Satu Perjalanan Taksi Bersama Professor Resi Bohang

Satu Perjalanan Taksi Bersama Professor Resi Bohang

Saat saya terjerembab dengan suntuknya rutinitas pagi, saya turun dari kereta di stasiun Palmerah, dan dipertemukan dengan pria ajaib ini.

Dari sekian taksi yang berjejer, karena kebetulan yang di depan diambil ibu-ibu yang tidak nyantai saat menghentikan taksi tersebut, saya yang waras pun mengalah sambil mengelus dada saya. Hingga akhirnya saya memilih taksi kedua, awalnya saya hanya bersandar sambil meminta diantarkan untuk ke tempat meeting yang ada di daerah semanggi. Supir taksi dengan seragam sederhana, rambut disisir samping, dengan warna kulit sawo matang di atas 50an nampaknya, dengan rendah hati bertanya ke saya, “Mas, mau lewat mana? Saya ikut saja.” tanpa panjang lebar saya balas “Oh ya lewat gatot subroto aja harusnya lancar, lewat pejompongan dalam situ.”

“Saya pake google map deh ya mas.” Saya berdecak kagum, ya lumayan lah ada inisiatif seperti itu pikir saya.

Saat sudah di daerah dekat plaza semanggi, tiba tiba dia bercerita.

“Maaf ya mas ya, saya sebenernya baru jadi supir taksi. Saya sebenernya cuman researcher, lagi ada yang pingin saya pelajari.” Dengan logat jawanya yang kental.

Saya yang tadinya main instagram langsung penasaran dengan ceritanya. Saya langsung menembak beberapa pertanyaan.

“Lah, dalam rangka apa pak?”

“Iya adek coba cek nama saya (sambil menunjuk pelat pengenal nama di taksi), jadi saya ini dulunya peneliti di bidang energi. Di bidang bio energi, jadi saya lama sudah melakukan riset di bidang pembangkit listrik 10 MW dengan tenaga singkong. Jadi selama ini petani singkong kan dibayar murah per kg-nya, ya dengan teknologi ini, demand naik, harganya kan jadi bersaing juga, jadi tumbuh petani-petani sekitar. Itu yang saya mau.” Dia asik bercerita.

“Oh, sebentar-sebentar (saya agak panik, apakah saya sedang ditipu oleh pria ini, saya bertanya ke diri saya). Jadi dari methane pas fermentasi pak?”

Sambil saya google nama Pak Resi Bohang, saya menemukan hasil artikel yang menunjukkan gelar beliau adalah Profesor Dr. Resi Bohang MBA. Saya yang tadinya agak serius kaku, malah jadi ketawa ga karuan.

“Ngapain jadi supir taksi pak?” Saya dengan nada nyeleneh sambil ketawa.

“Haha, saya memang ada riset tentang konversi energi dari bensin menjadi listrik untuk kecepatan di bawah 50 km/ jam, jadi saya sudah ada alat converternya, tapi saya sekarang ada analisa dari sisi komersil, seberapa banyak energi yang kita bisa simpan jika ada alat ini. Jadi gini dek, kalau di taksi itu, normalnya satu hari bisa isi di 20-22 liter untuk muter-muter keliling Jakarta seharian, tapi kalau dengan alat teknologi ini, bisa hanya 4-6 liter saja per harinya. Alatnya itu murah sekali.” Dia bicara dengan nada yang agak cepat, saya pun perlahan berusaha mengerti ketika dia mulai throwing/crunching the numbers.

“Oh, semacam hybrid gitu pak?” Saya sempat bertanya-tanya apakah dia hanya mengadaptasi tekonologi yang sudah ada atau ini suatu temuan baru.

“Iya jadi harga belinya sekitar ‘segini’ untk teknologinya, (saya tidak sebut angkanya, karena mungkin confidential), jadi nantinya kendaraan-kendaraan umum hingga mobil pribadi bisa pakai teknologi ini. Dan bayangkan kalau seorang supir taksi tadinya harus menghabiskan sekitar 150 ribu sehari untuk jadi cost dia ketika beli bensin di awal, dan cost dia dapat dipangkas lima kali lipat, betapa banyak uang yang bisa tabung per harinya. Saya sih mikir kesitu saja, dan berapa barel minyak yang kita hemat.”

“Ya terus apa hubungannya bapak mesti naik taksi? Kenapa gak pake survey aja?” Saya langsung potong saja di tengah.

“Waktu itu sudah ada berkali-kali tim survey dari luar negri untuk analisa ini, tapi datanya itu tidak rata, semua supir banyak yang bohong menurut saya, ada yang dibagus-bagusin, ada yang ceritanya dibuat seolah susah betul cari setoran. Saya juga memang orangnya senang betul melakukan riset, jadi ya saya melakukan ini.”

Lalu saya iseng lagi. “Pak kuliah S2 sama S3nya di mana?”

“Di Tokyo mas, 5 tahun.”

Wah, di dalam hati saya, saya ingin nimpuk bakiak, tapi saya kebetulan tidak bawa. Betapa rendah hatinya ini bapak, mau nyetir sana sini, cuman untuk melakukan riset, padahal sudah level Tokyo risetnya.

“Saya ini heran mas sama pemerintah, pemerintah itu sudah terlanjur melakukan tiga dosa besar menurut saya. Pemerintah ini melakukan eksplorasi minyak, gas, dan batu bara. Padahal cadangannya kan hanya sedikit, sedangkan energi seperti tenaga air, surya, angin, itu tidak diprioritaskan. Ya iya kita punya geothermal, tapi kalau untuk ke depannya kan kita tidak bisa ekspor seperti minyak sekarang. Kita jadikan itu sebagai konsumsi lagi, padahal cadangannya tidak banyak.”

“Iya ya pak, saya jadi pingin S2 nih dengerin bapak cerita. Bapak tinggal di mana ngomong-ngomong? Kenapa ga jadi dosen aja sekalian? ” Saya kembali memotong.

“Dosen kurang ada duitnya, saya juga bosen lama-lama ngajar terus. Iya, kamu tau rumah sakit pondok indah? Ya 100-200 meter dari situ, gak jauh.”

Saya disitu mulai gak bisa nahan ketawa, saya ketawa terbahak-bahak karena saya sadar bahwa di daerah situ memang elite.

“Iya saya nih hanya 1 bulan ambil data di sini. Awal-awal narik, dua hari tuh kayak digebukin rasanya pas bangun pagi, sakit betul…. Waktu itu saya juga sering dikatain sama temen-temen supir yang lain pas saya didrop di pool taksi pake alphard, maksudnya apa ini…. Saya juga awal-awal narik kalau sudah bingung, saya biasanya nanya ke supir saya. Sama waktu itu saya lagi narik terus ketemu temen saya di kementerian perhubungan, saya pake batik aja, langsung dateng pake taksi saya parkir, temen saya geleng-geleng, ‘kamu ini kurang duit atau gimana sih?’.

Saya hanya tertawa-tawa sambil geleng-geleng. Di tengah perjalanan tiba-tiba ia meminta maaf karena harus mengangkat teleponnya.

“Iya yang mulia, saya masih nyetir, boleh saya telepon nanti lagi yang mulia? Oke terima kasih ya, assalamualaikum….”

Pak Resi Bohang bercerita tentang siapa yang ia baru angkat teleponnya. Ia ternyata memanggil istrinya dengan sebutan ‘yang mulia’. Dia berpendapat bahwa, kalau kita sama bos yang bayar makan hidup kita saja harus hormat, kenapa kita gak bisa memperlakukan orang yang memberikan kita ketenangan dengan lebih baik? Panggil saja ia yang mulia, katanya. Ya dia sudah memberikan saya ketenangan, memberikan saya anak, merawat anak saya, ya saya harus perlakukan sebaik-baiknya lah. Saya suka heran sama orang yang kasar sama pasangannya.

