Ikut-Ikutan

Ikut-Ikutan

Akhir-akhir ini saya sering pergi ke suatu tempat sendirian, untuk sekedar duduk-duduk dan mengamati kegiatan orang-orang di sekeliling saya. Setelah beberapa kali, saya menemukan suatu kesamaan dari konsep pergaulan mereka. Oke, ini bukan untuk memberikan penilaian sepihak bahwa pergaulan saat ini adalah seperti itu, ini hanya sebagian yang saya amati.

Suatu hari di akhir minggu, saya duduk bersebelahan dengan sekelompok remaja (iya, saya sudah tidak remaja) yang lagi asyik ngobrol, di sebuah coffee shop. Pembicaraan mereka terdengar seru sekali, saya yang tadinya nggak punya niat apa-apa malah jadi penasaran dan akhirnya keterusan nguping secara tidak sengaja. Tema pembicaraan mereka kali itu adalah tentang lari. Ya, lari memang salah satu olahraga yang sedang digemari oleh muda-mudi, dan untuk ikutan lari tidak perlu repot-repot. Cuma perlu niat.

Dan sepatu lari yang super kece.

Awal pembicaraan, salah satu dari mereka baru saja ingin mencoba aktif lagi dalam berolah raga, dan terpikir olehnya untuk mulai lari pagi. Teman-temannya terlihat antusias menanggapi dan langsung mengajaknya ikut lari pada akhir minggu depan. Beberapa orang lainnya yang nggak pernah lari pagi, ternyata juga “menceburkan diri”untuk ikutan juga.

Saya melihat pada kelompok ini karena mayoritas dari mereka memang melakukan aktivitas lari pagi, maka sebagian dari mereka yang tidak lari pagi merasa “harus” ikutan juga.

Bentuk perilaku yang terinternalisasi ini adalah bagian dari apa yang kita sebut dengan pembelajaran sosial. Dimulai pada usia yang sangat dini, ketika kita melihat anggota kelompok kita membentuk melakukan sebuah tugas, otak kita secara harfiah memberikan “hadiah” berupa rasa penerimaan untuk mengikuti jejak mereka.

Ketika sebagian dari mereka yang nggak pernah lari melihat teman-temannya antusias merencanakan kegiatan lari pagi bersama, mereka merasa seperti perlu bergabung dengan yang lainnya, kalau tidak mereka seperti berada di luar lingkaran. Begitu mereka memutuskan untuk melakukannya, mereka merasa jauh lebih nyaman.

Konformitas adalah bagaimana kita menjadi disosialisasikan, tetapi itu juga dapat menyebabkan kita mengembangkan kebiasaan buruk. Terkadang kita tidak menyadari betapa mudahnya konformitas mempengaruhi cara kita bertindak. Setidaknya dalam hal lari pagi tadi, apa yang terjadi adalah hal yang positif. Lari pagi, berolahraga, badan jadi sehat. Semua orang sehat, semua orang senang.

Hal lainnya yang saya amati adalah ketika pada hari lainnya saya melihat adanya praktek-praktek PDKT yang terjadi di meja seberang. Cowok ini bersama teman ceweknya, atau ya sebut saja gebetannya, kelihatannya mereka belum lama bertemu.

Si cewek ini sepertinya menyukai hal-hal yang berhubungan dan seni. Dia bercerita kalau telah mengunjungi beberapa pameran seni baik di dalam maupun di luar negeri. Si cowok menggangguk-angguk sambil terus mendengarkan sampai cerita si cewek selesai. Setelah selesai, dengan cepat si cowok bereaksi dan berkata kepada si cewek bahwa dia juga pernah mengunjungi pameran seni, salah satunya pameran seni yang menampilkan karya-karya dari Yayoi Kusama.

Kemudian si cewek langsung bertanya, karya yang manakah yang si cowok suka, dan alasannya kenapa. Lalu si cowok ini bingung mau bicara apa, sepertinya dia nggak ingat (atau nggak pernah melihat) beberapa dari karya-karya yang ditampilkan itu. Si cewek terlihat merasa kurang yakin, dan menanyakan sebuah pertanyaan yang tepat sasaran.

“Kamu beneran udah pernah ke pamerannya apa belum sih?”

Sampai di situ, saya kembali berpikir. Kenapa harus ikut-ikutan? Kenapa harus ada kesamaan yang dipaksakan? Apakah berbeda itu selalu buruk?

Mungkin bisa jadi pengingat untuk saya sendiri dan teman-teman yang membaca tulisan ini, apakah kita harus “menyetarakan diri” dan menghilangkan perbedaan agar dihargai? Atau justru kita yang sulit menerima perbedaan sampai-sampai orang lain harus “menyetarakan diri” agar dihargai?

Kopinya habis, saya pesan dulu satu cangkir lagi.