Mengenal Pembenaran atau Penyangkalan (Denial)

Mengenal Pembenaran atau Penyangkalan (Denial)

Saya yakin seseorang bisa menemukan solusi dari masalah hidupnya dengan berpikir, namun saya juga yakin seseorang bisa menemukan masalah hidupnya dari berpikir itu sendiri. Namun saya yakin bahwa;

Berpikir dengan benar itu sulit.

Betapa banyak orang di dunia ini terjebak akan kebiasaan buruk yang mereka buat sendiri, namun di satu sisi mereka terus melakukan pembelaan di hati kecilnya, sebut saja : kekerasan dalam rumah tangga, kecanduan narkoba, perselingkuhan, kemalasan yang berlebihan, menghindari tanggung jawab, dan begitu banyaknya masalah di luar sana. Mereka menolak fakta yang seharusnya diambil, lalu mereka ambil fakta-fakta di tempat lainnya kemudian mereka pelintir sedemikian rupa sehingga mereka terlindungi. Dan buruknya lagi, mereka yang melakukan pembenaran tersebut, mengira dirinya benar dengan informasi tersebut.

Betapa banyak juga manusia yang terjebak dengan keburukan mereka sendiri, namun bukannya mereka mencari cara melepas belenggu-belenggu rasa bersalah tersebut, mereka malah menuliskan puisi-puisi yang mengindahkan belenggu mereka agar mereka tertidur nyenyak setiap malam. Mereka bisa menghina secara objektif dengan gamblang cenderung vulgar ke seseorang, namun ketika seseorang melakukan kritik hingga menuntut secara objektif, mereka minta diperlakukan secara subjektif dan pengertian.

Source : http://mimiandeunice.com

Pembenaran : penyangkalan atau denial, singkatnya ialah penolakan terhadap suatu pernyataan dari bukti dan fakta. Dalam psikoanalisis milik Sigmund Freud, aktivitas tersebut merupakan cara melindungi diri dari suatu keadaan yang tidak menyenangkan, menolak dengan segala cara agar menyokong kenyamanannya secara psikologis, meskipun seluruh lingkungannya, fakta, dan informasi menyatakan hal yang sebaliknya [1].

Subjek perilaku ini bisa melakukan tiga hal di bawah ini. Berikut saya ambil contoh dengan perempuan yang berkali-kali dipukul oleh pacarnya.

Menolak kenyataan secara utuh
Seorang perempuan yang melakukan pembenaran akan berkata “ah memang di dalam pacaran akan ada cek cok seperti ini, hampir 30% orang di dunia mengalami ini kok, dia itu sayang sama saya, dia gak sengaja tadi”.

Mengecilkan masalah yang tampak di depannya
Kemudian mereka akan berkata “yaudah emang cewek itu harus lebih kuat dari pasangannya, jadi ketika cowoknya lagi bingung, kita harus bisa support, lagipula ini bukan apa-apa kok”.

Menyalahkan orang lain sebagai penyebabnya
Hingga suatu hari pacarnya kepergok melakukan kekerasan di depan umum hingga kakaknya bertanya dengan nada tinggi, lalu ia menjawab “dia gak salah kak, yang salah itu mamanya karena gak pernah ngelindungin dia waktu kecil, kita juga tau mama digituin sama papa, jadi ga usah berlebihan kayak gini”.

Hal ini bisa diaplikasikan untuk pelaku, korban, dan juga pecandu. Hal-hal tersebut akan semakin sulit diperbaiki, jika orang tersebut tidak mampu berinteraksi sosial dengan baik, karena dibutuhkan suatu komunikasi yang benar-benar utuh saat melakukan terapi, mereka bisa saja mengulang-ngulang kata yang diharuskan, namun ide yang mereka tanam bisa tumbuh menjalar kuat bagai akar, dan tidak ada lagi yang bisa menghilangkannya.

Source : http://www.abbeycarefoundation.com on denial & addiction

Namun mengapa banyak orang terjerumus di kebiasaan untuk menghiraukan fakta ini?

Seorang penulis bernama Daniel Kahneman yang juga seorang psikologis menjelaskan bahwa ada dua tipe cara berpikir di dalam alam pikiran kita. Yang pertama kita sebut Sistem 1, sistem ini mengutamakan pemikiran otomatis, cepat, secara tidak sadar, dan Sistem 2 yang bergerak dengan lambat, penuh analisa, dan sangat berhati-hati [2]. Banyak orang menyatakan dirinya sudah berpikir matang, berpikir dengan jelas, namun pilihan atau rangkuman informasi yang ia dapat bisa salah sama sekali. Ini karena suatu blindspot yang kita kenal sebagai cognitive bias. Di mana seseorang tidak bisa melakukan analisa kognitif karena terburu-buru, atau mengambil fakta sesuai keinginan mereka sendiri.

Singkatnya. Dengan kita secara percaya diri berkata, bahwa kita ini benar dengan jalan pikiran kita sendiri, menghiraukan kritik orang lain, mengambil kesimpulan dalam hitungan detik tanpa bertanya keaslian data yang dibaca, dan menghiraukan fakta (walaupun tidak populer) sebesar gajah di depan mata kita, maka kita secara perlahan menuju penjara diri kita sendiri.

Suatu anugerah memang memiliki akal, namun akal itu bisa begitu tajam menghunus ke lawan atau malah pemiliknya sendiri. Penulis berharap dengan tulisan ini kita bisa dengan jujur berkata ke diri kita bahwa beberapa perbuatan dan kebiasaan yang saya lakukan ke diri saya ataupun orang lain itu beberapa ada yang salah.

Meskipun akal bisa membohongi, kita juga harus percaya bahwa akal lah yang akan menyampaikan kita ke suatu pelabuhan yang indah dan nyaman. Ada kisah ketika Adam mau diturunkan dari surga, malaikat bertanya, aku ada 3 hal untukmu untuk kau bawa, namun kau hanya bisa pilih satu : akal, malu, atau agama (iman). Lalu Adam meminta akal saja. Saat akal diberi, malu dan agama pun turut terpaut dengannya tidak bisa terlepas, hingga terbawa saat ini manusia hidup [3].

Akhir-akhir ini saya sebagai penulis juga mulai sampai di mana saya sadar bahwa moral compass atau batasan moral yang diajarkan dari setiap agama merupakan suatu fakta yang dibutuhkan ketika seseorang (misal) mulai membunuh dengan pembenaran-pembenaran yang begitu relatif dari sudut pandang manapun. Dari ajaran Buddhist misalnya tentang untuk memulai delapan jalan kebenaran dibutuhkan pertama kali yakni perspektif yang benar [4].

Dengan segala sangkut paut dan pikiran saya yang semrawut, jika ada yang bertanya pada saya, lalu bagaimana saya menghindari delusi tentang saya yang paling benar?

Ya belajar saja menerima dan juga mengolah kenyataan, dan berpikir sepenuh hati dan bertanya dengan kritis “apa jangan-jangan saya yang salah selama ini?” sesering mungkin, niscaya kita sampai di tujuan yang sama.

Salam.

 

Source :

[1]  Freud, Sigmund (1925). “Die Verneinung”.
[2]  Kahneman, Daniel (2011). Thinking, fast and slow. London: Penguin Books
[3] Hamka (1967). Falsafah Hidup
[4] Majjhima Nikaya 44, Culavedalla Sutta

Featured Image : Napoleon Brousseau – The Denial State Painting https://www.saatchiart.com