Lebih gelap dari hitam, sebelum terang

Lebih gelap dari hitam, sebelum terang

Seorang pria yang sedang mabuk di hari-hari akhirnya ia bekerja, tertidur terkapar di balik semak-semak. Sekian jam ia tertidur dengan nyenyak, hingga akhirnya terbangun kembali dan muntah satu dua kali. Dengan mulut yang terasa kering dan panas, ia pergi berjalan mendekati warung untuk mengambil air minum yang dijajakan. Ia menenggak dengan terburu-buru hingga jaketnya basah. Sambil bersenandung, ia menyandarkan tubuhnya di warung tersebut sambil memanggil-manggil.

“Sofyan…. Masih bangun?” Dengan suara cenderung memaki, sambil mengetuk-ngetuk warung.

“Iya Dul. Ini masih jam delapan. Warung aku juga nyala lampunya. Apa lagi? Mabok lagi ya?” Pria dengan kaos putih serta celana bola keluar dari warung tersebut, sambil memainkan handphonenya.

“Yan…. Gua iri sama lo, sekarang bisa kayak gini lo ya. Padahal dulu gua inget banget, pas kita sama-sama SD bareng, cita-cita gua mau jadi insinyur, cita-cita lo cuman jadi pemadam kebakaran. Mimpi gua lebih tinggi daripada lo yan yan…. Tapi kenapa sekarang gua kejebak jadi kuli, lo malah punya warung sendiri.” Sambil menggerutu dan mengais-ngais lantai.

“Dul dul. Yang bilang hidup bakal sempurna siapa? Ya memang gua punya warung keliatannya mewah atau gimana Dul? Cuman ya kuncinya ikhlas sambil usaha, kita mau mimpi pergi cuman ke Bandung, udah rencana berbulan-bulan sebelumnya dengan persiapan juga kalau sudah pas hari H-nya tiba-tiba pantat lo bisulan, juga ga jadi kesana kan?”

Abdul, pria yang lahir dalam keadaan sehat, mampu bersekolah hingga SMP, dan akhirnya harus putus sekolah meskipun beberapa kali mencoba untuk menyambung pendidikan kembali. Seseorang yang rasional, segala sesuatu harus memiliki sebab dan akibat menurutnya. Maka dari itu, sejak kecil ia melempar panah-panah impian dengan busur harapan, ia berpikir hidup akan begitu hitam dan putih. Ketika hal ‘A’ dilakukan, maka ‘B’ akan terjadi. Dan harapan naif itu terus bergulir bagai efek bola salju hingga akhirnya ia menjadi dewasa dan menjadi begitu sinisnya tentang keadilan hidup.

Sofyan, di satu sisi, pria yang lahir dengan kaki agak pincang karena di usia 10 mengalami kesulitan pengobatan di daerahnya. Teman satu sekolah dengan Abdul, hingga akhir SD, karena paman satu-satunya yang mengurus Sofyan di Jakarta meninggal, maka Sofyan harus tinggal bersama teman pamannya dan membantu usaha gemblong yang ditekuninya. Mimpi Sofyan adalah untuk membantu, ia bahkan ingin menjadi Gubernur saat ia masih kecil. Dihantam dengan kenyataan secara berkali-kali, membuat Sofyan berdamai dengan takdir, dan malah, mencoba mengendalikan apa yang bisa dikendalikan.

Mereka akhir-akhir ini sering bertemu, di tengah malam, setelah sekian tahun terpisah karena jarak dan pekerjaan. Mereka terus bercengkrama sambil memohon pada urat-urat takdir untuk melunak, untuk menunjukkan apa yang selama ini terlewatkan. Seolah Abdul mengeluarkan semua energinya secara sepenuh hati hanya untuk pergi ke arah yang salah, memprioritaskan mimpi yang sebenarnya tidak terlalu substansial pada akhirnya.

Sofyan, lahir dengan hubungan keluarga yang sangat terbatas, sangat mempercayai, nilai lah yang akan menuntun, bukan lompatan-lompatan harta ataupun tahta yang akan memperlihatkan apakah seseorang sudah berada di jalan yang benar atau bukan.

“Yan. Bukannya mau komentar yang nggak-nggak sama ceramah lo. Tapi gimana caranya orang kayak lo, bisa lapang gitu hidupnya?” Abdul hampir terlelap menanyakan.

Dan akhirnya Abdul, bertanya tentang sesuatu yang harus diprioritaskan. Pada malam itu, hati Abdul dilapangkan. Perjalanan ia dimulai sejak malam itu.

Malam yang nyenyak, bukan?