Tentang Banda Aceh dan Segala Kejutannya

Tentang Banda Aceh dan Segala Kejutannya

Sebagai orang yang lahir dan besar di Jakarta,  pergi ke Aceh akan terdengar sedikit menegangkan, namun hapus rasa ragu kalian dan siapkan tabungan untuk pergi ke sini! 

Jadi penulis punya cerita tersendiri ketika akhirnya berangkat ke tempat ini. Singkat cerita, saya memiliki teman satu kantor dan menghabiskan waktu yang cukup lama dengan dia, hingga akhirnya dia memutuskan untuk menikah dan merayakannya di kampung halamannya Banda Aceh. Jujur kalau saya boleh share, memang ada sedikit rasa takut ketika harus pergi ketika yang ditayangkan di media berkali-kali hanyalah tentang hukum syariah, atau yang paling terkenalnya hukum cambuk. Jadi ekspektasi saya ketika berangkat, adalah suatu kota yang sangat disiplin dan condong tidak ramah terhadap turis.

Namun 14 Juli lalu saya berangkat bersama dua teman saya dengan niat baik untuk bertemu teman saya yang sudah lama juga tidak ketemu. Jadi saya berangkat dari Jakarta memakan waktu sekitar 2 setengah jam, hingga akhirnya mendarat di Sultan Iskandar Muda International Airport. Jangan kaget ketika semua orang di sini akan menawarkan taksi, setelah menelfon teman saya, akhirnya seorang supir datang dan mengantarkan kita ke Peunayong, tempat saya menginap, yakni hotel Wisata di samping hotel Medan. Tarif yang dipatok 100 ribu dari bandara ke tempat saya menginap, setelah saya cek dengan warga sini, memang tarif taksi di sini sudah dipatok di angka segitu.

Jika diperkenankan, dalam sekilas aspek sosial yang selama ini saya bayangkan sangat jauh dari kenyataan, apalagi saya kebetulan menginap di daerah Peunayong yang berarti “Pengayom” dalam bahasa Aceh, jadi daerah ini merupakan chinatown dari Aceh, sehingga bukan suatu pemandangan yang jarang untuk melihat masyarakat Indonesia dengan campuran etnis chinese di sini hidup saling menopang satu sama lainnya, tanpa ada unsur paksaan. Wanita chinese yang tidak berkerudung pun bukan sesuatu hal yang taboo di sini, Mereka menghargai satu sama lain tanpa terlihat terpaksa.

Satu hal yang saya kagumi dari Banda Aceh juga ialah, daerah ini bersih. Sungainya, pasarnya, tempat makannya, dan lain-lain. Mungkin salah satu gambar di bawah akan lebih menggambarkan deskripsi saya.

Sungai Peunayong
Sungai Peunayong, sumber : pribadi

 

Sebenarnya saya ke sini tujuan utamanya hanya untuk datang nikahan, cuman karena kebetulan dapat beberapa hari ambil cuti, jadinya saya sempat menikmati daerah-daerah wisata, mungkin saya akan rangkum beberapa hal terbaik yang saya alami di sini.

 

1.Wisata Monumen Peringatan Tragedi Tsunami

Salah satu tragedi mencekam yang pernah terjadi di Aceh ialah bencana tsunami yang menewaskan ratusan ribu penduduk Aceh. Beberapa monumen di bawah ini menjadi saksi hidup bagi mereka yang ingin melihat betapa lemahnya manusia dibandingkan kekuatan alam.

Ada tiga wisata gratis yang bisa dikunjungi ketika di Banda Aceh, hanya perlu merogoh sekitar 50 ribu untuk sekedar berkeliling dengan ojek becak yang bisa ditemui di mana saja.

Tempat wisata yang akan saya deskripsikan pertama kali adalah PLTD apung. Jadi sesuai singkatannya jadi ini merupakan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel yang terseret 3 km, dengan berat 2600 ton. Jadi bisa bayangkan betapa besarnya benda ini menghantam segala benda yang ada di depannya. Di dalamnya sudah dimodifikasi menjadi museum dengan konsep minimalis, dengan cerita dari personil-personil kapal yang selamat ketika tragedi tersebut.

pltdapung
PLTD Apung , sumber: pribadi

Kemudian tidak jauh dari tempat ini, terdapat museum yang didisain oleh Walikota Bandung Ridwan Kamil, yakni Museum Tsunami. Di dalamnya kalian akan melihat beberapa fakta menarik bahwa ada suatu pulau Simeulue merupakan pulau dengan korban tersedikit karena di pulau tersebut diwariskan suatu lagu turun temurun tentang tsunami yang menggambarkan ciri tsunami dengan jelas, salah satu kalimatnya dalam bahasa indonesia, “jika terjadi gempa sangat keras, dan air pantai surut, segera lari ke bukit”.

Di tempat ini kalian akan sekilas mengingat betapa kecil dan rapuhnya kita yang disibukkan dengan segala kegiatan duniawi kita, tanpa mengetahui bahwa ada kekuatan yang begitu besarnya di luar sana yang tidak bisa dikendalikan. Meskipun terdengar salah, namun kini saya lebih menghargai momen-momen hidup saya ketika menonton film dokumentasi tsunami di sana.

museumtsunami
Museum Tsunami, sumber : pribadi

Salah satu tempat yang agak terpencil untuk dikunjungi ialah kapal apung di daerah Lampulo, mirip halnya dengan cerita PLTD, ini merupakan suatu kapal yang terbawa arus hingga ke tengah kota. Seluruh awak kapal tersebut terselamatkan, dan cerita uniknya ialah ada satu orang awak kapal yang semalamnya begadang karena harus membantu navigasi kapal, tertidur seharian, esoknya ia mengeluh rekan satu kapalnya berisik dan gaduh. Hingga akhirnya ia sadar terbangun bahwa ia melewatkan momen paling fenomenal di hidupnya, karena tertidur, juara.

Lampulo
Lampulo Kapal Apung, sumber : pribadi
2.Kuliner Banda Aceh

Aceh identik dengan makanan-makanan enaknya. Mungkin jika kalian penikmat kopi, bisa langsung memutuskan untuk menetap di Banda Aceh, karena cafe di sini memang bertaburan di mana-mana, mulai dari kedai sederhana hingga kafe yang interiornya menyaingi tempat-tempat paling hits di ibukota Jakarta.

Breaktime Coffee Shop, sumber : pribadi
Breaktime Coffee Shop, sumber : pribadi

Sayang dari empat malam berlabuh di sana, perut penulis memang sedang digoda asam lambung yang naik turun, hingga baru bisa hari terakhir saya bisa mencicipi kopi di sana. Salah satu kopi yang paling diminati di sana adalah kopi sanger, kopi kental dengan paduan gula dan susu kental manis disajikan dengan gelas kecil ala espresso. Jika lebih suka kopi dengan gaya ice, ice coffee sanger akan mengingatkan betapa kopi harus menjadi bagian hidup kalian.

Nasi Gurih, sumber : pribadi
Nasi Gurih, sumber : pribadi

Di sana kalian akan kesulitan mencari nasi uduk, karena namanya berubah menjadi nasi gurih. Meskipun orang Jakarta kebanyakan akan bilang bahwa ini sebenarnya sama. Menurut saya nasi gurih ini berbeda, karena di sini nasi gurih disajikan dengan beberapa tipe lauk dan tambahan-tambahan yang lebih kreatif di banding nasi uduk, dan salah satunya ada oseng cabe hijau sebagai tambahan, dan rasa santan di nasi ini jauh lebih terasa.

Rasanya kurang lengkap jika keluyuran di Banda Aceh namun tidak mencicipi yang namanya Mie Razali ini. Dari sore hingga malam tempat ini selalu penuh. Saya mulai mengerti rekan-rekan Aceh saya di Jakarta selalu complain kesulitan mencari mie aceh yang enak di Jakarta. Karena dari konten masakan ini, memang kita bisa merasakan bahwa rasa asin ataupun gurihnya micin tidak dominan di makanan ini, bahkan pedas pun tidak terlalu terasa. Namun kegurihan dari rempah dan kekentalan kuahnya menjadikan mie di sini jauh lebih enak. Acar bawang merahnya juga sangat segar.

Mie Aceh Razali, sumber : pribadi
Mie Aceh Razali, sumber : pribadi

Ya saya kemarin makan ketika Jokowi juga makan di tempat ini, saya harap. Tetapi saya kadang agak bangga aja gitu ketika bisa makan di mana presiden kita pernah makan di sana.

Mie Aceh Razali & Jokowi, sumber : pribadi
Mie Aceh Razali & Jokowi, sumber : pribadi
3.Pantai Lampuuk

Sekitar 30 menit dari Banda Aceh, dengan mengendarai mobil, kalian akan begitu terkesima bahwa pantai yang begitu indahnya dan cenderung sepi ini ada sangat dekat dengan perkotaan. Bayangkan betapa mudahnya untuk liburan ketika bosan di tempat ini. Saya diajak oleh teman saya untuk berkunjung di pantai Lampuuk, akhirnya saya bermodalkan snack saya berhasil tidur-tiduran di pantai menikmati hidup tanpa mengingat-ingat rutinitas yang harus saya lakukan pas kembali.

Pantai Lampuuk Aceh Besar , sumber : pribadi
Pantai Lampuuk Aceh Besar , sumber : pribadi
4.Pulau Weh (Sabang)

Jujur saya agak lelah diceramahi warga sini dengan kalimat “wah kalau ke Banda Aceh tapi gak ngelakuin ini, tapi gak pergi ke sini”, karena saya sadar makin didengarkan, saya lama-lama bisa gak pulang ke rumah. Tapi hanya dengan sekitar 30 ribu, kalian yang sudah sampai ke Banda Aceh bisa berangkat dengan kapal feri menuju pulau paling ujung barat di Indonesia. Perjalanan di kapal cukup kondusif dengan kualitas kapal yang bisa dibilang bagus.

JIka kalian tidak punya waktu yang banyak, perjalanan ke Pulau Weh ini bisa dilakukan pulang pergi. Jadi kalian bisa berkonsentrasi untuk minimal kunjungi dua tempat ini.

IMG_3947
Monumen Kilometer 0 Indonesia, sumber : pribadi

Penasaran kan dengar lagu dari Sabang sampai Merauke? Jadi sekitar 40 menit dari pelabuhan, kalian bisa bergegas menuju kilometer 0-nya Indonesia, kalian akan sadar betapa kerennya kalian ketika berada di tempat ini, karena kalau di peta google map, akan terlihat benar-benar ujung dari negara kita Indonesia. Meskipun monumen atau tugu kilometer 0 belum rampung saya kira tempat ini berpotensi jika dibangun dengan baik.

IMG_3928
Pantai Gapang, sumber : pribadi

Di pulau Weh ini banyak sekali tempat wisata yang bisa dikunjugi, mulai dari danau, air terjun, hingga pantai-pantai yang kualitasnya tidak kalah dengan pantai-pantai terbaik dunia. Namun saya tidak punya banyak waktu, dan saya hanya bisa berkunjung ke dua pantai, pantai Gapang dan Iboih. Keduanya memiliki pantai dengan kualitas pasir begitu putih dan terumbu karang yang masih sangat bagus.

Di pantai Gapang ini kalian akan sering melihat turis yang melakukan diving jarak 50 meter dari tepi pantai, karena konon (saya belum pernah menyelam) terumbu karangnya bagusnya gak nyantai. Tapi saya beruntung karena bisa ke pantai Iboih dan bisa snorkeling, di sana kita bisa melihat ikan ala finding nemo tanpa effort dan terumbu karang warna warni, saking serunya teman saya mesti tersambar sengatan ubur-ubur, ya anggap saja sebagai kenangan-kenangan kali ya.

Mungkin yang terakhir, di sini jangan lupa untuk mencoba sate gurita dengan bumbu sate padang. Kalian mungkin akan terkesima bahwa, betapa enak dan potensial rasa makanan tersebut untuk diangkat dan dibawa ke mancanegara.

Mungkin kata dan kalimat tidak akan mampu menjelaskan betapa unik, indah, dan tidak tergantikan pengalaman saya berkunjung ke Banda Aceh ini, dan saya harap wisatawan Indonesia tidak malu-malu lagi dan menahan diri untuk pergi ke kota yang begitu penuh dengan kejutan ini. Ayo nabung, dan bagi yang baru nikah, jangan sungkan untuk bulan madu di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *