Checkpoint

Checkpoint

Manusia memiliki checkpoint dengan referensi dari kultur dan budaya masing-masing. Namun secara ekspektasi publik yang umum, kita dapat mendefinisikan titik tersebut menjadi tiga : menikah, punya anak, dan mati.

Tidak bisa dipungkiri setelah masa-masa prehistoris hingga world-war II berakhir, kehidupan menjadi lebih stagnan dan mudah diprediksi. Seseorang dituntut untuk mengikuti norma-norma yang berlaku dan mengikuti ekspektasi orang banyak. Semua orang seolah harus mengikuti target yang seragam, misal : memiliki rumah, memiliki mobil, memiliki istri, pergi bulan madu / traveling, punya usaha, dan ratusan lainnya. Hingga checkpoint keberhasilan tersebut seolah menjadi ekspektasi orang lain dan milik orang lain ketimbang menjadi sesuatu yang personal.

Maka checkpoint tersebut secara perlahan menjadi suatu harga mati untuk tercapai. Dan ketimbang menjadi referensi yang baik, ketimbang menikmati perjalanan, semua orang menjadi kehilangan fokus untuk menekankan untuk mencari sejumlah checkpoint tersebut, dan diperuntukkan untuk menyenangkan orang lain ketimbang pencapaian personal.

Padahal, bukankah pada akhirnya ini akan menjadi cerita dengan sudut pandang kita sendiri?

Panggil saja Adit misalnya, dari kecil ia dituntut untuk mendapatkan nilai A dan peringkat 10 besar, lalu harus lulus dengan gelar magna cum laude di usia 20, menikah di usia 25, punya usaha sendiri di usia 30, dan punya anak di usia 32. Hidup yang tadinya penuh kejutan dan kebahagiaan kecil perlahan menjadi neraka karena hal-hal kecil dianggap mempengaruhi masa depan anak tersebut. Karena sebaik-baiknya gaya hidup, moderatisme bukan? Untuk menjadi pribadi dengan memaksimalkan talenta, dan juga menikmati setiap langkahnya?

Penulis sendiri berpkir bahwa tugas manusia untuk berada di bumi ini adalah untuk membuat cerita kepada Penciptanya. Membuat sebaik-baiknya cerita ialah dengan memperjuangkan apa yang betul-betul personal, yang memberikan semangat di setiap paginya, bukan malah mengecam keputusan Tuhan untuk menempatkan manusia tersebut di tempat yang salah.

Dari ranah sosial media misalnya, kebanyakan kini manusia berlomba-lomba untuk memberikan imej ke publik, ketimbang menjadi dirinya sendiri. Seolah citra itu merupakan tujuan utama dari hidup, bukankah tujuan tersebut sesuatu yang personal?

Saya jauh lebih senang mendengar cerita-cerita dari anak kecil betapa mereka kagum dengan polisi, kagum dengan pemadam kebakaran dan tak sabar untuk menjadi mereka di kemudian hari. Dan orang tua yang terus membimbing anak tersebut untuk tumbuh dengan kombinasi realistis dan uang-bukan-segalanya.

Bukankah sekarang kita berada di zaman di mana umat manusia berada di puncak kebahagiaannya?

Logikanya, perang sudah berakhir, makanan sudah cepat saji, kita hanya perlu bekerja dan menabung sedikit untuk melarikan diri dari komunitas dan mengejar mimpi-mimpi kita. Namun apa daya kadang kita masih membiarkan definisi-definisi orang lain membelenggu keinginan-keinginan kita yang sebenarnya baik, namun karena tidak umum, tidak semuanya mau mendengarkan.

Biarkan checkpoint itu di sana dan membimbingmu, bahwa suatu hari kamu harus bertanggung jawab tentang keluarga dan tempat tinggal, namun sudah, stop di situ, sisanya, dengarkan hatimu.

Biarkan dirimu hilang di tengah belantara dunia ini, mencari kebahagiaan menjadi guru TK misalnya, dan mengubah dunia dari sudut pandang yang lebih personal, ketimbang menjadi seseorang yang muluk-muluk melulu harta. Dengan demikian, pagimu semangat, dan malammu pun nyenyak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *