Tidak ada cara singkat untuk merubah hidup seseorang

Tidak ada cara singkat untuk merubah hidup seseorang

Mengapa kalian harus mempertanyakan artikel psikologi atau acara motivasi singkat yang menawarkan quick fix di hidup kalian?

Informasi yang salah bisa menjadi suatu kenyataan di perspektif seseorang, malah kebenaran yang absolut. Otak merupakan organ yang begitu unik, kadang bisa menyatakan suatu hal adalah benar ataupun salah menggunakan cara kognitif yakni komparasi dari sampel-sampel kejadian, bukti, lalu mengambil kesimpulan dari data-data tersebut, namun otak kadang juga bisa memberikan analisa yang sifatnya subconscious & nonconscious atau tidak secara sadar, yakni tidak melalui proses kognitif dan pengecekan fakta, namun hanya berdasarkan pikiran internal yang dibangun secara perlahan secara terus menerus, dan sifatnya bisa sangat subjektif.

Jika menggunakan model psikologi klasik dari Sigmund Freud, pikiran akan terbagi menjadi tiga komponen yang menguasai reflek terhadap keadaan eksternal yakni Id, Ego, dan Superego. Id merepresentasikan insting sebagai makhluk hewani, makhluk seksual, dan makhluk fisik yang cenderung liar dan hanya mementingkan rasa puas atau senang sebanyak-banyaknya, lalu komponen Ego merepresentasikan kemampuan kognitif, analisa, menjadi bagian utama dari logika, dan Superego menjadi sifat yang diturunkan dari suatu kultur atau tatanan hukum di suatu kelompok masyarakat.

id-ego-superego

Namun di mana letak pikiran tersebut?

Bagian-bagian dari pikiran tersebut itu berada di tiga zona utama yakni: zona unconscious yang menyimpan kemampuan jantung untuk terus berdenyut dan trauma yang sangat mendalam (rasa takut yang tidak wajar terhadap sesuatu), zona subconscious yang menjadi rumah untuk suatu kebiasaan atau habit, banyaknya keputusan-keputusan reflek, keputusan memilih makanan, pasangan, hingga pekerjaan kadang bercampur aduk di sini, dan zona conscious suatu keputusan yang diambil dalam keadaan benar-benar sadar. Di dalam sini, Id, Ego, dan Superego mengendalikan pikiran dan fisik seseorang.

conscious
Manusia pada umumnya hanya memiliki kontrol di zona conscious sebanyak 10%, subconscious 50%, dan unconscious 40%. Hal ini mengakibatkan minimnya kemampuan manusia untuk mengambil keputusan-keputusan yang logis pada hidupnya, karena mereka secara statistik, hanya memiliki kontrol sebesar 10% di kehidupan sehari-hari. Cara mereka belajar, bekerja, dan memprioritaskan satu hal dengan satu hal lainnya seolah hanya mengandalkan will-power dari seseorang, dan ketidakmampuan mereka untuk mencapai satu target ke target lainnya membuat semua hal sehari-hari menjadi tidak terkendali, dan membuat manusia merasa lelah dan umumnya berantakan, padahal tidak sesimpel itu.

Banyak buku yang menuntut pembacanya untuk menjadi pemikir hal-hal yang positif, misal jika berpikir positif maka hal positif akan segera menghampiri. Manusia yang telah memupuk Ego (kemampuan analisa) di institusi pendidikan seperti sekolah hingga universitas tingkat lanjut akan kesulitan untuk menerima fakta tersebut. Padahal sekali lagi, ada dua tipe fakta, yang didapat secara kognitif, atau didapat secara sepihak atau internal (doktrin), keduanya akan terasa sama di perspektif seseorang. Buku-buku ataupun acara motivasi tersebut akan memberikan satu quote yang akan menyelesaikan seluruh kesulitan manusia untuk mengendalikan hidupnya, di mana hal tersebut jelas mustahil. Karena aktivitas, motivasi, dan kebiasaan seseorang dibimbing oleh komponen pikiran yang 90% tidak bisa dikendalikan secara normal.

Seperti cara membeli handphone, manusia seringkali menggunakan pilihan yang tidak didasari dengan fakta. Misal ada handphone merk lokal atau Indonesia dengan spesifikasi sama persis dengan brand asing, dengan OEM sama dengan brand asing, beserta softwarenya, seseorang akan ragu untuk memilih handphone dengan brand, misal “cakrawala smartphone”. Mereka akan berpikir tanpa menggunakan fakta, dan beralasan “oh, nanti afterservicenya jelek, gengsi, ngapain beli handphone abal-abal”. Padahal jelas sekali bahwa handphone tersebut sama persis tanpa ada perbedaan dengan brand China misalnya. Manusia cenderung melompati analisa kognitif, dan menentukan sesuai apa yang mereka rasa nyaman. Dan kalaupun mereka ingin melakukan research, mereka cenderung mencari tahu atau mendengar apa yang mereka ingin dengar, bukan apa yang seharusnya mereka dengar.

Tentang wanita yang terus menerus berasumsi prianya sedang berselingkuh setiap tidak ada di rumah misalnya, karena orang tuanya pernah berselingkuh, dan mantan kekasihnya pernah berselingkuh. Sejak berumur dua puluh lima, wanita ini terus menerus menanam benih informasi di pikirannya bahwa semua laki-laki adalah sama, dan akan melakukan perselingkuhan jika tidak diawasi, ketika wanita tersebut seharusnya mengambil beberapa fakta pahit tentang kehidupan, lalu fokus untuk memperbaikinya, wanita itu malah mengulang-ngulang informasi tentang betapa buruknya kehidupan, hingga akhirnya informasi menjadi suatu kenyataan.

Lalu apa? Apa yang menarik dari ini semua?

Manusia tidak pernah didisain untuk menjadi selalu senang, terang benderang bagai badut berjalan-jalan di tengah kerumunan, tidak akan terus menerus optimis menghadapi kehidupan. Manusia juga bukan sesuatu yang harus menderita tentang segala apa yang mengganggu dan menghalangi hidupnya. Cara terbaik untuk menjadi manusia yang berkembang secara seutuhnya, secara kemampuan analisa, kemampuan emosional, dan kemampuan untuk menopang dirinya di suatu komunitas, adalah untuk menggunakan kemampuan menerima informasi secara apa adanya dan utuh, lalu menjadikannya lebih baik dari sebelumnya.

Jika ada seorang kepala desa yang mengalami kekeringan dan susah pangan selama satu tahun, kepala desa yang tidak menggunakan analisanya dengan baik, akan berasumsi bahwa kekeringan ini datang dari seorang warga dengan warna kulit tertentu, maka ia harus dikorbankan di gunung. Kepala desa yang terlalu sering membaca buku motivasi, akan mengajak seluruh warganya untuk tetap berpikir positif dan suatu hari hujan akan datang. Dan yang terakhir kepala desa yang baik, akan mengajak warganya untuk mengumpulkan seluruh persediaan makan, dan mencari pertolongan dari desa terdekat untuk menyelamatkan warganya dari pernyakit.

Perlahan jika terus menerima informasi secara apa adanya, dan terus bekerja keras untuk memperbaiki keadaan yang sekarang, suatu hari dunia akan lebih mudah dikendalikan, atau setidaknya, pikiran kita sebagai manusia akan lebih mudah dikendalikan.

 

Source:

http://www.consultinghealth.com/psychoanalytic-therapy-unconscious-vs-subconscious-mind/
https://simple.wikipedia.org/wiki/Id,_ego,_and_super-ego