Akhirnya setelah saya agak termenung dengan kalimat barusan, taksi saya sudah sampai di tempat tujuan, saya pun memberikan kartu nama saya, mungkin suatu hari ditelepon balik. Dan saya bayar taksi saya, dengan memberi tip sedikit. Walaupun saya tahu ceritanya, saya harus tetap professional kan?

Source Featured Image : tribunnews.com

Note: Mohon maaf jika ada kesalahan penulisan, karena saya sendiri berusaha mengingat-ngingat betul percakapannya seperti apa. Mudah-mudahan seperti yang saya tulis di atas.
3 Responses
  1. Penulis Yth;
    Apakah anda benar-benar telah mengenal sosok yang anda tulis tersebut? Bila belum, ada baiknya anda lebih hati-hati sehingga bisa terhindar dari korban berikutnya?

    Dengan ini akan saya sampaikan sedikit informasi tentang beliau:
    1. Beliau baru keluar dari Lapas Cipinang karena tersangkut penggelapan dana Investor, dengan perkara nomor Perkara No.626/PID.B/2015/PN JKT.SEL, tanggal Register 12 Juni 2015, Klasifikasi Penipuan, Penuntut Umum Inne Elaine, SH;
    2. Tutur kata beliau memang sangat baik untuk meyakinkan calon Investor, beliau mengaku ahli singkong, ahli energi terbarukan. Kenyataannya tidak mempunyai kemampuan apa-apa, kebun singkong yang pernah beliau tanam hanya mampu berproduksi antara 30 ton sampai 40 ton per hektar (tidak ada bedanya dengan petani singkong tradisional);
    3. Mengaku pernah mengelola kebun singkong di beberapa perusahaan dengan luas ratusan atau malahan ribuan hektar (antara lain di Kino, hanya sekitar 20an hektar dan itupun gagal), mengaku sukses merubah energi singkong menjadi daya listrik, namun semua itu hanya halusinasi dan impian beliau. Sumber listrik dari tenaga metane yang sering beliau ceritakan antara lain adalah milik PT. Ethanol Indonesia dan beberapa pabrik pengolahan tapioka di Lampung (jadi bukan hasil karya beliau);
    4. Uji coba untuk kerjasama dengan PLN, produksi singkongnya juga gagal, sehingga tidak diteruskan ke produksi ethanol, malahan akhirnya mengantarkan beliau ke Lapas Cipinang, dan sampai saat ini dana dari Investor pun belum dipertanggung jawabkan; Inilah kebun singkong terluas yang pernah beliau kelola sesuai yang beliau sampaikan saat rapat di kantor PLN;
    5. Bila menghadapi calon mitra, biasanya beliau akan membawa orang lain yang seolah-olah ahli di bidangnya, sehingga calon mitra bisa terkesima & menanamkan modalnya;
    6. Saat ini masih ada proses hukum di Polda Jawa Barat terkait kasus yang sama dengan beberapa karyawan/ pensiunan PT. Telkom;
    7. Bila anda ingin informasi lengkap, silahkan cross check ke beberapa orang, antara lain: Sutia Wijaya (Swasta di Jakarta) 0812 8299 9396 & 0816 1442 197; Raden Atmaja dll (Ktr. Gubernur Lampung) 0823 7648 3636; Wijoyo Batara FS (PT. PLN) 0818 634 111 & 0852 6227 7516; Moestadjab (PT. Telkom) 0811 2110 235 & 0817 6399 035; Asep Harjanto (PT. Telkom) 0811 229 066; dan lain-lain masih banyak lagi;

    Demikian sekedar informasi, semoga bermanfaat
    Insya Allah tidak ada lagi korban penipuan berikutnya.

  2. setelah membaca artikel ini dan lalu saya membaca komentar rasanya…….. 🙁

  3. Pertanyaan bapak kurang luas. Coba ditanya dulu sudah berapa lama dia dipenjara dan karena apa?

Comments are closed.