Bagaimana mungkin kita bisa membenci Leicester City?

Bagaimana mungkin kita bisa membenci Leicester City?

Dunia sepakbola khususnya Premier League sedang dihebohkan oleh satu fenomena bernama Leicester City. Bila anda bukan penggemar Premier League mungkin nama Leicester City akan terasa asing. Akan tetapi, musim ini roda bak berputar 180 derajat untuk Leicester City. Mereka yang hampir saja terdegradasi ke divisi Championship musim lalu, kini bisa ongkang-ongkang kaki di puncak klasemen. Ya, Leicester City merupakan sebuah fenomena kekinian dan topik yang hangat dibicarakan oleh penggemar sepakbola mulai dari warung kopi hingga ke forum-forum di internet.

Musim ini Leicester City memang fantastis, sedari awal musim mereka telah bercokol di papan atas klasemen dan menjelma menjadi tim kuda hitam untuk merusak dominasi tim-tim besar lainnya. Pada awalnya pun saya sempat skeptis bahwa mereka bisa bertahan di papan atas klasmen untuk waktu yang lama.

Lebih lanjut terkait dengan fenomena ini, saya menemukan sedikit anomali pada komentar komentar dari publik dunia maya terhadap pencapaian Leicester City musim ini. Para netizen secara seragam melontarkan puji-pujian dan rasa salut setinggi langit pada pemain dan pelatih Leicester City. Sentimen yang berbeda terjadi ketika contohnya Manchester City mencoba mendobrak persaingan pada musim 2011/2012. Para pengguna forum sepakbola, sosial media, dan dunia maya pada umumnya -termasuk saya- mencibir dan memberikan sentimen negatif pada mereka. Hal inilah yang kemudian membuat saya bertanya tanya, “Mengapa kita tidak bisa membenci Leicester City?”

Sebenarnya ada banyak sekali alasan, yang apabila dibahas akan dapat memakan waktu berjam jam. Akan tetapi, pada kesempatan kali ini saya hanya akan membahas dua alasan yang menurutnya paling menarik untuk dibahas.

Lalu yang menarik disini, mengapa kita bisa dengan mudahnya menyukai tim underdog? Jawabannya mudah saja, karena dalam satu titik dalam kehidupan kita pasti juga pernah menjadi underdog. Kita pernah menjadi orang yang diremehkan dan tidak diunggulkan.

Pertama, karena Leicester City adalah tim underdog atau si-yang-tidak-diunggulkan. Bila kita lihat dengan seksama, skuat Leicester City musim ini bukan terdiri dari pemain kelas wahid dan memang jauh dari kata ‘Wah’. Sebelum musim ini bergulir, saya sendiri hanya mengetahui 4 nama dari seluruh line-up Leicester City, yaitu: Kasper Schmeichel (karena pernah bermain di Premier League musim 2009), Robert Huth (karena mantan pemain Chelsea), Christian Fuchs (karena mantan pemain Schalke 04 ini sering bertemu Chelsea di Liga Champions), dan Jamie Vardy (karena bermain bagus saat mereka menang 5-3 melawan MU musim lalu). Selebihnya, jujur saja saya sedikit buta terhadap kedalaman skuat Leicester City.

Lalu yang menarik disini, mengapa kita bisa dengan mudahnya menyukai tim underdog? Jawabannya mudah saja, karena dalam satu titik dalam kehidupan kita pasti juga pernah menjadi underdog. Kita pernah menjadi orang yang diremehkan dan tidak diunggulkan. Namun, apa yang terjadi ketika kita dapat menjungkalkan ekspektasi banyak orang? Seketika senyum merekah, adrenalin melaju, dan hati berbunga bunga seakan kita dapat dengan bangga menepuk dada sembari berkata “I am way better than you expected“. Mungkin ketika menonton Leicester City berjuang mengalahkan tim besar nan mapan, Anda seperti merasa sedang melihat sekelumit diri Anda sendiri berjuang mengalahkan pandangan dari orang yang sedang meremehkan Anda.

Bila Anda merasa alasan tersebut terlalu sentimentil, mungkin Anda ada benarnya juga. Mungkin Anda menyukai tim underdog karena memang Anda berjiwa rebel dan menyukai kejutan dan keonaran terhadap keteraturan di pucuk klasemen. Mungkin.

Alasan kedua karena Leicester City berani tampil beda dengan gaya permaian mereka yang sangat anti-mainstream dan direct. Ketika kebanyakan tim-tim pesepakbola saat ini berkitab pada possession football dengan menggunakan formasi hafalan 4-2-3-1, Leicester City berani tampil beda dengan menggunakan pola 4-4-2. Lewat sistem kick and rush ala Inggris yang sangat direct diperagakan oleh Leicester City membuat saya bernostalgia kembali ke jaman era awal tahun 2000-an. Saat ini, hampir semua tim di Premier League memiliki filosofi bahwa ball possession merupakan kunci untuk meraih kemenangan. Memang sih, possession dibutuhkan kalau mau mencetak gol, dan sebaliknya bagaimana musuh bisa membobol gawang kita bila kita menguasai bola.

Bagaimanapun juga, agaknya Leicester City punya filosofi yang berbeda untuk mencetak gol. Filosofi simpel ini adalah: “Tendang saja bola-nya kedepan”, kalau gagal ya tinggal coba lagi, toh permainan berlansung selama 90 menit. Filosofi simpel ini seperti membawa kembali saya pada momen di masa SD dan SMP, bermain sepakbola di lapangan tanah merah pada sore hari menjelang Maghrib. Saat itu, permainan sepakbola terasa sangat sederhana. Karena anak anak menyukai banyak gol, maka tujuan dari permainan adalah mencetak gol sebanyak-banyaknya. Caranya pun mudah dan tidak bertele-tele, tinggal rebut bola dari penguasaan lawan, oper kedepan, lalu tembak bolanya melewati kiper lawan. Tidak perlulah berlama lama mengoper bola di area lawan sembari mencari celah dipertahanan lawan.

Jadi, pada intinya menurut opini pribadi saya, sudah terlalu banyak tim yang terlalu memuja penguasaan bola dan seringkali lupa bahwa tujuan dari permainan adalah mencetak gol. Untung saja pada musim ini Leicester City hadir sebagai alternatif hiburan yang memainkan sepakbola dengan cara yang sedikit nyentrik dan tentunya menghibur. Bahkan setelah Leicester City berhasil mengalahkan tim favorit saya Chelsea, bagaimana mungkin saya dapat membenci Leicester City?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *