Ketika Hidup Mulai Berliku

Ketika Hidup Mulai Berliku

Lahir dari keluarga pejuang hidup.

Saya tumbuh seiring dengan perkembangan ekonomi keluarga saya.

Berawal dari kontrakan petak sampai ke rumah berwarna putih.

Tumbuh besar dalam lingkungan menengah keatas membuat saya selalu melihat keatas. Tidak pernah puas adalah rasa yang ada di batin saya. Bermain perbandingan merupakan hal yang biasa dilakukan. Dan Orang tua saya selalu berusaha sekuat tenaga menempatkan saya di posisi yang nyaman. Selalu memberi apa yang saya minta dan memenuhi kebutuhan lainnya. karena mereka tahu susah itu tidak enak.

Berada di posisi yang nyaman dalam kurun waktu yang lama membuat saya menjadi tidak bisa apa-apa. Setiap pergi harus pakai mobil. Cuaca panas dikeluhkan. Uang jajan berkurang tidak terima. semua selalu terurus

Sama seperti sebuah perjalanan, ada kalanya kita menemukan hal yang tidak terduga.

Buat saya itu adalah saat saya harus pindah benua.

Waktu itu dalam benak saya, anak manja berumur 17 tahun, pindah benua adalah hal yang sangat menyenangkan. Pergi ke tempat baru, belajar bahasa lain, mengenal budaya asing. Bayangan yang penuh dengan canda dan tawa.

Ternyata tidak.

Pindah benua adalah kerja keras.

Menguasai bahasa baru tidaklah mudah. Kalau hanya sekedar bahasa sehari-hari saja tidak masalah. Tapi untuk bisa hidup dan bekerja, saya butuh banyak kosa kata, dan bahasa menjadi elemen terpenting dalam hidup.

Selain bahasa ada juga perbedaan kultur. Apa yang dianggap tidak biasa di tempat kelahiran menjadi hal biasa disini , begitu juga sebaliknya.

Yang paling sulit adalah bekerja paruh waktu.

Pindah benua bukan hal murah dan setelah tahun ke 3 saya di tempat baru, saya merasakan kesulitan keuangan yang sangat besar. Ini menuntut saya untuk bekerja paruh waktu.

Saya pernah bekerja di banyak tempat. Mulai dari menyediakan makanan di panti jompo, menjadi pelayan restoran di dalam museum, bekerja di pabrik obat, di restoran Indonesia dll.

Percayalah menurunkan standar hidup adalah hal yang sangat sulit.

Awalnya saya tidak terima dan setengah mati kesulitan untuk beradaptasi. Percayalah menurunkan standar hidup adalah hal yang sangat sulit. Tapi saya sadar ada kalanya kita harus mengalahkan ego demi bertahan hidup.

Hari ke hari saya jalani kehidupan baru dengan kesulitan dan tantangan yang beraneka ragam. Kadang senang kadang sedih. Sebenarnya tidak jauh berbeda dengan sebelumnya.

Yang beda hanyalah pikiran saya yang penuh rasa kecewa dan sedih tanpa alasan. Padahal saya tahu benar kalau tidak ada jalanan yang hanya lurus saja. Saya butuh melewati beberapa tikungan untuk bisa sampai ke tujuan.

Untuk meringkan perasaan gusar dan mengusir khawatir, saya mencoba untuk berbahagia dan menghitung berkah. Mulai dari bangun tidur sampai terlelap lagi.

Yang terakhir adalah punya hobby.

Bagi saya punya banyak hobby merupakan suatu keuntungan. Karena saat hidup mulai terasa membosankan kita bisa keluar sedikit untuk bahagia. Jangan berhenti mencari cara untuk mengerjakan apa yang kita suka dan hobby yang diseriusin juga bisa menghasilkan uang, tingggal bagaimana kita mengolah ide yang ada.

Jadi, ketika hidup mulai berliku, ikuti saja alurnya bawa suasana hati yang baik , sambil kau bersiap diri. Karena kita tidak tahu di balik setiap tingkungan akan ada kejutan apa.

Selamat berjuang!

One Response
  1. Semangat ka Vina, Viel Glueck fuer dich!!!!!

Comments are closed.