandangan indah, akhirnya reda, memperlihatkan langit yang biru dan bersih, lanskap yang hijau, memantulkan cahaya matahari yang hangat. Sayangnya, siklus tersebut nantinya akan terulang kembali. Badai kembali datang, menggelapi langit cerah yang hanya berlangsung sebentar saja.

Aku mengenal Stella kira-kira satu setengah tahun yang lalu. Saat itu aku sedang berada di bandara Changi, Singapura, bersiap-siap untuk pulang ke Jakarta setelah perjalanan bisnis yang melelahkan selama tiga hari. Seperti biasa, setelah aku menyelesaikan proses check-in, aku langsung menuju imigrasi karena tak suka membuang waktu di luar. Setelah itu, aku selalu pergi ke toko duty free, biasanya untuk membeli titipan seperti rokok, minuman alkohol sampai coklat yang tidak ada di Jakarta. Bila sudah selesai, aku akan segera bergerak ke boarding room dan menunggu sampai gate dibuka. Aku tidak suka datang mepet-mepet, toh juga di boarding room aku bisa membuka laptop dan melanjutkan pekerjaan yang tertinggal.

Tapi hari ini berbeda, kali ini aku harus pergi ke toko parfum karena adik perempuanku minggu depan akan berulang tahun yang ke 25. Saat itu aku berpikir memberikan hadiah parfum cukup oke, tidak murahan dan mudah untuk dibeli. Sayangnya, bagian terakhir tidak semudah yang kubayangkan. Sesampainya di toko parfum, aku hanya bisa kebingungan melihat berbagai macam jenis, harga dan juga tentu aromanya. Aku berjalan menelusuri rak-rak yang begitu banyak, seperti tersesat di labirin tanpa pintu keluar. Setiap melewati merk parfum yang aku kenal, aku berhenti dan mencoba mencium baunya. Sudah 10 jenis parfum aku coba tapi aku masih belum bisa menentukan mana yang harus aku beli.

Sudah 15 menit aku berputar-putar di dalam toko, suara roda koper kesayanganku yang berwarna biru gelap mengikuti langkahku melewati berbagai macam aroma dari yang terasa manis sampai maskulin. Karena aku terus melihat ke arah rak parfum, tanpa sadar aku menabrak seorang wanita. Dengan sigap aku langsung menegakan badan dan menunduk kecil meminta maaf. Setelah itu aku menengok ke depan dan terlihat seorang gadis yang sangat cantik, berdiri di depanku. Rambutnya disanggul rapi, pakaian seragamnya yang berwarna biru muda, pas di badan sehingga terlihat elegan. Senyumnya yang lebar dan manis membalas ucapan maafku yang terbata-bata, bukan karena kaget menabrak, tapi kaget melihat sosoknya.

 

“Mobil-mobil-mobil!! ARGGHHH.” Taka tiba-tiba berteriak kencang mengagetkan.

 

Tersadar dari lamunan, aku langsung membanting setir, menghindari dan langsung menyalip Toyota Camry yang berjalan pelan di lajur tengah. Malam ini reaksi Taka terasa sangat meluap. Cukup untuk mendapatkan posisi di nominasi Academy Awards.

 

“Anjir lah gue kira bakal mati.” Taka berkata dengan nafas yang terengah-engah.

“Nggaklah, gue udah liat kok tadi, malah teriakan lo yang bikin panik.” Ujarku bohong agar Taka tidak panik.

 

Sesaat tadi, pandangan mataku kosong, hanya ada memori lampau sebuah pertemuan, mengaburkan jalanan yang hanya tersinarkan sedikit cahaya lampu jalanan. Jalan tol yang panjang di depan mata terkabutkan memori tentang seorang perempuan yang walaupun tidak sering menghabiskan waktu bersamanya, aku sangat menyayanginya. Lalu terlintas di pikiranku bahwa bila tadi aku telat bereaksi dan terjadi kecelakaan, maka momen terakhir sebelum mati, aku memikirkan Stella. Kupikir hal itu sungguh menyenangkan dan tidak terasa menyakitkan sama sekali.

Aku menjadi penasaran, apakah benar tidak akan terasa menyakitkan bila kita mati di saat kita sedang berbahagia dan tenang? Alih-alih menghadapi kematian seperti sosok yang menakutkan, hitam besar penuh dengan merah darah dan amarah, kematian akan menyambut kita seperti teman yang sudah lama tidak bertemu, dan kali ini ia akan memenuhi janjinya, membawa kita ke sebuah tempat yang lebih baik daripada dunia fana.

