Persamaan Bursa Transfer Pesepakbola dan Kita yang Hendak Pindah Perusahaan

Persamaan Bursa Transfer Pesepakbola dan Kita yang Hendak Pindah Perusahaan

Sebagai penikmat sepakbola, ada setidaknya 2 periode yang selalu saya nantikan setiap musimnya yaitu; periode transfer musim dingin dan transfer musim panas. Dalam periode ini tingkat kesibukan klub sepakbola biasanya bertambah secara eksponensial; ada yang sibuk memburu pemain baru sementara yang lain sibuk mempertahankan aset terbaiknya.

Bursa transfer musim dingin kali ini memang telah resmi ditutup pada tanggal 1 Februari lalu, namun tak ada salahnya bila saya sedikit menyinggungnya di artikel kali ini bukan? Kalau dari sudut pandang saya, sesungguhnya saya melihat aktifitas pada bursa transfer pesepakbola tak ubahnya seperti kegiatan sehari-hari kita kita di dunia profesional yang memutuskan untuk hijrah ke perusahaan lain.

Setidaknya ada 3 alasan mengapa seorang pesepakbola menginginkan perpindahan dari satu klub ke klub lainnya. Poin-poin ini akan saya jelaskan lebih dalam dan saya ingin membandingkannya dengan realitas kita dalam dunia professional.

Pindah ke klub yang lebih besar.

  • Pesepakbola: salah satu alasan klasik para pemain yang dilabeli sebagai rising star, wonderkid, atau apapun julukkannya untuk berpindah klub. Memang godaan untuk bermain di klub ternama macam Real Madrid, Barcelona, MU, Juventus, Bayern atau Chelsea sulit untuk ditolak. Belum lagi ketenaran yang akan didapat dengan berlaga di liga-liga kelas 1 benua Eropa dan juga tentunya jangan lupakan kesempatan untuk berlaga di ajang tertinggi seperti Liga Champions.
  • Kita: kalau pesepakbola pindah ke klub yang lebih besar, mungkin kasusnya akan sama bila kita ditawari pekerjaan di perusahaan / korporasi multinational. Ya, bayangkan saja bila ketika Anda sedang suntuk di kantor, tiba tiba ada telepon dari headhunter yang memberikan Anda offer untuk bergabung di perusahaan sekaliber google, Microsoft, Citi, Chevron atau Unilever. Akan sulit menolaknya bukan? Selain rasa kebanggaaan yang nanti bisa Anda pamerkan kepada teman atau bahkan calon mertua (?), tidak menutup kemungkinan bahwa nantinya Anda akan bisa mendapatkan kesempatan untuk berkarir di level International. Selain itu, ingatlah selalu quote berikut ini: “If you are the smartest person in the room, then you are in the wrong room”.

Mendapatkan lebih banyak menit bermain.

  • Pesepakbola: Alasan ini merupakan kebalikan dari poin pertama. Beberapa pemain sepakbola rela pindah ke klub yang lebih kecil untuk mendapat menit bermain yang lebih banyak. Alasan ini jelas masuk akal, tujuan pesepakbola jelas untuk bermain di atas lapangan hijau. Bila kesehariannya terus menerus latihan, menjaga kebugaran, dan pola makan tetapi output-nya hanya untuk menjadi penghangat bangku cadangan, buat apa gunanya?

Menganggur dan berselancar di dunia maya sesekali memang menyenangkan kalau dalam konteks untuk refreshing. Tetapi bila pekerjaan Anda seharian penuh hanya gonta-ganti tab browser dari detik, facebook, dan youtube maka jelas ada yang salah.

  • Kita: kadang kita terjebak pada posisi yang sama layaknya pesepakbola; bekerja di tempat yang memiliki reputasi lumayan oke tetapi pekerjaan yang dilakukan dirasa membosankan dan insignifikan, mungkin akan terlintas dipikiran Anda untuk mencari tantangan baru. Menganggur dan berselancar di dunia maya sesekali memang menyenangkan kalau dalam konteks untuk refreshing. Tetapi bila pekerjaan Anda seharian penuh hanya gonta-ganti tab browser dari detik, facebook, dan youtube maka jelas ada yang salah. Kalau sudah seperti ini sih ada baiknya untuk memulai mencari perkerjaan di tempat lain dimana Anda bisa berkarya daripada terus menerus mengalami degradasi kemampuan otak.

Mendapatkan gaji yang lebih banyak.

  • Pesepakbola: kalau ini sih alasan paling klasik yang sulit ditolak kebanyakan orang. Fenomena akuisisi klub oleh individu maupun grup konglomerat memang sudah marak di ranah sepakbola. Contohnya Chelsea yang dimiliki oleh raja minyak Rusia, Manchester city yang dinahkodai oleh sheikh dari Uni Emirat Arab, maupun PSG yang digandeng oleh Qatar Investment Group. Para pemilik baru klub tersebut biasanya memiliki kesamaan yaitu ingin meraih sukses secara instan. Oleh sebab itu, uang senilai ratusan juta Euro pun rela digelontorkan untuk menggoda pemain ternama. Godaan uang pun nampaknya sulit untuk diabaikan bahkan untuk pesepakbola. Ya, memang uang dibutuhkan untuk mendukung lifestyle mereka yang penuh dengan dunia glamor. Maka jangan heran bila ada ada saja pemain yang rela pindah ke klub rival atas nama uang.
  • Kita: bila pesepakbola saja butuh uang apalagi kita? Bila Anda ditawarkan pekerjaan dengan gaji senilai 2 atau 3 kali lipat gaji Anda sekarang maka akan sulit ditolak bukan? Dengan banyaknya kebutuhan seperti cicilan rumah, mobil, asuransi, biaya pernikahan atau dana pendidikan anak, maka sejujurnya saya akan agak skeptis bila ada orang yang menolak penawaran untuk bekerja diperusahaan yang menawarkan gaji selangit.

Pada akhirnya, memang dalam mencari pekerjaan baru ada faktor faktor lainnya yang ikut mempengaruhi seperti kecocokan posisi, kebijakan peraturan management, atau mungkin jarak antara tempat bekerja dan rumah. Tetapi 3 faktor yang sudah saya sebutkan diatas seringkali menjadi alasan utama bagi kita yang saat ini sedang mencari perkerjaan baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *