Membangun Kepercayaan dengan Pasangan

Membangun Kepercayaan dengan Pasangan

Biasanya, menjelang pertengahan akhir bulan Agustus saya menulis semacam “mandatory anniversary post” di blog pribadi. Tapi tidak dengan tahun ini.

Bukan karena mau pamer berhasil menempuh satu tahun lagi atau tidak ada yang spesial untuk dirayakan, namun seven years in a relationship is no longer a joke: banyak yang harus diperkuat agar sanggup menghadapi ujian demi ujian.

Ada yang bilang, kala sepasang manusia menjalin hubungan tahun ketujuh adalah yang terberat, alias masa penentu apakah mereka akan berlanjut atau berhenti di tengah jalan. Entah berakhir baik-baik saja atau penuh drama, tergantung manusianya.

Dan, kami – saya dan pacar, sedang memasuki masa-masa krusial itu, dimana kami berdua harus setangguh karang untuk bertahan dan memperjuangkan masa depan bersama. Pasang-surut menerpa di waktu yang berdekatan: sebentar rukun, kemudian bertengkar, berbaikan, adem ayem seperti biasanya, namun sewaktu-waktu bisa bertengkar lagi. Perkaranya terlihat sederhana: membangun kepercayaan dengan pasangan.

Saya akui, menaruh kepercayaan kepada orang lain – bahkan ke orang terdekat- susahnya minta ampun. Entah kenapa selalu ada rasa was-was, takut rasa percaya yang sudah dibangun hanya dimanfaatkan dan disalahartikan sehingga ujung-ujungnya jadi pesimis baik ke diri sendiri maupun pasangan atau orang lain yang dipercaya. Sekali-dua kali mungkin masih baik-baik saja, namun jika frekuensinya sering bisa-bisa di situlah sebuah hubungan bisa berakhir.

Belajar dari pengalaman yang lalu-lalu, ada beberapa cara supaya kamu dan pasangan bisa membangun kepercayaan satu sama lain:

  1. Bicarakan dengan pasangan. Ajak pasangan ngobrol baik-baik kalau ada yang bikin kamu gelisah dan nggak percaya dengan pasangan kamu. Di sisi lain, bikin dia nyaman dan pahami betul apa yang dibicarakan dan jadi pendengar yang baik sehingga bisa menemukan jalan keluar.
  2. Jika belum mau cerita, berikan waktu. Bukannya nggak percaya, tapi ada kalanya butuh ruang dan waktu untuk sendiri dan nggak mau nularin negative vibe ke luar, apalagi ke pasangan. Nah, di sinilah sabar berperan, dan percayalah  di masa ‘diam’ itu nantinya akan tumbuh rasa kangen. Dan sekali lagi: jangan pesimis!
  3. Jaga hati masing-masing. Sebesar apapun kemungkinannya untuk nyeleweng dari pasangan (apalagi buat pejuang LDR), lebih baik masing-masing jaga jarak dan jaga hati dari “potential other man/woman” daripada terlanjur tergoda. Terus, daripada posesif lebih baik percaya bahwa pasangan nggak akan bertingkah macem-macem. Ditanyain “lagi ngapain” atau disapa tiap pagi/malam udah cukup.
  4. Put ego aside, and have a faith. Kalau pasangan punya keinginan yang di luar dugaan kamu, kasih kepercayaan bahwa dia bisa meraihnya dan nggak perlu dipikirin segala apakah keinginan itu akan melibatkan kamu atau sebaliknya, yang penting dia jadi percaya diri karena ada ego yang rela dikesampingkan demi sebuah dukungan. Jika berhasil, dia akan berterima kasih padamu karena sudah percaya padanya.
  5. Have a big, BIG heart. Apapun kekurangan yang kamu dan pasangan miliki, terimalah. Nggak apa-apa kalo nggak bisa sepenuhnya percaya selama mau berjuang bersama. Butuh kebesaran hati untuk berhadapan dan menaruh kepercayaan sama seseorang yang jauh dari sempurna, dengan setulus hati pula. Jika perlu, bimbing supaya melihat dari sudut pandang yang lebih positif agar nggak terus-terusan pesimis.

Memang membangun kepercayaan saja tidak cukup untuk menjalani sebuah hubungan, namun di sinilah fondasi utama yang harus terus kokoh agar selalu bersama. Syukur-syukur hingga maut memisahkan.

 

Regards, Ratri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *