Berteman dengan Kegagalan

Berteman dengan Kegagalan

Kenapa kita melihat kegagalan sebagai sesuatu yang menyeramkan / mengecewakan / menyedihkan / memilukan?

Salahkan sekolah karena menekankan betapa pahitnya kegagalan (dan pentingnya nilai yang bagus) dan menilai keberhasilan semata-mata hanya dengan angka. Salahkan orang tua karena memasang ekspektasi yang tinggi pada anak-anaknya (dan menghukum mereka saat mendapatkan nilai yang kurang memuaskan).

Faktanya, selama 20 tahun saya hidup, saya tidak pernah belajar lebih banyak dari kegagalan. Saya pikir, kegagalan adalah instrumen pembelajaran yang terbaik yang manusia bisa manfaatkan. Tetapi, ini bukanlah apa yang diajarkan ke kita semasa di sekolah. Bukannya menyemangati mereka yang gagal, sekolah malah melabeli mereka sebagai individual yang bodoh dan cacat mental. Tidak dapat dipungkiri kalau sekolah-sekolah di Indonesia melahirkan manusia-manusia seperti saya dan anda, yang kenyataannya adalah binatang yang terkekang oleh rantai bernama ‘rasa takut’ yang disebabkan oleh ‘kegagalan’.

Di sekolah, otak kita diprogram sedemikian rupa untuk mendapatkan nilai setinggi-tingginya. Kita memberikan yang terbaik, tetapi ada saja sesuatu kesialan yang memisahkan kita dari tujuan kita. Saya belum pernah mendengar guru yang berkata kepada muridnya – “Oh Joni, kamu mendapatkan nilai F. Ini sangat menarik! Mari, kita bahas di mana kesalahanmu dan apa yang bisa kita perbaiki bersama-sama!” Sebaliknya, mereka malah menekankan muridnya bahwa kegagalan adalah sesuatu yang buruk dan betapa kecewanya mereka terhadap kita. Nilai adalah harga mati, nilai buruk adalah dosa, dan nilai buruk disebabkan karena murid yang malas dan bodoh.

Akibatnya, manusia terbentuk untuk membenci kegagalan. Setelah mereka gagal, mereka akan menempatkan diri mereka sendiri di posisi di mana mereka tidak akan pernah gagal/peluang gagalnya lebih kecil. Mereka mencari pekerjaan yang kurang menantang dan memiliki resiko kegagalan yang rendah, dan akhirnya mereka belajar lebih sedikit/tidak sama sekali.

Bergagal-ria lah selama anda muda. Ambil keputusan yang salah dan janganlah berduka karenanya. Semakin dini anda gagal, semakin dini pula anda tahu apa yang menyebabkan kegagalan tersebut sehingga anda bisa mengambil keputusan yang lebih benar. Inilah yang menyebabkan orang-orang takut untuk mengambil keputusan dalam lingkungan kerja, untuk keluar dari pekerjaannya dan berwiraswasta, atau bahkan untuk jatuh cinta lagi [setelah trauma karena pasangannya ‘nyerong’].

Mance Rayder [Game of Thrones] said it best, “The freedom to make my own mistakes was all I ever wanted.”

[Dia benar, dan begitu menyesalnya saya untuk tidak memanfaatkan kesempatan itu selama saya masih tinggal di bawah payung dana orang tua. Saya masih punya celah untuk gagal, tetapi tidak sebanyak saat saya berumur 17 tahun, dan celah ini bertambah kecil seiring dengan bertambahnya usia saya. Ketika saya sudah menikah kelak, saya TIDAK boleh gagal. Mau makan apa anak dan istri saya?]

Jika anda gagal dan berpikir “___ bukanlah untuk saya”, atau “___ dan saya tidak ditakdirkan untuk bersama”, coba pikirkan balita yang berpikir sedemikian rupa ketika ia terjatuh saat belajar berjalan, atau gagal saat mengucapkan kata pertamanya. Akibatnya, kita semua akan hidup dalam dunia yang bisu dan penuh dengan kursi roda.

One Response
  1. Blog on the point in my life
    Thanks,

Comments are closed.