Terorisme dan Rasa Takut

Terorisme dan Rasa Takut

“Kami tidak takut.”

Penulis sendiri berada tidak sampai lima kilometer dari tempat kejadian, karena kebetulan perkantoran seperti pada umumnya terletak di kawasan Sudirman hingga Thamrin. Namun hari itu, saya berada di kantor dengan pekerjaan yang tiada habisnya, dan kebetulan hari itu ada tamu dari Malaysia untuk diskusi transisi bisnis, dan project yang kebetulan baru menang.

Saya berangkat agak telat ke kantor, dan saya tiba di kantor sekitar setengah sebelas, hanya untuk melihat semua orang berkumpul di satu cubicle dan berteriak “eh itu beneran!?” beberapa kali. Saya yang baru meletakkan tas saya pun melihat berita online yang menceritakan kejadian bom tersebut. Saya yang sudah terkontaminasi dengan budaya perkotaan, bukannya merasa panik atau apa, saya malah melihat email terbaru dan membalasnya satu per satu.

Hingga akhirnya ada kabar terbaru bahwa teroris berhasil melarikan diri menuju Slipi, Palmerah, hingga Alam Sutera, dan masih ada 7 titik pengeboman lainnya. Saat itu saya mulai panik dan bertanya-tanya ke rekan kerja saya apa yang sebenarnya terjadi. Namun setelah beberapa saat, saya pun kembali ke cubicle saya hanya untuk membalas email, dan saya beberapa kali melihat group chat di handphone saya menunjukkan video ledakan satu dan tembakan antar polisi dan pelaku.

Tak lama dari kejadian itu, saya berbicara dengan tamu saya, dan diskusi sebentar untuk kejadian tersebut, dia hanya bilang “fuck, this is crazy la”. Saya hanya mengangguk lalu kembali ke ruangan.

Jam menunjukkan jam 1, saya melanjutkan makan siang dengan jumlah orang sama ramainya ketika hari biasa, saya sadar bahwa tidak ada orang yang pulang, padahal kantor saya ada di kawasan kejadian tersebut. Jam 2, saya kembali kedatangan tamu, yang bercerita harus menghindari tempat kejadian, hanya untuk bertemu saya dan bicara bisnis. Padahal di luar sana, baru aja ada ledakan sekitar 6 kali, tapi orang ini datang hanya untuk bicara bisnis.

Saya sadar bahwa, entah karena selama ini pembaca berita disuguhkan berita yang selalu bombastis secara judul, ketika kita membaca sesuatu yang begitu bombastis dan dekat dengan kita, kita menjadi mati rasa dan kehilangan rasa panik kita. Karena kita terbiasa untuk mendengar berita tentang jatuhnya pesawat, ledakan di Paris, bom di Istanbul. Seolah ada saraf takut kita yang malah menjadi kebal karena terlalu sering mendengar cerita tersebut.

Di era social media kini pun, kejadian yang nyatanya harus ditanggapi dengan serius malah terkesan orang mempermainkan kejadian ini seolah tidak ada apa-apa. Ada yang malahan bercerita di akun social medianya, lebih takut ketika ada macet yang tidak diduga-duga ketimbang aksi terorisme. Bukan bermaksud untuk menjadi warga yang terlalu serius, namun ada suatu reflek yang hilang dari masyarakat. Mereka berkilah bercerita bahwa ini solidaritas masyarakat Jakarta yang tidak takut.

Namun nampaknya ini malah menunjukkan tingkat stress masyarakat Jakarta begitu tingginya, hingga hal-hal seperti ini menjadi lelucon sehari-hari. Bela sungkawa pun hanya ada di satu-dua jam pertama, hingga pada akhirnya berakhir mengomentari kenapa ada polisi ganteng berkeliaran pakai kaos lengan pendek.

Ataukah kita secara society ataupun komunitas sudah kehilangan sensitivitasnya karena begitu seringnya berada di lingkungan yang penuh stres dan lebih buruk dari kematian?

Menurut pengamatan saya sendiri, kalimat yang tadinya ditulis kami tidak takut, sebenarnya bukan lah arti sebenarnya dari apa yang masyarakat Jakarta ingin sampaikan, melainkan, “kami tidak peduli”.

RG

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *