What-If(s) dan Parallel Universe

What-If(s) dan Parallel Universe

Dalam sebuah titik di kehidupan kita pastinya pernah terjaga di tengah malam, pikiran pun kadang
mengawang-awang sembari membayangkan akan apa jadinya hidup kita saat ini apabila kita memilih pilihan berbeda di masa lalu.

Memang ada kalanya, pilihan-pilihan sederhana antara A dan B atau jawaban antara “ya” dan “tidak”, tanpa disadari dapat memberikan impact yang cukup besar pada kehidupan kita di masa yang akan datang. Kemudian mulailah timbul pertanyaan-pertanyaan yang sekiranya berbentuk seperti ini: ¬†“bagaimana-jika (what if) waktu itu saya menerima tawaran dari A ketimbang menolaknya?” atau “Bagaimana-jika (what if) saya memilih jurusan X ketimbang Y semasa kuliah?”

Seringkali pertanyaan-pertanyaan seperti itu terlintas di dalam pikiran sembari berandai-andai apa jadinya kita saat ini bilamana kita mengambil pilihan berbeda. Dalam sebuah konsep yang cukup populer bernama “Parallel Universe”, telah dijelaskan bahwa secara hipotesa sangatlah memungkinkan dalam sebuah dunia yang berbeda terdapat versi yang “lain” dari diri dan kehidupan kita saat ini. Versi “lain” tersebut merupakan sebuah hasil atau manifestasi dari jalan yang kita ambil ketika kita dihadapkan pada persimpangan takdir.

Kemudian, akhirnya saya sampai pada titik dimana saya mulai penasaran terhadap perhitungan seberapa banyak versi “lain” dari diri seseorang yang dapat eksis didalam “parallel universe”. Sekarang mari kita asumsikan ada seorang berumur 24 tahun yang rata-rata membuat suatu keputusan yang berpotensi dapat menentukan jalan kehidupannya sekali per 4 bulan, maka orang tersebut setidaknya telah dihadapkan pada 72 proses pengambilan keputusan sepanjang hidupnya (24 tahun x 3 pilihan / tahun). Untuk lebih mudahnya lagi kita dapat asumsikan bahwa pilihan yang diambil hanya berupa pertanyaan “yes or no”, “1 atau 0”, dan “lakukan atau diamkan”. Dengan asumsi terakhir bahwa setiap pilihan akan menuntun kepada pilihan berikutnya, maka didapatkan bahwa seseorang mungkin saja memiliki 2^72 (4.722×10^21) versi yang berbeda dari dirinya di dalam “parallel universe”. Kemudian apa artinya? Jika saya mensubstitusikan seseorang berusia 24 tahun tersebut dengan diri saya, maka peluang saya berakhir seperti kondisi saya saat ini dan menulis artikel ini hanyalah 1 banding 4.722×10^21 (akan banyak sekali 0-nya bila diuraikan).

Note: Bila Anda kurang memahami paragraf yang saya uraikan tadi, maka bisa menyimak ilustrasi berikut ini

Parallel Universe

Selanjutnya mari berandai-andai lebih jauh lagi, bayangkan Anda saat ini dipertemukan oleh seorang kakek tua yang notabene merupakan seorang timekeeper dari dimensi ke 8. Kemudian dia memberikan Anda kekuatan magis untuk memanipulasi waktu agar dapat kembali ke masa lalu dan melakukan sesuatu yang sekiranya berbeda.

Bila hal itu terjadi pada saya, mungkin saya akan merubah hal-hal kecil seperti mencoba membuat lebih banyak teman semasa kanak-kanak, mendatangi sebuah pesta ulang tahun ke 17 seseorang yang saya lewatkan, atau bahkan memberanikan diri untuk menyapa dan memperkenalkan diri pada seseorang disebuah momen penting. Apakah alasannya memilih hal-hal kecil (tidak penting) seperti itu? Karena pada dasarnya saya yakin hal-hal kecil dapat membuat ripple kecil yang dimana efeknya akan terus ter-amplify hingga membuat sebuah gelombang yang dapat membawa perubahan besar.

Akan tetapi, walaupun saya ingin sekali menyaksikan jawaban dari pertanyaan what-ifs saya terkuak dan melihat bakal seperti apa jadinya versi lain dari diri saya, tetap saja saya percaya bahwa dengan berusaha mengkoreksi hal-hal yang telah terjadi, kita memiliki kecendrungan untuk menciptakan masalah baru. Konsepnya mirip dengan seorang programmer yang ingin memperbaiki softwarenya dengan mengeliminasi bug (problem) kecil yang menganggu. Namun seringkali dengan menghilangkan bug yang kecil tadi, si programmer telah berpotensi menciptakan bug yang lebih besar yang tanpa ia sadari. Sekiranya konsep tersebut mirip dengan istilah “gali lubang tutup lubang”.

Namun, pada akhirnya kita memang tidak akan pernah bisa mengubah apa yang telah terjadi, dan pertanyaan-pertanyaan what-ifs masih terus akan jadi misteri yang menghantui kita. Akan tetapi, pada sisi positifnya ingatlah bahwa terdapat banyak sekali outcome yang bisa terjadi dari pilihan-pilihan yang telah kita ambil. Dan sesungguhnya bisa saja jika Anda mengambil pilihan yang berbeda di masa lalu, malah justru akan membuat hidup Anda lebih buruk daripada saat ini. Kalau diambil dari sisi positifnya, maka Tuhan telah menggembala kita untuk memilih pilihan yang terbaik, maka bersyukurlah dengan apa yang telah terjadi! Chin up and Cheers!

 

Bonus: Some things are worth fighting for. Time and time again.

One Response
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *