Doa Revisi

Doa Revisi

Seseorang pasti pernah meragu, tiba-tiba pucat pasi di tengah hari, tiba-tiba semua orang terlihat lebih tahu lebih benar, sementara kita seolah hanya disisakan remah-remah dari pencapaian mereka, dan hilang akal, dan sejak hari itu. Hidup sekedar arus waktu yang deras yang menenggelamkan, dan kita menjadi figuran dalam cerita kita sehari-hari, setiap selang 1 minggu kita merevisi doa-doa kecil kita, semakin lama doanya semakin tidak karuan.

Manusia itu layaknya pohon, di usia sangat muda berkutat tentang akar fondasi, kemudian usia menengah masih bercerita tentang fisik dan bagaimana caranya untuk tinggi menjulang, dan ketika ia mencapai usianya, ia akan berbuah dengan sendirinya. Pohon pinus tidak lebih baik daripada pohon mangga, mereka memiliki keutamaannya masing-masing, ada yang dimanfaatkan dari batang, akar, buah, bunga, dan segala macamnya. Kita seringkali bicara manusia yang utama adalah seperti tuan seperti ini dan nyonya seperti itu, namun bagaimana bisa membandingkan kebaikan dari kelapa dengan apel?

Manusia cenderung lebih sering membandingkan sebelum mengukur dan mengenal dirinya sendiri. Padahal mengukur dan mengenali diri sendiri itu bukan membatasi relung mimpi. Alangkah baiknya jika di sisa-sisa malam yang panjang, kita mencoba mematikan lampu dan menjauhkan diri dari benda-benda yang menuntut kehadiran kita terus menerus. Lalu bertanya, saya ini siapa, saya ini lahir di mana, umur saya berapa, lahir di keluarga seperti apa, hingga teringat asal muasal kenapa segala hiruk pikuk yang ada itu begitu mengganggu. Karena ketika seseorang sadar bahwa ia adalah tanaman lidah buaya, ia tidak perlu bersedih atas duri-duri yang ada di tubuhnya, ia tidak iri kepada sang mawar yang sedang memamerkan kelopaknya. Ukurlah diri, perlahan kita kian sadar keterbatasan itu selalu disambut dengan kelebihan.

Jika sudah mengenal diri, maka selanjutnya kita harus mempercayai peran. Akan banyak metafora hingga contoh nyata yang akan dijejalkan di depan kedua mata tentang pentingnya untuk mempercayai peran, namun ketika kita sudah tidak percaya, maka peran yang agung pun bisa dibuang. Betapa banyak manusia yang matanya berbinar berbahagia dengan pekerjaan yang terlihat sepele di mata orang banyak, dan betapa banyak manusia yang frustrasi hingga merusak dirinya meskipun dihiasi dengan pekerjaan yang begitu mulia. Jawabannya ialah banyak yang tidak percaya. Tidak percaya bahwa perannya adalah sebaik-baiknya peran yang dianugerahkan padanya, tambah lagi dengan membandingkan diri dengan semut di ujung pulau yang terlihat bahagia dari kejauhan tanpa mengukur dirinya itu siapa, sudah saja, terpelintir hatinya setiap melihat orang lain senang, dan tidak sabar hati untuk membicarakan masalah orang lain ketika orang lain tertimpa masalah.

Lalu setelah berhasil dengan itu semua, kita akan bersenandung

Tidaklah lebih mulia sang tuan yang di singgasana, dan tidaklah lebih merugi mereka yang hidup dalam nestapa.
Kemegahan dan kemewahan bukan tepian tempat berlabuh, kesulitan dan kehinaan tak buatku lusuh.
Toh aku percaya jika yang kutanam baik, doa yang kuucap berbisik, akan didengar.
Bukankah seorang budak bisa lebih merdeka dari raja terkaya sekalipun, jika ia percaya ia bermakna di mata Penciptanya.
Dan karena itu jua Ia Maha Adil.

Source Featured Image : www.paulbondart.com