Industri Televisi dan Kebutuhan Konsumen

Industri Televisi dan Kebutuhan Konsumen

“Kalau lo menang balapan ini, lo boleh ambil apapun yang lo mau.” Kata seorang aktris di adegan balapan, di sinetron tentang perkumpulan manusia setengah serigala.

Sinetron lokal Indonesia memang memiliki pengaruh yang kuat antara campuran drama India dan teknik pengambilan gambar ala Amerika Latin, dari sisi pengambilan gambar penonton sering disuguhkan pengambilan kamera yang tidak nyaman, pemotongan scene antara satu dengan lainnya yang terlihat kejar-kejaran dengan waktu, zoom in yang berlebihan ketika ada adegan yang sebenarnya tidak membutuhkan emphasizing sama sekali, dan suara musik pengiring yang terlalu megah hanya untuk adegan saling menatap mata.

Bisa dimengerti mengapa industri ini tumbuh begitu pesat walaupun secara market, film series barat, ataupun komedi situasi lokal, dan layanan buffering film pun sudah tersedia di mana-mana, jawabannya mudah, ketika market masih ada permintaan, supplier akan terus berusaha memberikan yang penonton mau, terlepas bahwa secara estetika ataupun alur cerita tidak memiliki standar yang baik.

Namun apakah ini yang sebenarnya penonton minta? Atau ini hanyalah sesuatu yang disuguhkan bagaikan makanan cepat saji, asal masih bisa dimakan, dan masih enak untuk dikonsumsi, sajikan saja?

Definisi market sendiri di Indonesia terbagi dengan tiga kelas utama, yakni atas, menengah, bawah. Definisi menengah dan atas memiliki akses atau kebebasan untuk memilih jaringan TV kabel, langganan streaming video, dan bahkan akses DVD bajakan untuk menonton series film apapun yang mereka suka. Secara statistik, mungkin kelas atas berada di angka 4%, kelas menengah berada di 15%, sisanya berada di kalangan bawah. Dan ini tidak semerta-merta terkait dengan keadaan finansial, definisi kelas di sini yakni merupakan suatu kumpulan masyarakat yang memiliki tendensi, atau memiliki selera tertentu yang tentu saja terkait dengan lingkup sosial mereka sehari-hari.

Bagaimana dengan kelas untuk mereka yang tidak pernah melihat adanya opsi sinetron atau tayangan yang lebih baik sehari-harinya? Maka karena menonton televisi atau media sudah menjadi kebutuhan seseorang, maka mereka secara terpaksa hanya akan menikmati apapun yang disajikan di depannya.

Masih ingat acara kuis “Siapa Berani”, lalu kuis “Indosat Galileo”, dan “Who wants to be a millionaire”? Mungkin beberapa dari kita masih ingat betul ketika suatu industri televisi memiliki suatu konsep, dan suatu idealisme terkait akan apa yang ditayangkan sehari-harinya. Acara-acara tersebut ditayangkan di waktu-waktu prime time, dan secara mengejutkan juga menarik begitu banyak penonton.

Lalu mengapa acara-acara tersebut hilang? Mengapa kita disuguhkan acara seperti akademi penyanyi dangdut yang sesi komentarnya bisa satu jam sendiri? Atau acara improvisasi ketika pelawak saling menaburkan terigu di muka masing-masing?

Singkatnya, karena untuk menciptakan suatu yang sifatnya informatif, provokatif, edukatif, penuh makna, dan juga menarik, dibutuhkan banyak effort untuk mengerjakan hanya satu episode. Bayangkan betapa banyak tim kreatif yang harus menciptakan bagaimana membuat teori fisika menjadi sesuatu yang mudah dimengerti bagi rakyat banyak? Berapa banyak investasi waktu, uang, dan resiko yang harus dibuang? Ketimbang diharuskan menciptakan suatu adegan zoom-in dan zoom-out berkali-kali.

Sebagai penulis yang berada di dunia komersil, yang saya pahami ada dua tipe barang yang dihasilkan dari suatu pabrik: barang run-rate yang didistribusikan secara liar, dan barang enterprise yang membutuhkan pengertian lebih dalam.

Sama halnya dengan industri televisi ini, yang sayangnya lebih ingin menjual barang run-rate kejar tayang yang kekurangan makna di sana sini.

Lalu pertanyaan paling penting, kapan industri seperti ini akan berakhir?

Berbeda halnya dengan film horor yang berbau seksual yang kini mulai hilang di industri perfilman kita. Televisi begitu kuatnya untuk ditayangkan berkali-kali, dan ketika semua channel televisi entah bagaimana caranya kompak untuk menayangkan hal tersebut, sebagai masyarakat kita akan terus menerus mengambil apa yang disuguhkan.

Hanya ada satu cara untuk meningkatkan selera kita sebagai penonton. Yakni tontonlah tayangan televisi yang lebih baik.

Penulis sendiri sadar bahwa sewaktu masih kecil dan segala yang ditayangkan di televisi cuman itu-itu saja, akhirnya penulis pun jatuh hati dengan Diana Pungky di film “Jinny oh Jinny”.

Di era yang serba digital ini, semua menjadi mungkin, semua berusaha menjual apa yang paling terlihat simpel, mudah, dan mewah dalam bungkus yang sangat menarik. Namun walaupun televisi menyuguhkan acara-acara ini secara paksa, konsumen perlahan akan beralih dengan pilihan atau kebebasan mereka sendiri untuk mencari fakta, ataupun hiburan. Mereka mulai mengganti tontonan mereka yang tadinya “menonton karena memang itu ditayangkan”, menjadi “menonton karena mereka ingin menonton film itu”.

Namun ketika hal ini terjadi, akan menjadi dilema bagi industri televisi di Indonesia, karena semua orang akan beralih untuk menikmati apa yang mereka mau tonton. Namun krisis ini akan mengakibatkan industri televisi untuk menciptakan program yang lebih berkualitas, karena pada akhirnya, supplier akan selalu mengikuti kemauan pelanggan bukan?

RG.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *