Rutin yang Sering Diremehkan

Rutin yang Sering Diremehkan

Sedikit-sedikit, lama lama jadi bukit.

Jika mengingat salah satu kalimat yang dikutip dari peribahasa sekolah dasar, kadang kita cenderung meremehkan karena betapa mudahnya hal tersebut untuk dikatakan, tidak terdengar cerdas, bahkan terdengar seperti isi ceramah orang yang tidak berpendidikan. Jika kita kupas lebih dalam ternyata bisa jauh lebih bermakna dari apa yang kita pandang; Di era yang penuh informasi, semua orang berlomba-lomba untuk menuliskan cara singkat untuk melakukan sesuatu, tidak hanya di sisi keuangan, bahkan masalah karir dan keluarga dijanjikan mampu selesai dalam hitungan minggu.

Seolah setelah melaksanakan 10 tips yang diberikan sesuatu buku, akan tampak cahaya terang jatuh dari langit, dan akan datang malaikat-malaikat terbang dengan spanduk “Selamat, anda telah sukses dalam hidup, dan ini semua setelah selesai”. Padahal hidup akan terus bergulir, rutinitas akan terus menghampiri meskipun seseorang telah menyatakan dirinya sudah berhasil mendapatkan harta, tahta, dan wanita. Banyak yang tergila-gila dengan ide mencapai sesuatu tujuan, tanpa membentuk suatu fondasi yang baik terlebih dahulu. Fondasi rutinitas, hal-hal yang kecil, yang selalu diremehkan.

Mungkin sebenarnya manusia hanya ingin menjadi utuh, merasa lengkap dengan dirinya dan sekitarnya. Manusia sendiri terdiri dari beberapa bagian dengan kebutuhan yang berbeda-beda, beberapa orang memiliki gaya tersendiri untuk memilahnya, namun saya sebagai penulis membagi bagian tersebut menjadi empat: fisik, kognitif, emosi, spiritual (FKES). Fisik sebagai penopang, kognitif sebagai pembuat keputusan yang rasional, emosi sebagai penjaga hubungan dengan manusia lainnya, dan spiritual sebagai pemberi rasa tenang dan lengkap. Seseorang bisa hidup hanya dengan dua hingga tiga bagian, dan masih merasa baik-baik saja. Namun untuk menjadi utuh, penulis merasa manusia harus pandai-pandai melatih ke empatnya.

Meskipun terdengar seperti bagian yang benar-benar berbeda, keempat bagian tersebut memiliki kemiripan satu dengan lainnya, yakni harus dipelihara secara rutin.

Kita tidak pernah mendengar ada pria yang bercerita “Ah iya saya tiga tahun lalu olahraga kok, cukup lah harusnya, atau bercerita ya dulu waktu SMA saya sering jogging, jadi saya sekarang umur 30an gak usah mikir olahraga lagi”. Sayangnya, bagian-bagian FKES tersebut tidak bisa ditabung, lalu didiamkan maka akan berbunga suatu hari, atau jika ditabung, dapat diambil kembali suatu hari. FKES memiliki dosis-dosis tersendiri berapa kali mereka harus dilatih selama seminggu.

“Ah, ini mah gak bikin saya kaya. Ah ini mah cuman gaya hidup sehat aja, ini mah semua orang tahu.”

Bayangkan saja jika orang benar-benar memperhatikan FKES-nya setiap hari, mereka akan benar-benar memperhatikan apa yang akan menjadi konsumsi untuk bagian tersebut. Misal untuk fisik, mereka akan menjaga makanannya agar tetap sehat dan akan terus berolahraga agar fit. Lalu untuk kognitif, mereka akan terus membaca buku agar memperluas perspektif mereka, dengan buku genre yang berbeda-beda, agar mereka dapat melihat masalah dari sisi yang berbeda juga. Untuk emosi, mereka akan mengurangi bertemu dengan teman-teman yang negatif, mereka akan berlatih untuk memuji seseorang, mereka akan berlatih untuk menghargai orang-orang yang mereka temui setiap harinya. Dan untuk spiritual, mereka akan berdoa dan bersyukur setiap harinya atas apa yang telah diberikan Yang Maha Kuasa.

Bayangkan orang yang melakukan hal di atas selama 365 hari, selama 15-30 tahun. Apakah mungkin orang tersebut menjadi sampah masyarakat?

compoundinterest
sumber : thecalculatorsite.com

Mungkin kita meremehkan bahwa seperti grafik di atas, tentang betapa pentingnya mencicil. Jika kita terus mencicil yang baik-baik di dalam hidup, maka kita tidak perlu terlalu banyak berusaha di kemudian harinya. Namun sayangnya cerita tentang menyicil kebaikan ini tidak pernah terdengar baik di mata manusia lain, karena ini terdengar begitu membosankan. Mereka lebih senang mendengarkan cerita seperti “seorang pria tidak lulus SMA, terjerumus narkoba, lalu menemukan inspirasi untuk kembali, dan menjadi biliuner di usia muda.” Bukannya saya tidak suka cerita tentang underdog, namun hanya karena suatu cerita terdengar penuh mukjizat, bukan berarti kita semua harus melalui cara tersebut.

Semuanya cenderung sama tentang hidup. Semua itu datang satu per satu, kita belajar dengan pengalaman, kita belajar untuk mengenal satu sama lain. Tabung dan latihlah semua komponen yang ada di diri kita, niscaya bahkan meskipun kita sukses teramat sangat di suatu hari nanti, kita tidak terjerumus dengan godaan sesaat, karena fondasi kita dibangun sedikit sedikit, dan sekarang fondasi kita sebesar bukit.

Sumber foto preview : neikoart.com

2 Responses
  1. Ranaa ini bagus bgt. Setuju dengan semua poin di atas, gw pun punya pemikiran yang kurang lebih sama dan lo bisa menuangkannya ke dalam tulisan dengan lugas dan gampang dicerna (Y)

    1. Thanks Tika! Mudah2an bisa bantu menjelaskan isi pikiran lo ke orang lain jg ya. Lo gamau ikutan nulis juga?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *