Bisikan Pilu Bahasa Ibu

Bisikan Pilu Bahasa Ibu

Bagaimana rasanya ingin mengungkapkan sesuatu, namun tak bisa mengucapkannya? Mulut sudah terbuka, namun tak ada suara yang menerjemahkan kata. Pernah terbayang?

Sama seperti ketika kamu ingin menyatakan cinta ke gebetan, tapi sayang hanya sebatas kode.

Mungkin itu yang dirasakan oleh berbagai bahasa yang perlahan mulai punah di sudut-sudut dunia, termasuk di Indonesia. Populasinya berkembang biak dan menjelma manusia modern yang nantinya menjadi warga dunia sehingga lebih familiar dengan bahasa asing.

Tapi perkembangan bahasa ibu atau daerah asalnya tidak sepesat itu. Sebaliknya, ia kian tersingkir, disudutkan oleh waktu hingga tak sanggup berteriak lantang di pusat kota dan menyisakan bisikan di pinggiran.

Atau paling tidak, bahasa ibu hanya terdengar sayup-sayup sebagai kidung sebelum tidur atau ungkapan rindu ke kampung halaman. Selebihnya, ia hanya keluar dari mulut penduduk asli yang masih bertekad menjaganya sampai akhir hayat. Karena jika diucapkan, yang ada malah tulalit akibat hanya sedikit yang melestarikan bahasa ibu di rumah.

Kembali lagi ke bahasa ibu, Indonesia sangat kaya akan bahasa daerah. Tiap suku pun punya sub-bahasa dan dialek tersendiri yang sebetulnya menarik untuk dipelajari, sehingga kita pun dapat menelusuri asal muasal daerah dimana bahasa itu digunakan. Jangankan kata, dari imbuhan pun kita dapat mengenalinya. Kalau sebuah kata berimbuhan “-nya”, di Jawa diganti “-ne”, di bumi Pasundan diganti “-na”, Sumatera Barat diganti “-nyo”, di tanah Betawi diganti “-nye”. Jika ada penekanan huruf pada suatu kata – mapparola, misalnya, sudah bisa terbayang kalau asalnya dari ranah Bugis. Contoh mininya begitu, karena terlalu panjang jika dijelaskan satu persatu dan lama-lama jadi blog muatan lokal, saking kayanya. Mohon dicatat, SAKING KAYANYA. Sehingga orang-orangnya sendiri kelabakan melestarikan bahasa ibu ke generasi selanjutnya.

Ibarat ibu kita sendiri, bahasa ibu menuntun kita untuk menelusuri dari mana kita berasal melalui kata-kata. Menjelajahi generasi dan pada akhirnya meneruskan ke anak cucu agar mengenal betul asal usulnya, sejauh apapun kelak kita semua akan melangkah. Membawanya kembali ke tengah-tengah peradaban dengan gagah berani, menjaganya dari kepunahan. Jika di rumahmu masih ada yang menggunakan bahasa ibu di rumah, pertahankan dan tak perlu malu menggunakannya saat di luar rumah. Jangan lupa berterima kasih kepada keluargamu yang mewariskannya padamu.

Teman-teman kita dari suku Indian pun mengungkapkan kegelisahan yang sama dalam video ini. Dikungkung oleh penjajah negeri sendiri, rupanya mereka masih ada niat untuk melestarikan bahasa ibu di suku masing-masing, yang bisikannya semakin pelan.

Bulan Bahasa memang jatuh delapan bulan lagi, namun jangan biarkan bahasa ibumu – bahasa ibu kita, terus berbisik dalam pilu.

RDP