Menciptakan generasi delusional

Menciptakan generasi delusional

Saya masih ingat ketika saya diberikan buku “100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia” sewaktu saya kecil. Lalu buku selanjutnya adalah buku cara mengelola finansial sejak dini karya Robert Kiyosaki, sewaktu saya masih sekitar kelas tiga SMP. Orang tua saya juga terus menyemangati saya sambil menyelipkan “kamu spesial nak, kamu pasti akan jadi orang besar nanti” di tiap-tiap pembicaraan.

Secara konsep, saya pun tidak pernah mengerti kenapa saya harus membaca buku-buku ini, mengapa saya harus belajar berjualan komik di stand untuk mencapai kestabilan finansial saya di masa yang akan datang ketika saya masih belajar untuk mengenali lawan jenis. Mereka kemudian terus-menerus meletakkan buku-buku motivasi di sekitar ruangan rumah, sementara buku-buku komik saya diletakkan di gudang.

Hingga sampai ke kuliah, saya selalu diberikan rasa takut sebagai motivasi awal bahwa kalau IP atau GPA saya tidak mencapai setidaknya 3.00, maka saya tidak akan bisa dapat kerja, kalau saya tidak dapat kerja, maka saya tidak akan bisa punya uang sendiri, kalau tidak punya uang sendiri, ya semua orang tahu jawabannya, akan blablabla kejadian buruk lainnya. Saya kuliah jurusan teknik yang agak spesifik, dan begitu kompleksnya, hampir 30% dari murid yang tadinya seangkatan dengan saya hilang di semester dua, ketika saya wisuda, hampir tinggal setengahnya.

Karena saya mendengar begitu banyak cerita dari orang tua saya, saya pun merasa telah mempersiapkan hidup saya dengan matang. Maka setelah saya lulus kuliah, maka hidup akan dengan mudahnya menyambut dan memberikan apapun yang saya mau. Namun sayangnya, karena saya begitu nyamannya dididik dengan lingkungan yang begitu kondusif dan penuh motivasi dan pujian, saya malah struggling setengah mati di dunia kerja.

Di dunia kerja, semua orang berasal dari lingkungan yang berbeda-beda. Hampir semua orang rela pergi dari rumahnya jam lima pagi, dan pulang jam delapan malam dari kantor, semua orang tidak ada yang peduli tentang betapa spesial, dan betapa banyak buku tentang hidup yang telah saya baca, saya frustrasi. Saya sadar bahwa saya seperti diletakkan di incubator atau virtual-reality yang sebelumnya diniatkan untuk mempersiapkan saya untuk menjadi pribadi yang independen dan bertanggung jawab, malah menjadi pribadi yang delusional.

Generasi milennial atau Y, yang lahir di tahun 1990 hingga tahun 2000, umumnya memiliki orang tua yang notabene generasi baby-boomers dan juga mungkin gen X, yang telah melalui masa yang begitu berat karena dunia baru menyelesaikan perang dunianya, semua orang membutuhkan pekerjaan, mereka cukup bekerja secara konsisten, mereka mendapatkan kestabilan finansial yang cukup. Ketika generasi baby-boomers dan gen X dibesarkan sebagai anak ataupun remaja, orang tua mereka hanya memberikan target yang realistis terhadap hidup mereka yakni, sekedar survive dalam kehidupan. Karena orang tua mereka baru saja selesai dari perang, dan tidak pernah menyangka ekonomi dapat begitu cepatnya berkembang.

Karena keadaan ekonomi yang begitu kondusif, gen baby-boomers dan X menjadikan keadaan finansial mereka sebagai jangkar atau referensi status sosial ataupun finansial yang harus setidaknya diturunkan ke generasi selanjutnya, dan dengan ekspektasi mereka dapat mengembangkan fundamental ekonomi yang sebelumnya telah ditanamkan.

Dan parahnya, generasi Y dan milennial mendapatkan akses informasi yang begitu cepat dan terlalu cepat, sehingga mereka begitu mudahnya terdistraksi dengan ide-ide yang dipaparkan di luar sana. Misalnya ketika temannya dapat berkeliling dunia bersama pasangannya, maka informasi tersebut akan disajikan dengan detil dengan foto, tagged lokasi, hingga makanan apa saja yang mereka sajikan setiap harinya. Lalu soal inspirasi, mereka juga setiap harinya diberikan motivasi bagaimana para entrepreneur muda di luar sana telah masuk di dalam list 30 orang terkaya di dunia sebelum usia mereka sampai di 35. Sementara saya sendiri masih kesulitan bangun pagi setiap harinya.

Begitu banyak informasi lalu lalang di depan mata generasi tersebut, hingga mereka sangat mudah untuk terkena depresi, dan mengalami nervous-breakdown di usia yang sangat dini, karena mereka tidak dapat berhenti melihat temannya memaparkan hidupnya yang begitu sempurna, sedangkan ia hanya sibuk dengan melihat-lihat artikel seru di internet secara berulang.

Namun di setiap masalah, selalu tersimpan hal baik di dalamnya. Generasi Y dan milennial akan menjadi generasi pertama yang akan memiliki akses utuh terhadap informasi, mereka akan memiliki kendali penuh atas apa yang ingin mereka tonton, mereka makan, mereka pilih soal karir, dan informasi berada di manapun. Bahkan pendidikan seperti disain web, programming, hingga engineering pun dapat ditonton secara gratis.

Sayangnya paradoks pilihan hidup malah menghalangi generasi tersebut juga untuk mengambil keputusan-keputusan cerdas dalam hidupnya. Kebanyakan generasi ini akan tertarik dengan ide-ide untuk menciptakan usaha sendiri tanpa pengalaman yang dalam, berharap akan perubahan yang signifikan dalam semalam, dan ambisi yang menggebu-gebu hanya untuk menghibur teman-teman yang ada di dalam sosial media mereka.

Namun apakah ada cara lain untuk mendidik anak di generasi ini? Ketika ekonomi menjadi begitu volatile dan tidak dapat diprediksi, pekerjaan pun tidak menentu.

Mungkin ada baiknya kita mengenalkan generasi muda yang akan datang tentang fakta-fakta kehidupan, tentang opsi-opsi realistis, dan keadaan ideal jika misal tindakan A ataupun B dilakukan. Karena sesuai peribahasa, “pendidikan pertama tentang moral, formal, informal, akademis, kemampuan, dan lainnya dimulai dari keluarga dan lingkungan terdekat”.

Ajarkanlah generasi yang baru ini tentang pentingnya menjaga ekspektasi dalam hidup, dan fokus dalam makna singkat hidup itu sendiri.

RG