Memiliki Pekerjaan?

Memiliki Pekerjaan?

Pekerjaan kini tidak lagi memiliki makna yang menyempit jika dibandingkan dengan era terdahulu.

Kini semua bisa dikatakan menjadi pekerjaan walaupun tidak memberikan kontribusi signifikan ke masyarakat, perusahaan bisa dihargai milyaran dollar, walaupun tidak memiliki pendapatan sepeserpun. Apa yang bergeser?

Makna pekerjaan sendiri berasal dari KBBI yakni : sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah; mata pencaharian. Pekerjaan menjadi suatu kombinasi antara pertukaran barang dan jasa, namun karena ketidakcocokan antar pertukaran, dan diperlukannya standarisasi untuk sistem pembayaran, maka uang diperkenalkan. Sekitar 1000 tahun sebelum masehi, uang diperkenalkan dengan bentuk yang seragam berupa pisau kecil perunggu untuk ditukarkan [1]. Namun pada sistem ekonomi yang begitu riilnya pada waktu itu, uang belum menjadi sesuatu hal yang fundamental, karena mereka sadar bahwa pertukaran pertukaran barang dan jasa lah yang memutar roda perekonomian.

Layaknya budaya yang berubah tergerus, dan kadang lupa dari mana asal muasalnya. Nilai uang sendiri yang tadinya hanya sekedar representasi pertukaran, berubah secara perlahan menjadi tolak ukur kekayaan. Semua manusia kini bergeser untuk mengejar uang sebagai suatu kebutuhan, dan melupakan bahwa seseorang atau suatu negara dapat dinyatakan kaya ketika mereka produktif, kreatif, menciptakan dan memberikan sesuatu hal yang memberikan kontribusi ke masyarakat [2]. Namun apa yang terjadi ketika kita lupa secara serentak dan bersamaan? Maka suatu masyarakat seolah mengikuti suatu sistem berulang yang terus menerus tanpa benar-benar tahu apa yang dimaksud dengan pertumbuhan ekonomi ataupun pertumbuhan kesejahteraan.

Ironisnya, umumnya suatu negara yang umumnya memiliki kekayaan riil secara teritorial umumnya terjebak dengan angka kemiskinan dan pengangguran yang signifikan, negara di wilayah tropis misalnya. Secara intuisi, masyarakat yang dikatakan beruntung karena tidak pernah harus berpikir tentang hari esok karena kekayaan alamnya melimpah, kini mengais-ngais pekerjaan ke Multi National Companies yang notabene tidak lahir dari negara tropis. Kebetulan juga, di negara Indonesia ini masih mengarahkan generasi mudanya untuk melanjutkan pendidikan yang tinggi agar memiliki upah yang lebih baik. Akan menjadi suatu paradoks di suatu hari, ketika di awal buruh adalah suatu yang murah, dan 20 tahun yang akan datang menjadi tenaga ahli yang mahal, dan pabrik pun akan hengkang ketika operational cost meningkat, namun sebagai tenaga kerja semua sudah tergantung dengan upah.

Karena ketika UMR (Upah Minimum Regional) menjadi suatu patokan kesejahteraan, maka ini akan melahirkan masalah baru yakni inflasi. Bayangkan saja kita secara terus-menerus meningkatkan gaji karyawan semua perusahaan. Daya beli jelas akan meningkat, namun jika ketersediaan produk tetap minim, dan operational cost untuk menciptakan produk meningkat karena biaya karyawan, ekonomi akan kembali ke tahap awal tanpa menyelesaikan masalah. Lalu apa penyelesaiannya?

population_data_indonesia

Source : Indonesia Employment at https://www.quandl.com/collections/indonesia/indonesia-labour-employment

