Jurus Silat Lidah Menghadapi Pertanyaan "Kapan Nikah?"

Jurus Silat Lidah Menghadapi Pertanyaan "Kapan Nikah?"

Setahun lagi, umur saya seperempat abad, kalau diizinkan sama Sang Pencipta untuk sampai ke sana. Kalau dilihat lagi ke belakang, dua tahun terakhir saya mulai jadi sasaran empuk siap tinju dari segala penjuru, dengan satu pertanyaan mematikan : kapan nikah?

Kalau keluar dua kata itu, beberapa dari kita langsung terjengit, seolah “kapan nikah” sama horrornya dengan menyebut nama Voldemort. Istilah lebaynya sih gitu.

Ada yang senasib? Satu, dua, tiga, seratus, seribu…ah, saya nggak sendirian ternyata.
Awalnya saya menganggap santai pertanyaan ini. Bisa saja basa-basi, wong orang tua saya pribadi nggak mencak-mencak minta menantu. Mungkin para penanya ini belum menemukan topik yang lebih cocok sehingga melontarkan pertanyaan “kapan nikah” ke saya. Mungkin juga karena yang bertanya tidak dihujani pertanyaan serupa┬ásehingga mereka nggak memaklumi pertanyaan itu sensitif buat muda-mudi seangkatan saya, sampai mereka jengah.

Tapi di mata beberapa orang, saya diimbau untuk bergegas ke pelaminan gara-gara pertanyaan “kapan nikah” ini. Apalagi di saat yang sama, satu demi satu teman-teman saya naik pelaminan, diantaranya dengan yang seumuran. Alhasil dengan situasi yang belum sepenuhnya stabil, dua kata ini jadi makin sensitif di kuping saya. Dan mereka menanyakan kapan saya menyusul dengan nada datar nan riang.

Tahu apa yang saya rasakan?
Perih. Kadang serasa ‘kebalap’, padahal menikah sama sekali bukan perkara balapan. Lalu dari situ muncullah rasa terbebani karena takut terlalu asyik dengan dunia sendiri.

Sempat nyaris terbuai dengan ajakan di berbagai media sosial untuk segera menikah muda. Setidaknya, dengan menikah muda bisa mengakhiri gempuran pertanyaan “kapan nikah” itu tanpa rasa bersalah.

Tapi tunggu dulu. Tidak selamanya menikah muda jadi jurus pamungkas. Setelah rajin melipir ke platform dunia pernikahan dan menjalani realita bahwa kami belum sepenuhnya sanggup dan siap, begini jawaban saya saat ditanya kapan nikah:

“Doain dong, biar ada yang minta restu ke ayah-ibu saya.”, atau
“Sedang diusahakan” walau belum tahu kapan waktunya.

Walhasil, pertanyaan maut itu mereda berkat jurus silat lidah barusan.

Karena percayalah, berkelit hanya dengan jurus “Kalo nggak Sabtu ya, Minggu” tidak membuat mereka berhenti bertanya-tanya hingga lidahmu kelu menjawabnya.

 

RDP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *