Keterbatasan Kemampuan Untuk Berpikir

Keterbatasan Kemampuan Untuk Berpikir

“Ngapain kita belajar matematika? Kan udah ada kalkulator? Ga usah kuliah kali, Bill Gates aja gak lulus kuliah, cuman lulusan SMA.”

Jika kalimat tersebut sering terdengar di kuping kalian semasa SD, mungkin kalian sama seperti orang kebanyakan, seperti saya juga, sering mempertanyakan apa yang ada di dunia ini, apa benar kita butuh belajar matematika ketika semua jawaban bisa dijawab singkat dengan kalkulator? Mengapa kita harus kuliah, ketika orang paling kaya di dunia merupakan orang yang hanya lulusan SMA, bukankah kita seharusnya mengikuti jejak orang tersebut? Sudah jelas orang tersebut seharusnya menjadi role model hidup semua manusia di dunia ini bukan?

Beberapa bulan lalu, enam bulan tepatnya, saya baru menyelesaikan buku Daniel Kahneman berjudul “Thinking Fast and Slow” mungkin jika dibaca secara ringkas dan dirangkum, menunjukkan betapa manusia itu memiliki kelemahan dalam kemampuan berpikir logisnya. Seolah ia berpikir logis, dengan menyambungkan satu dan lain hal, namun kadang itu hanya jebakan yang disusun agar fakta bisa tercipta hanya dari serpihan-serpihan fakta yang disusun sesuai dengan keinginan penulis. Ironisnya lagi, para pembaca yang ingin tahu sangat sering melakukan cognitive bias untuk melakukan penelitian tentang pertanyaannya. Misal: “mengapa pengusaha lebih kaya daripada karyawan?”, mereka sudah mengambil kesimpulan yang parsial di dalam pertanyaannya.

Note: baca bukunya, walau berat, tapi itu membuat kita sedikit lebih rendah hati tentang betapa terbatasnya kita dalam menyusun analisa dan logika.

Tentu ini membutakan, terutama di era informasi di mana semua orang menciptakan paradigmanya sendiri sebelum melakukan pencarian-pencarian informasi, mereka akan cenderung mendengarkan semua yang mereka mau dengar dan mengacuhkan hal yang tidak sesuai dan cenderung membuang apa yang mereka harus dengar. Jadi bayangkan, atau mungkin kita bisa berhenti sejenak untuk berkata bahwa kebenaran itu relatif dan manusia itu tidak logis. Kombinasi yang sangat buruk bukan?

Manusia cenderung berkelit ketika harus dihadapkan dengan suatu pilihan ekstrem, yakni benar ataupun salah. Mereka akan menggunakan kata ‘etis’ ataupun ‘tidak etis’ ketika dihadapkan ke hal tersebut, misal untuk mendapatkan vaksin untuk penyakit Ebola, kita harus menggunakan sampel sebanyak 1000 orang, di mana vaksin tersebut 80% sudah berhasil diinjeksikan ke tikus dan hanya 20% dari mereka yang meninggal, untuk menyempurnakan vaksin, perlu 20% dari 1000 tersebut untuk melewati percobaan hidup ataupun mati. Seseorang yang memiliki jiwa perasa akan segera berkata “tidak etis, egois, tidak berperikemanusiaan, dan kata-kata hak asasi lainnya” namun jika kita lihat secara statistik, kita hanya perlu mengorbankan 200 orang untuk memberikan 7 milyar manusia hidup lebih baik, apakah kita perlu hak asasi?

Saya di sini bukan untuk membunuh milyaran orang di muka bumi ini. Namun hanya menekankan bahwa manusia akan tetap menjadi manusia yang memiliki perasaan, bahkan rela 1 milyar manusia di dunia ini lenyap, asal 1 orang yang ia sayangi bisa tetap hidup.

Jika kita kembali ke pertanyaan sebelumnya. Mengapa kita tidak berhenti saja hingga SMA? Mengapa kita harus belajar matematika ketika kalkulator sudah ada? Pertanyaan tersebut hanya relevan ketika kita bertanya sewaktu SD bukan? Ketika kita beranjak dewasa mungkin di usia 20an sudah mulai mengerti bahwa dunia ini banyak faktor yang harus dilihat, dan matematika membantu kita untuk menyusun kerangka berpikir yang konvergen (mengerucut menjadi satu jawaban). Sama halnya ketika saya mencari dan terus mencari tentang pertanyaan-pertanyaan hebat tentang hidup, jangan-jangan, pertanyaan yang saya tanyakan, jauh dari kapasitas dari kemampuan berpikir saya yang sekarang? Atau bahkan, dari kapasitas berpikir manusia?

Pertanyaan ini sudah muncul dari ribuan tahun lamanya, yang berhasil didokumentasikan mungkin tentang Socrates yang terus mempertanyakan apapun yang ia lihat, entah sebagai provokator atau dia hanya ingin membuat lelucon yang mengingatkan orang di zamannya untuk tidak menganggap hidup terlalu serius?

Permainan berpikir ini sebenarnya hanya akan menjadi lingkaran, dan para pemikir akan terus hanyut tanpa jawaban yang benar-benar signifikan bagi umat manusia. Salah satu pemikir di golden-age islam yakni Al-Ghazali yang tadinya merupakan filsuf ulung pun terhantam dengan kenyataan dalam pengembaraannya mencari definisi spiritual melalui akal dan pikiran menuntunnya dalam lapar, haus, dan kebingungan yang memberikan ia harapan yang pupus, hingga akhirnya ia menemukan jawabannya yang cenderung konyol jika saya rangkum hanya dalam satu kalimat, yakni “siapa kita untuk mengetahui semua, mengetahui semua rahasia yang ada di dunia ini?”

Perumpamaan yang digunakan untuk menjelaskan saat itu ialah “dibandingkan dengan dua hal, mengetahui definisi sehat, atau menjadi sehat, mana yang lebih berguna?” Tentu dari pertanyaan tersebut kita menuju ke pengertian bahwa, berpikir atau berfilosofi secara berlebihan hampir tidak ada hubungannya dengan ‘menjadi’. Yakni ketika seseorang mengerti apa yang disebut dengan bahagia, senang, ataupun cinta, tidak ada hubungannya sama sekali untuk merasakan dan mengalami hal-hal tersebut.

Contoh lebih mudahnya lagi, hafal dan mengerti semua pemain bola di liga inggris tidak menjadikan seseorang layak bermain di liga inggris, bukan?

Tentu paragraf yang saya susun ini lebih ditujukan bukan lain ya ke saya sendiri, karena saya suka berargumen dengan diri saya sendiri, tentang definisi sesuatu, memberikan ruang untuk logika untuk mengisi hal-hal yang tidak bisa saya mengerti di hidup ini, saya pun jadi menggunakan satu saja dari banyak kemampuan yang ada di manusia, yakni berpikir. Saya melebih-lebihkan kemampuan tersebut, seolah saya bisa menyelesaikan semua masalah yang ada dan yang akan ada di hidup saya hanya dengan berpikir dan melaksanakan apa yang ada di pikiran saya.

Namun nyatanya, umur saya mungkin hanya 60 tahun, bisa lebih bisa kurang. Betapa terbatasnya waktu saya jika saya harus memikirkan semua masalah yang ada di dunia ini, dan ini juga membuat saya sadar bahwa saya memiliki kelemahan dengan menggunakan satu-satunya kemampuan tersebut, yakni ketika saya dihadapkan dengan sesuatu hal yang di luar kendali saya. Misal : krisis ekonomi, perceraian, dan hal buruk lainnya. Ketika saya tidak bisa sama sekali mencegah hal tersebut, dan hal itu terjadi tanpa permisi. Saya membutuhkan iman.

Untuk mempercayai bahwa “yang baik menurutku, belum tentu baik menurut Nya, dan yang buruk menurutku, belum tentu buruk menurut Nya”, setiap saya dihadapkan dengan masalah-masalah besar, saya yang akan terus ngedumel kepada Tuhan akan perlahan-lahan mengingatkan bahwa, mungkin saya hanya anak SD yang terus protes kepada gurunya kenapa harus belajar matematika ketika ada kalkulator. Saya membuang tenaga, di mana seharusnya saya fokus bekerja dan berdoa.