3 Nasihat Tentang Karir Yang Mengubah Hidup Saya

3 Nasihat Tentang Karir Yang Mengubah Hidup Saya

Memilih karir, terutama ketika kita masih muda, liar (maupun konservatif), dan bebas, dapat menjadi begitu membingungkan. Dalam jangka waktu 5 tahun saja, saya sudah ingin menjadi 100 hal yang berbeda, dokter, ahli bedah syaraf, dokter hewan, pelayan di kafe ternama di Barcelona, penulis, penulis part-time, desainer grafis, editor di majalah, jurnalis yang mengangkat isu kompleks, kontroversial, dan sophisticated, programmer, UI/UX designer, konten kreator, inventor produk, entrepreneur, tech entrepreneur, dan juga, seorang presiden.

Lihat… Sebenarnya menginginkan begitu banyak hal tidak masalah kan? Ketika saya berada di jalur karir yang berbeda dengan karir yang saya selalu idamkan, semua masih dapat menjadi menyenangkan. Yang saya harap saya tahu sebelumnya adalah kita tidak perlu dikaitkan hanya dengan satu passion, satu karir, atau satu hal lainnya. Kita adalah manusia pada umumnya – kita memiliki keinginan yang jamak dan banyak, dan tidak dapat didefinisikan hanya karena satu keputusan yang kita buat.

Ketika saya mencari tentang apa yang mereka bilang “perfect career” saya bertemu dengan tiga mentor ini, mentor pertama ada di bidang akademisi, yang kedua di bidang korporasi dengan industri yang spesifik, dan yang terakhir seseorang dengan latar belakang entrepreneur. Dari mereka, akhirnya saya mendapatkan yang saya sebut “three cards” yang saya butuhkan, dan saya berpegang terhadap tiga nasehat itu hingga hari ini.

1.Akademisi: “Lihat kegagalan sebagai pelajaran”

Ia bertanggung jawab terhadap risetnya, mengalami masa mudah dan sulit dalam publikasinya. Satu hal yang menginspirasi saya soal perjalanan ia dalam dunia akademis adalah persistensi dan konsistensi yang ia miliki. Tidak ada yang dapat menghentikannya, terlepas itu biaya, algoritma kompleks, atau kepentingan politik, tiada yang dapat menghentikannya untuk berhasil dalam risetnya.

Bagaimana ia dapat mengubah kegagalan menjadi kesuksesan? Ia selalu dokumentasikan kegagalannya. Ia belajar dari kegagalan tersebut dan menjadikannya pelajaran yang begitu bernilai.

Dengan begitu banyaknya kegagalan dan juga pelajaran, ia dapat mengubahnya menjadi suatu kesuksesan yang tidak ternilai.
2.Korporasi: “Selalu tanya mengapa sebanyak lima kali… Dan tanya mengapa sekali lagi”

Mentor kedua mengajarkan untuk selalu bertanya mengapa. Ia termasuk visioner jika dilihat dari pengalaman kerjanya di sektor industri yang sama selama 8 tahun. Kehidupan korporasi mengajarkannya untuk tidak pernah berhenti berinovasi. Kehidupan korporasi dapat diasosiasikan dengan paperwork, bisnis proses, dan pekerjaan yang berbelit-belit, di mana itu juga dapat menjadi suatu karir yang dapat dibilang oportunis untuk karir jenis apapun. Ia mengajarkan saya tentang cara kerja Toyota, cara bekerja paling efektif untuk mengetahui apa yang anda mau adalah dengan bertanya mengapa sebanyak 5 kali. Mengapa 5 kali? Saya sendiri tidak begitu yakin, nanti akan saya cari alasannya mengapa (jika anda tahu, bisa langsung komen di kolom bawah), namun yang saya tahu, bahwa hal itu berhasil diimplementasikan. Dengan bertanyak ke diri anda sendiri, anda dapat menuju ke inti permasalahan dan alasan mengapa anda milih suatu opsi. Saya akan memberikan gambaran:

  1. Saya mau menjadi dokter. Mengapa? Karena menjadi dokter merupakan karir yang aman dan memiliki karir yang jelas
  2. Mengapa? Karena saya ingin merasa aman secara finansial maupun akademis
  3. Mengapa? Karena menjadi aman berarti saya tidak perlu khawatir tentang banyak hal
  4. Mengapa? Karena saya mau memiliki hidup yang memiliki makna
  5. Mengapa? Karena saya mau menjadi bahagia

Mengapa? Karena tujuan hidup saya adalah menjadi bahagia.

Tentang konsep ini adalah ketika anda sampai di mengapa yang terakhir, anda akan selalu mendapatkan jawaban yang sama. Mengapa? Karena tujuan hidup saya adalah menjadi bahagia. Menjadi dokter merupakan salah satu cara untuk menjadi bahagia, menjadi biksu atau guru merupakan cara untuk menjadi bahagia. Tidak ada hal yang benar ataupun salah. Ikuti saja apa yang anda rasa paling benar (bukan hal yang anda pikir paling benar), dan jadilah pilihan anda tersebut.

3.Entrepreneur : “Bermain, dan jangan pernah berhenti bermain”

Mentor ketiga memiliki cara yang berbeda. Ia mengajarkan untuk mengambil resiko dan selalu mengingat untuk tetap menikmati setiap keputusan yang akan saya ambil, secara personal maupun profesional. Dia mengajarkan saya untuk bermain dan bereksperimen, dan belajar

Ini juga mengajarkan saya untuk melakukan hal yang benar-benar saya cintai, jangan pernah takut. Saya belajar untuk tidak pernah melakukan sesuatu karena hanya “saya harus melakukan”. Saya melakukan, bekerja, dan permain, sekedar karena saya mau melakukannya.

Tidak pernah saya menyesali pilihan yang saya pilih. Termasuk juga pilihan yang buruk. Termasuk juga pilihan yang membuat saya merasa sangat bodoh. Termasuk ketika saya harus mengadapi bos yang tidak menyenangkan, kolega yang membosankan, dan pekerjaan membosankan yang menguras hati nurani saya. Karena pada akhirnya, semuanya merupakan anugerah ataupun pelajaran. Ketika anda keluar dari sekolah ataupun universitas, bersiaplah untuk mencoba apapun itu. Ambil kelas film, daftar untuk mempelajari programming, apply untuk internship yang anda pikir dapat menjadikan anda lebih baik. Ketika anda gagal atau berganti pikiran, tidak masalah.

Jangan menghukum diri anda ketika anda gagal, berterimakasihlah kepada diri anda untuk mencoba dan beralih ke hal selanjutnya.