Jika Sudah Waktunya

Jika Sudah Waktunya

Berusaha yang terbaik mungkin sudah menjadi keharusan dalam melakukan segala hal.
Keinginan untuk mendapatkan, mencapai target, menghasilkan, apapun itu bisa menjadikan kita bekerja keras. Di zaman yang semuanya dituntut untuk serba cepat ini, sangat manusiawi sekali kalau kita kadang terlalu bersemangat mengejar sesuatu itu.

Lupa makan, lupa tidur, lupa teman, lupa orang tua, lupa waktu, lupa dengan sekitar. Sampai pada akhirnya, yang kita tuju bukan lagi mencari kebahagian melalui apa yang diusahakan, tetapi sudah berubah mejadi pencarian untuk menuruti ego.

Ketika ego yang bermain, momen yang paling besar pengaruhnya adalah ketika kita tidak mendapatkannya. Tidak langsung menerima kenyataan, kemudian mencari cara lain untuk menuju ke sana, tapi tidak juga sampai. Rasanya segala kerja keras dan usaha menjadi sia-sia. Menjadi emosi ke diri sendiri, atau bahkan ke orang lain juga, padahal bisa jadi tidak ada hubungannya. Kecewa.

Kecewa sering dihubungkan dengan harapan. Sangat disayangkan sebenarnya, karena harapan memiliki arti yang sangat positif. Harapan dan mimpi membawa kebahagian, dan yang membawa kekecewaan adalah ekspektasi.

Ada yang bilang, hidup itu lebih bisa dinikmati kalau kita memperlambat langkah sedikit saja. Tujuannya sekedar mengingatkan, kita bernapas, untuk merasakan hidup. Membiarkan udara bersirkulasi sejenak, melihat sekitar, lalu melanjutkan langkah kembali. Memastikan kita sadar bahwa banyak sekali hal yang mungkin saja ditujukan untuk kita supaya lebih mengerti, tetapi luput karena kita sedang mengejar sesuatu yang kita kira itu adalah yang paling utama.

Ketika tidak mendapatkannya, yang bisa dilakukan adalah membiarkan semuanya jatuh satu persatu ke tempat yang memang peruntukannya, dan menyelesaikan hari. Ada satu hal lagi yang menentukan apakah kita memang pantas mendapatkan hal yang sedang kita usahakan itu. Hal ini sangat sulit untuk dijelaskan, dan untuk menyikapinya butuh belajar.

Belajar bahwa akan selalu datang waktu dalam hidup, dimana beberapa pintu memang harus tertutup, dan kita akan berkembang melewati orang-orang dan tempat-tempat yang pernah akrab dengan kita. Belajar bahwa tidak setiap kesempatan yang ada di depan mata adalah kesempatan yang memang untuk kita, dan akan ada momen dimana kita bisa menunggu dan lebih sabar sampai waktunya memang benar-benar tiba untuk kita.

Dan itu tidak apa-apa.

 

featured image source: http://cdn.shopify.com