Mengenal Emotional Abuse

Mengenal Emotional Abuse

Di negara ini, kesadaran tentang bahaya psikologis ataupun penyakit jiwa masih terbilang rendah, bahkan tabu untuk suatu strata tertentu. Namun kali ini saya akan mencicil tentang satu perilaku sehari-hari yang cenderung dipandang sebelah mata, yakni emotional abuse (pelecehan emosi).

Saya akan lebih sering menggunakan kata emotional abuse daripada pelecehan emosi karena terdengar aneh.

Mungkin ketika saya memberanikan diri untuk membicarakan hal ini, akan ada segelintir orang yang berkata “ya mulai deh, orang-orang lemah liberal progresif minta diperhatiin”, tapi sungguh, ini bukan soal micro-agression bagaimana lirikan mata saya bisa menyakiti orang lain, tapi bagaimana cara membesarkan anak, memberikan konsep moral ke anak dengan pernyataan “masa kamu gak mau nyenengin orang tua sih?” merupakan konsep yang akan membuat anak-anak kehilangan jati dirinya sendiri.

Studi tentang emotional atau psychological abuse ini berkembang di tahun 1996 menjadi tiga kategori utama yakni: Verbal, Perilaku Dominan, dan Perilaku Cemburu [1]. Contoh dari perilaku ini dapat saya jelaskan di cerita-cerita di bawah ini.

Sebut saja Ridwan seorang anak yang tumbuh di dysfunctional family di mana kedua orang tuanya masih bersama, namun ayahnya hanya pulang sebulan sekali hanya untuk mengambil barang-barang yang diperlukan dan meminta uang bulanan dari istrinya yang seorang PNS sebelum akhirnya ia pergi lagi. Ridwan merupakan anak tengah, di mana kakaknya sudah bekerja dan meninggalkan rumah sejak lama, banyak keputusan Ridwan yang dipengaruhi oleh ibunya, bukan karena Ridwan anak yang saleh. Tapi ibunya selalu berteriak-teriak ketika Ridwan tidak mengikuti keinginan ibunya, seperti jurusan kuliah, pekerjaan, sambil berkata “nanti kamu mau jadi kayak bapak kamu yang gak jelas hidupnya gitu?” Akhirnya ibu dari Ridwan meninggal, dan karena sudah 24 tahun hidup berusaha menyenangkan ibunya tanpa memperhatikan perasaannya sendiri, Ridwan tumbuh menjadi pria under-achiever, menganggur, karena kebingungan mengambil keputusan penting di hidupnya. Ia terus berganti-ganti pasangan karena ia ingin terus menyenangi pasangannya secara berlebihan, sering diperlakukan semena-mena oleh pasangannya, dan sepanjang hidupnya ia merasakan kebingungan yang mendalam tanpa mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Source: pinterest.com

Sekarang saya perkenalkan dengan Shinta yang pacaran dengan seorang pria yang lebih tua 5 tahun darinya. Sejak tahun pertama pacaran, (sebut saja) Anton mulai melarang-larang Shinta untuk berpakaian yang terbuka walaupun hanya kaos polos biasa, dan berlarut-larut hingga Shinta tidak boleh pergi dengan teman-teman kerjanya karena alasan takut dikenalin ke temen cowok yang lain. Shinta tidak memahami apa hal tersebut normal atau tidak, karena Shinta menyayangi Anton, ia pun menuruti Anton walaupun kadang ia bosan harus mendekam di rumah. Dan setiap Shinta ingin bertemu dengan teman-temannya akan terjadi pertengkaran hebat, ancam mengancam hingga bahwa Anton akan mengakhiri hubungannya jika Shinta memaksa. Anton memang gak bener nih pemirsa.

Dari dua cerita di atas kita dapat melihat bahwa perilaku di atas bukan hanya menjadikan seseorang terkurung di penjara mentalnya sendiri, namun juga mereka akan terjerumus di dalam cycle relationship yang tidak sehat dan membahayakan. Masa kecil yang terlalu menuntut anak untuk membahagiakan orang tuanya, ataupun ancaman-ancaman emosional dari pasangan, akan melahirkan manusia yang menciptakan codependency relationship, yakni gangguan relationship ataupun hubungan interpersonal yang ditandai dengan kesulitan untuk berkomunikasi secara intim dengan seseorang, ketergantungan yang berlebihan, control-freak, kehilangan kemampuan berkomunikasi dan batasan-batasan perilaku sehari-hari, dan perilaku reaktif yang berlebihan; Hubungan ini memberikan batasan-batasan yang salah, misal: pasangan akan memberikan support terhadap pasangan atas ketergantungan obat terlarang, melakukan pembiaran terhadap gangguan mental, ketidakdewasaan, dan membiarkan pasangan untuk tidak berkegiatan sama sekali (under-achievement) [2].

Lalu bagaimana dok? Ustad? Bang?

Source: tes.com

Jawabannya mungkin hanya satu, jelaskan batasan privasi kalian, jelaskan betapa kalian benci diperlakukan seperti itu, jelaskan bahwa kalian tidak suka diinjak-injak bagai keset, jika hal tersebut tidak memungkinkan, pindah tempat tinggal kalau perlu. Mungkin saya membuat semua ini terdengar mudah, namun saya menemukan kalimat di internet “kadang mengapa kita lebih mudah menyelesaikan masalah orang lain daripada menyelesaikan masalah diri sendiri, karena kita berada di dalam toples selai, yang bisa melihat label rasa selai itu apa, adalah orang yang di luar, bukan yang berada di dalam toples”. Untuk terapi pengembalian jati diri bagi seseorang yang sudah terlalu lama dapat menggunakan terapi kognitif oleh psikolog profesional ataupun penjelasan secara mendalam bagaimana seseorang harus memiliki hak dan kewajiban yang jelas di dalam suatu keluarga [3].

Mulai hari ini ketika ada orang tua yang pasif agresif kepada anaknya, merendahkan, meremehkan seseorang tanpa memiliki bentuk kritik yang membangun sama sekali, ayo kita bantu peringatkan mereka bahwa mereka hanya akan memperburuk keadaan mental mereka, dan kita hanya akan melahirkan generasi-generasi yang tidak memiliki jati diri, bersembunyi dalam topeng-topeng kebingungan, dan terkait-kait benang-benang ekspektasi komunitas. Dan mulai hari ini juga, ayo ingat kapan kita terakhir kali mengancam-ngancam pasangan kita untuk putus hanya untuk menyampaikan suatu poin?

Belajar menghargai perasaan orang lain, dan yang terutama, belajar menghargai perasaan diri sendiri. Sudah cukup menyenangkan semua orangnya, saatnya berani untuk bilang tidak, demi kebaikan diri sendiri, dan demi generasi-generasi selanjutnya.

 

Sumber:

1. Thompson, Anne E.; Kaplan, Carole A. (February 1996). “Childhood emotional abuse”. The British Journal of Psychiatry. Royal College of Psychiatrists. 168 (2): 143–148. doi:10.1192/bjp.168.2.143. PMID 8837902
2. Lancer, Darlene (2014). Conquering Shame and Codependency: 8 Steps to Freeing the True You. Minnesota: Hazelden. pp. 63–65. ISBN 978-1-61649-533-6
3. Moos, R.H.; Finney, J.W.; Cronkite, R.C. (1990). Alcoholism Treatment: Context, Process and Outcome. New York: Oxford University Press. ISBN 0-19-504362-6.