Ketika Cahayamu Hilang

Ketika Cahayamu Hilang

Di tengah era di mana informasi selalu disodorkan di depan mata, di depan jidat, seolah kalau kita tidak diberikan informasi satu menit saja kita bakal meninggal; Kadang sangat wajar untuk merasa kehilangan arah.

Dan kehilangan arah itu akan terus menggulung dirinya sendiri, sampai suatu hari karena terlalu lama kehilangan arah, kita kehilangan jati diri, dan diri yang hanyut pun terus tergulung di tengah orang yang bercerita ini dan itu, merekomendasikan ini dan itu, memaksa ini dan itu, hingga akhirnya kita lupa nama kita siapa, dan tidak jarang berkata kecil seperti “segini banyaknya orang, kalau gua gak ada juga gapapa kali ya.”

Tulisan ini sebenarnya terinspirasi dari film Your Name (Kimi no Na Wa), karena filmnya begitu kreatif, penuh imajinasi dan twist, dan rasa yang paling saya rasakan sepanjang menonton film itu ialah, kok film ini naif sekali ya. Lalu saya berandai-andai ke diri saya, apakah beranjak dewasa telah menjadikan saya menjadi seseorang yang begitu pahitnya, sampai sepanjang nonton film tipikal drama membuat saya mengerenyitkan dahi saya (filmnya bagus banget by the way). Bagaimana bisa seseorang masih bisa percaya tentang cerita-cerita konyol ini? Saya bertanya-tanya dalam hati.

Note : Di paragraf selanjutnya, dianjurkan untuk menonton film Big Fish ataupun Life of Pi, karena saya akan menggunakan banyak referensi dari film tersebut.

 

“hidup tergantung dari cerita apa yang kamu ceritakan”

 

Lalu saya sadar, saya mulai menjadi kakek-kakek grumpy yang kerjaannya marah-marah di sepanjang perjalanan. Di perjalanan ke kantor, di perjalanan pulang, di saat saya bangun pagi, di saat saya pergi cari hiburan, cari makan, saya akan marah-marah, mengeluh, atas apapun yang ada di hadapan saya. Lalu tak lama setelah menonton film tersebut saya tiba-tiba bertemu dengan video yang menjelaskan bahwa “hidup tergantung dari cerita apa yang kamu ceritakan”.

Contoh simpelnya seperti ini. Coba sambil membaca artikel ini, saya akan beri tiga kata-kata, tolong kalian buat paragraf di dalam pikiran kalian ya.

  • Menyetir 3 jam ke kantor
  • Pas mundur nabrak
  • Dimarahin walaupun tidak salah

Hal yang umum. Seseorang bisa mengalami ini di satu hari berturut-turut. Namun ada dua cara menceritakannya. Saya akan coba tuliskan di bawah.

Ya ini gambarnya sudah diusahakan, mungkin bisa membantu imajinasi kalian; Source : pribadi

Telat lagi untuk kesekian kalinya, udah seminggu ini telat ke kantor, udah berangkat jam 6 tetap saja sampai kantor harus 3 jam, sejak ada pembangunan di mana-mana di Jakarta benar-benar sudah tidak sehat untuk ditinggali apalagi Gubernurnya sekarang ganti, jadi tambah parah gak jelas semua. Udah gitu hari ini saya sudah sempat email ke atasan bahwa bakal meeting jam 9 pagi dengan supplier, eh dia malah marah karena gak pernah koordinasi dan gak sms atau whatsapp dulu sebelumnya. Udah gitu, pas mau puter balik biasa deket rumah, gak biasanya kayak gini, eh nabrak tiang sampai retak bumper belakang mobil, pingin tebalikin mobil sekalian rasanya.

Atau.

Telat lagi ke kantor, tapi lumayan tadi jadi bisa sarapan di mobil sambil nyobain albumnya Wilco yang selama ini gak pernah didengerin, yang Impossible Germany versi livenya ngaco banget sih bagusnya. Ke kantor agak shock juga karena atasan sudah punya jadwal sendiri padahal sudah arrange jadwal dengan supplier satu minggu lalu, tapi ya meetingnya bisa ditengahi dengan concall sih, tinggal nanti dirangkum aja key actionnya seperti apa. Dari tadi sore emang udah agak ngantuk sih, jadi pas balik ke rumah, jadi nabrak bumper belakang, untung aja pas udah deket, jadi pas mundur doang nabraknya, coba pas jalan di tol, bisa lebih parah pasti.

Kita sebagai manusia, pada umumnya pernah mengalami tiga hal tersebut di hari yang bersamaan. Yang diberikan bisa sama persis, namun cara kita menceritakan cerita tersebut bisa berbeda 180 derajat, yang satu bagai kakek-kakek yang hobinya marah atau dengan tenang dan bersahaja.

Akan ada di mana tragedi tidak bisa terelakkan dari seseorang. Sesuatu yang begitu sulit untuk diselesaikan dengan logika, dan kita akan terus berkata “saya pernah dosa apa sampai harus ngelewatin ini semua?” Dan jika kita terus menerus menggunakan akal dan logika kita untuk menyelesaikan hal itu, kita akan terjebak dalam rasa pahit bahwa hidup tidak adil dan kita hanya akan terus bekerja melakukan hal yang kita tidak suka, hingga akhirnya kita meninggal.

Di sini peran imajinasi dibutuhkan, kita hanya butuh mengarang cerita sedikit, tidak harus ekstrem seperti Life of Pi, cukup saja hias hal-hal yang sangat menusuk dan terasa pahit dengan hal-hal yang baik. Dan yakinkan diri dengan cerita bahwa setiap manusia ditakdirkan untuk menjadi seseorang yang bermanfaat bagi sekitarnya. Dan mimpi-mimpi ini yang kita ceritakan setiap hari ke diri kita yang akan menjadi penyelamat diri kita nanti, mencegah diri kita menjadi begitu realistis, begitu tandus dan kering dalam menghadapi peliknya kehidupan. Karena hal yang kita dapatkan bisa sama persis, namun ceritanya terserah kalian bukan?