Melodrama Pria Hampir Dewasa - Part 1

Melodrama Pria Hampir Dewasa - Part 1

Putih atau cokelat? Sudah 30 menit pertempuran sengit terjadi di dalam kepalaku. Pada hari yang cerah ini akhirnya aku tersadar betapa sulitnya memilih perabotan yang tepat. Banyak faktor yang menjadi perdebatan dalam mencapai keputusan akhir seperti bentuk, warna dan ukuran. Itu pun baru memilih meja, belum memilih rak buku, sofa dan perabotan lainnya.

Suara berisik restoran di IKEA ramai seakan tidak terasa di telinga. Bola daging dan pai apel dingin di depanku yang dibeli sejak 15 menit yang lalu pun belum tersentuh sama sekali. Hanya warna meja yang sedari tadi muncul di pikiran, berputar terus tanpa henti seperti bumi.

“Hei Jaya! Ya ampun, apa kabar?”

Butuh 5 detik sampai aku menengok ke belakang, dan 10 detik tambahan untuk otakku memproses apa yang sedang terjadi.

“Loh kok malah bengong? Lupa ya sama aku?”

Seketika, pertempuran warna perabotan di kepala terdorong oleh sebuah ingatan tentang seorang gadis yang sudah lama tidak kutemui.  Ingatan yang sudah terkubur sejak beberapa tahun silam, pelan-pelan bangkit, menyeruak dari kepala lalu menjalar ke sekujur tubuh. Tempat, waktu, suasana dan rasa yang tadinya sudah hilang terlupakan mendadak muncul kembali, terasa pada semua indera. Semua itu membuatku kembali ke lima tahun lalu, saat aku mengenal seorang gadis, jatuh cinta dan akhirnya kulupakan begitu saja.

Dan saat ini ia menepuk pundakku dari belakang.

“Mi-mi-minnie? Astaga, apa kabar?” Ujarku tergagap, menyadari siapa gadis tersebut.

“Kabar baik! udah berapa tahun ya sejak terakhir kita bertemu?”

“Gila, 3 tahun ada kali!”

“Iya benar. Sejak terakhir ngumpul di rumah Dennis, kita udah gak pernah ketemu lagi.” ujarnya dengan senyum lebar sambil terkikik.

Dia ingat pertemuan terakhir kita.

“Jadi kamu lagi ngapain di sini? Sendirian aja?”

“Iya lagi sendirian. Ini lagi milih meja buat aku taruh di kantor baruku.”

“Loh kamu udah nggak kerja di kantor yang dulu itu?”

“Nggak, aku udah pindah kerja. Kamu sendiri lagi apa di sini?”

Tanpa ragu dia meletakan kopi yang dia pegang ke meja lalu dengan antusias bercerita, “Aku biasanya suka kesini buat beli barang-barang printilan yang lucu, wa walaupun sebenernya gak butuh-butuh banget. Ya sekalian menikmati waktu sendiri aja sih. Terus-terus, kabar kamu sekarang gimana? Lagi sibuk apa aja?”

Perutku bergemuruh, telingku berdenging, mataku terkunci pada wajah Minnie. Bibirnya yang terus bergerak menceritakan sesuatu, matanya yang yang terlihat antusias tapi seperti ada kekosongan yang tak terbaca olehku.

“Jaya?” Suara Minnie menyadarkanku dan menarik kembali ke realia.

“Mmm, kamu lagi sibuk banget ya?” Terdengar nada sedih di suaranya.

“Nggak kok. Maaf tadi masih kepikiran soal kerjaan.”

“Terus-terus gimana? Kok kamu udah nggak kerja di tempat lama kamu itu, apa ya namanya? Hmmmm aku lupa.”

Ah, tempat kerja lamaku. tempat aku menghabiskan beberapa tahun indah yang sayangnya berakhir dengan tidak baik. Aku teringat masa-masa akhir bekerja di sana. Hampa, kosong, tak ada semangat. Semuanya habis tak tersisa, rusak dan jelas tak bisa diperbaiki. Seperti ada lubang raksasa yang tiba-tiba muncul di tengah jalan raya, menelan semua pengemudi yang berkendara di gelapnya  malam.

“Iya udah 5 bulan sejak aku resign dari record label itu, ya udah bosen aja sih jadi mau coba tempat lain dulu.” Ujarku menceritakan versi pendek yang biasa kuceritakan ke orang lain.

“Terus sekarang kamu kerja di mana?”.

“Hmm, aku sekarang ditarik gabung ke perusahaan baru punya temen aku. Digital Media gitu. Kerjanya sih enak, masih bisa dari rumah. Paling ke kantor seminggu 2 sampai 3 kali aja. Nah ini aku ke sini juga lagi nyari meja dan rak buat di kantor ”

“Waaaah, terus bikin apa aja? Eh tunggu sebentar.” Handphone Minnie tiba-tiba berdering. Minnie membuka tasnya jinjingnya yang berwarna hitam, mencari handphone yang tersembunyi ditumpukan barang miliknya.

“Ya halo?” Minnie mengangkat menjawab dengan suara ceria

Lagi-lagi aku tak bisa mencegah diriku untuk memperhatikan gerakannya. Gerak bibir mungilnya, matanya yang melihat kanan kiri saat ia berbicara di telfon, rambutnya yang pendek sebahu yang selalu menjadi hal yang sangat aku suka sejak dulu.

“Oke-oke, aku berangkat deh nih sekarang.” Lalu ia menutup handphone tanpa ekspresi. Tetapi nada suara terakhirnya tidak lagi ceria.

Setelah Minnie memasukan handphone ke dalam tas, aku tak bisa manahan rasa penasaran untuk bertanya, “Kenapa? Udah mesti pergi ya?”

Sejenak Minnie menatap ke jendela luar dengan tatapan kosong. Lalu ia berkata,

”Iya, sebenernya aku ada janji jam 6 sore nanti di kemang, tapi temenku nyuruh berangkat sekarang aja.”

Aku merasa sedikit kecewa karena menyadari pertemuan kita sudah usai. Dengan cepat aku menjawab, “Yaudah gih buruan. Mumpung masih jam 3, jalan tol masih sepi.”

“Oke deh, see you soon! Kapan-kapan kita lanjutin lagi ceritanya.”

Tanpa sempat aku membalas, dia dengan cepat sudah mengambil barangnya

dan berdiri meninggalkan aku duduk sendiri. Terlihat dia berlari kecil dan dengan lincahnya melewati banyak orang, menuju lobby untuk mencegat taksi.

Setelah Minnie hilang dari pandangan, Aku berpikira sejenak lalu akhirnya

menghela nafas dan berkata, “Bego deh. Harusnya gue anterin aja.”

 

*************************************************

“Woy angkat oncom! Jangan bengong aje.” Suara kencang Dennis langsung menyadarkan lamunan di tangga kantor.

Dennis adalah teman baikku dari sekolah. Dulu kami berdua tidak terpisahkan, kemanapun selalu pergi bersama. Sayangnya, kuliah  memisahkan kami karena Dennis berkuliah di Jogja. Walaupun begitu, beberapa tahun kemudian kami dipertemukan kembali saat Dennis mendapatkan pekerjaan di sebuah  media cetak yang bermarkas di Jakarta. Dennis pun mengajak aku bertemu dan kami pun jadi sering bertemu kembali.

“Wets, maaf-maaf. Tapi jangan teriak kenceng juga dong, suara lo bikin pusing.”

“Lagi Lo juga bengong aja lagi genting kayak gini. Yok angkat lagi, 1…2…3!” Teriak Dennis makin kencang.

Aku dan Dennis berdua mengangkat Rak buku yang belum dirakit ke lantai dua, melewati tangga sempit dan curam. Rak tersebut terasa sangat berat seperti mengangkat manusia yang baru saja memakan jatah ransum untuk tiga hari. Sampai-sampai muka Dennis menjadi merah, urat di jidat dan lengannya terlihat seperti binaragawan, walau potongan Dennis sebenarnya lebih mirip kuli bangunan.

“Mau rakit sekarang nih?”

“Besok ajalah pas udah rame. Di kantor tinggal kita doang gini.” Ujar Dennis dengan muka merah bercucuran keringat.
“Yaudah. Ngopi aja yuk di bawah.” Tanpa menunggu jawaban Dennis, aku langsung turun lagi ke dapur di lantai satu untuk membuat kopi.

Setiap pagi dan sore, aku memiliki rutinitas untuk meminum kopi. Aku selalu merasa pikiranku menjadi lebih jernih setiap kali aku meneguk cairan berwarna cokelat kehitaman tersebut. Aku juga selalu menawarkan diri untuk membuat kopi setiap sore kepada teman-teman. Walaupun pada akhirnya yang paling sering minta dibuatkan hanya Dennis.

Sambil menunggu air mendidih, pikiranku tak bisa dicegah untuk mengingat kembali pertemuan dengan Minnie tadi siang. Pikiran di kepalaku mengawang bebas pada memori akan Minnie. Bayangan akan pertemuan tadi siang pelan-pelan mulai berubah, menembus batas waktu, menempatkan diriku pada pertemuan pertama Aku dan Minnie.

Aku kembali pada Jakarta 3 tahun lalu. Hujan deras turun membasahi bumi, suara hujan sayup-sayup terdengar sampai dalam ruangan, bercampur dengan hiruk-pikuk suara manusia berbicara satu sama lain. Ada yang tertawa riang gembira, ada yang berbicara serius seakan tak ada lagi waktu esok dan juga ada yang menangis tersedih di pojokan. Malam yang hujan terasa dingin bagi semua orang saat itu. Tapi dalam memoriku, aku selalu merasakan kehangatan pada saat itu entah bagaimana.

“Halo, kenalkan! Minnie..”

Ujar wajah cantik di depanku.

“Salam kenal! Gue Jaya”

Malam itu adalah pertama kali aku diperkenalkan dengan Minnie oleh Dennis. Ekspresi malasku yang disebabkan penculikan paksa oleh Dennis pelan-pelan berubah. Semua yang terjadi di dunia ini tak lagi penting bagiku, semuanya lenyap dan hanya ada kami berdua.

“Punya gue gulanya 3 sendok ye!”

Suara lantang Dennis, sekali lagi membuyarkan lamunanku sore ini.

“Iye, gue hafal setelan kopi elo. Manis banget tuh sampe rasa kopinya ilang.”

“Lo tau gue kan? Mana doyan gue yang pait. Harus yang manis lah kayak muka gue gini”

Seketika, aku tidak lagi bernafsu meminum kopi.