 

Terus dihantui pemikiran tersebut, aku bertanya pada Taka,

“Lo pernah mikir gak sih, apa rasanya ya kalau kita mati?” Ujarku memecah keheningan.

“Hah? Apaan deh, kok lo nanya aneh-aneh kayak gitu?”

“Ya gue kepikiran aja, kalau kita mati, rasanya kayak apa ya, menyakitkan atau kita gak akan ngerasa apapun, tau-tau udah mati aja. Terus apakah kita bakalan jadi roh yang ngambang-ngambang di udara atau menjadi reinkarnasi di masa depan atau ya…. Ilang aja, gak berbekas di dunia.”

Sambil memacu mobil semakin cepat, aku terus berpikir. Kalau tiba-tiba aku mati sekarang, apa yang akan aku rasakan setelah itu ya?  Berapa banyak teman yang akan datang ke pemakaman? Apakah Stella akan sedih dan menangis tanpa henti berhari-hari, berkabung dalam waktu yang panjang atau dia akan cepat untuk melupakan keberadaanku, dan tak lama kembali menjalin hubungan dengan pria beruntung lainnya dan kembali bahagia?

 

“Pertanyaan lo itu gue rasa salah satu pertanyaan tersulit di dunia.” Taka menjawab dengan serius walau tetap dengan posisi tangan terangkat memegang handle. Gabungan ekspresi serius dan posisi ketakutannya sungguh unik, seperti akan berpose untuk karya seni yang absurd.

 

“Lo mau berteori kayak apapun juga, buat tahu jawabannya ya lo harus mati dulu. Kalau nggak, gimana kita bisa tau.

“Ah, seandainya kita bisa nanya ke orang yang sudah mati, bagaimana pengalaman dia. Apa yang dirasakannya. Apakah menyakitkan atau jangan-jangan melegakan.”

“Melegakan?” Taka mengernyitkan dahi, seperti dosen yang baru saja mendengar pendapat terbodoh yang pernah ia dengar dalam hidupnya

“Iya, mungkin bagi mereka yang mengalami kematian, pada dasarnya mereka mendapat kelegaan bahwa segala masalah yang mereka hadapi selesai sudah. Gak ada beban lagi.”

“Tapi apakah mereka akan merasa lega kalau mereka tahu keluarga dan orang-orang terdekat mereka meratapi kematian mereka?”

“Well, kita gak tahu kan apakah mereka bisa tahu kondisi di dunia ini setelah kematian.”

“Exactly! Kembali lagi ke pendapat pertama gue. Kita gak akan tahu tanpa kita merasakan sendiri. Pertanyaan lo itu adalah pertanyaan yang gak akan bisa terjawab. Coba, ada berapa banyak sih orang yang pernah pergi ke kematian terus kembali lagi buat menceritakan?”

 

Aku terus melihat kearah jalan yang lurus tanpa ujung memikirkan jawaban dari Taka. Entah kenapa, semua pertanyaan yang pernah kupikirkan seumur hidupku, hilang dan hanya ada satu pertanyaan besar soal kematian tersebut di kepalaku. Rasa penasaran benar-benar menganggu, seperti rasa gatal di punggung yang tidak akan hilang karena tangan kita tidak akan bisa menggapainya.

 

Sambil terus menyetir, kali ini dengan kecepatan normal, aku akhirnya bersuara,

“Lo mau coba gak?”

“Coba apa?”

“Ya.. mati, sama gue, berdua.”

 

Taka terdiam, tak ada suaranya. Di dalam mobil yang tadinya berisik akan suara mesin dan obrolan antara dua pemuda, menjadi hening seperti ruang hampa yang baru saja tervakum udaranya. Hanya ada cahaya kendaraan dan lampu gedung yang menari dengan cepat di sekeliling.

Aku menengok melihat Taka yang masih terdiam, kali ini posisinya tenang, tak lagi kaku. Ia melemaskan badannya pada jok mobil, lalu membuka jendela. Tangan kanannya memegang rokok lalu tangan kirinya menyalakan korek, nyala api menerangi mobil di malam hari yang, terang yang sejenak, dan gelap yang kembali menyelimuti.

Dengan kepala yang terus menengok ke arah Taka, tanganku terus memegang setir dengan erat, seperti pria yang tak mau melepaskan kekasihnya yang akan pergi meninggalkannya. Kaki kanan terus menginjak pedal gas, semakin dalam, seharusnya raungan mesin terdengar semakin keras, tapi aku tak mendengar apa-apa.

Dan di kepalaku saat ini hanya ada Stella dan wajahnya yang tersenyum bahagia, entah karena apa. Ah sudahlah, yang penting dia terlihat bahagia.