Sebagai negara yang bisa diandalkan dengan jumlah pekerja sekitar 120 juta, dengan pertumbuhan populasi 1.5% setiap tahunnya. Sangat bisa diprediksi bahwa perusahaan-perusahaan lokal maupun internasional lama kelamaan akan terus kesulitan untuk menampung seluruh penduduknya. Dari opini subjektif penulis tersendiri, Indonesia belum memiliki visi yang jelas soal ketenagakerjaan, lain dengan Cina yang menjadikan rakyatnya senjata dengan dua amunisi yakni : konsumen terbesar & produsen termurah terbesar. Mereka menjual jasa pekerjanya dan fokus untuk membangun keahlian agar sesuai dengan ekspektasi investor.

division_data_indonesia

Source : Indonesia Employment at https://www.quandl.com/collections/indonesia/indonesia-labour-employment

Dengan data terakhir masyarakat Indonesia menunjukkan mayoritas pekerja masih berada di lingkup agrikultur, manufaktur, dan service. Dengan kekuatan 120 juta manusia yang bekerja di bidang tersebut, belum ada inisiatif untuk menjadikan mereka sebagai tenaga ahli yang mampu meningkatkan produktivitas mereka dibanding negara lain. Sekumpulan petani misalnya, masih dibiarkan dengan teknologi primitif yang dapat dipastikan kalah produktif dengan satu orang yang memiliki mesin agrikultur mulai dari penaburan benih hingga pengolahan benda jadi.

Kembali ke awal. Lalu apa solusinya?

Sebagai tenaga buruh, penulis melihat ada kewajiban dari setiap tenaga ahli untuk menghabiskan setiap peser uangnya untuk hal yang menjadikan mereka lebih kompetitif dari negara lain. Sebagai generasi muda, sangat ditekankan untuk belajar agar mampu menciptakan pasar tenaga kerja yang baru, mencari celah dari data-data yang dimiliki dan mengangkat derajat dengan cara-cara yang non-konvensional. Sebagai pengusaha, dibutuhkan kebijakan yang lebih dalam ketimbang menaikkan upah ketika keuntungan perusahaan meningkat, ketimbang gaji yang meningkat, lebih baik gunakan program pembiayaan sekolah anak secara gratis, karena kadang prioritas masyarakat masih berada di lingkup hiburan yang semu.

“jika ada problem tentang banyaknya kemiskinan, maka cara menguranginya ialah dengan menghukum mati mereka yang miskin, atau membiarkan mereka mati perlahan”

Lalu bagaimana dengan pemerintah yang seolah memiliki andil paling mumpuni? Jujur kita butuh menteri yang terus mencari root problem, bukan menyelesaikan masalah dengan masalah. Anggap simpelnya, bukan pemimpin yang “jika ada problem tentang banyaknya kemiskinan, maka cara menguranginya ialah dengan menghukum mati mereka yang miskin, atau membiarkan mereka mati perlahan”. Pemerintah diwajibkan untuk memberikan kesempatan, tidak harus kesempatan yang bombastis seperti pemberian lahan besar-besaran. Pemerintah harus turun dan memperhatikan flowchart / business model yang terjadi selama ini di pedesaan, lalu memberikan solusi dengan terus menerus memonitor sampai akhirnya solusi yang diusung tersebut berhasil ataupun gagal. Namun harus ada usaha, bagaimana melihat problem yang nampaknya dihiraukan oleh orang banyak ini.

Sebagai masyarakat Jakarta, kita terbuai dengan gaji yang monoton, dan kestabilan. Ketika isu tentang resesi ekonomi mulai diangkat, sangat umum bagi individu untuk melihat ini sebagai hal yang mematahkan semangat dan menyalahkan segala kebijakan. Namun pemerintah hanya representasi dari masyarakatnya tersendiri bukan?

 

RG

 

Referensi:
[1] David Graeber: Debt: The First 5000 Years, Melville 2011. Cf.http://www.socialtextjournal.org/reviews/2011/10/review-of-david-graebers-debt.php Archived 10 December 2011 at the Wayback Machine
[2] Kendrick, John W. (1961). Productivity Trends in the United States (PDF). Princeton University Press for NBER. p. 3.
[3] Featured Images: Unknown, http://www.indonesia-tourism.com/forum/showthread.php?47352-Pasar-Terapung-(Floating-Market)-Muara-Kuin-in-Banjarmasin-Indonesia

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *