Mengapa berharap

Mengapa berharap

Dahulu ada pepatah:

Jangan pernah menghancurkan harapan seseorang, bisa jadi hanya itu yang mereka punya.”

Mengapa manusia berharap? Mengapa manusia percaya?

Saya agak lupa detil ceritanya seperti apa, tapi di salah satu film pernah dikutip tentang cerita dua anak tikus yang begitu tertarik dengan makanan yang ada di dapur, mereka berlarian untuk memakan sisa-sisa makanan di dapur, dan tiba-tiba mereka berdua terkejut karena ada suara hantaman dari luar dan berlari dan tanpa sengaja masuk ke dalam kuali, panci besar yang sedang membuat sop tomat yang agak kental dengan suhu yang cukup panas.

Anak tikus satu panik dan kehilangan akal, melihat kuali itu begitu besar, di tengah ia menyerah dan membiarkan dirinya tenggelam perlahan.

Anak tikus kedua terus bergerak, bergerak meskipun ia tahu betapa tidak mungkinnya ia akan selamat. Namun ia terus berusaha hingga akhirnya kakinya menabrak potongan ayam yang berada di dalam sup tersebut dan ia terpental dan berhasil keluar dari panci tersebut.

Metaforanya sih cukup straightforward.

Di dunia ini akan selalu ada momen di mana kita diposisikan sebagai pihak yang paling disalahkan, paling tidak punya harapan, disakiti, dan diperlakukan semena-mena.

Namun kata Tuhan, “sesungguhnya mereka yang beriman akan berada dalam lindunganKu“.

Iman yang makna turunan langsungnya yakni percaya ini merupakan hal yang fundamental, menggambarkan suatu perspektif atau sudut pandang yang kita niatkan dari awal. Sama juga dari sisi filosofi yang datang dari timur yakni “jagalah pikiranmu, karena dari pikiranmu akan menjadi niat, niatmu akan menjadi perbuatan, perbuatanmu akan menjadi suatu kebiasaan, dan kebiasaanmu akan menjadi karakter. Hingga akhirnya karaktermu lah yang menentukan takdirmu”.

Dari beberapa agama yang ada, ada yang menyatakan bahwa ketika manusia beriman pada sesuatu yang salah / bukan dengan Tuhan yang seharusnya, maka dosanya tidak akan diampuni.

Sebagai makhluk yang dihadiahkan otak dari alam semesta, saya mempertanyakan pernyataan tersebut, mengapa begitu ekstrem dan fundamental?

Namun saya tiba di suatu kesimpulan bahwa ketika manusia itu memilih untuk mempercayai nilai-nilai yang baik, berdoa bahwa akan ada suatu keadaan yang lebih baik dari hari ini;

Mereka secara tidak sadar mengganti perspektif mereka perlahan tentang hidup,

bahwa akan ada hari yang baik ataupun buruk pada akhirnya, namun semua akan berlalu. Ketimbang di satu sisi yang lain, ketika mereka terlalu realistis atau malah pesimistis, mereka akan hadir di suatu kesimpulan bahwa, suatu kesalahan seorang manusia dilahirkan, diposisikan di negara yang tidak kondusif, tidak ada lapangan pekerjaan dan lain-lain.

Ketika mereka beriman kepada yang baik, maka mereka secara tidak langsung akan menuju ke yang baik. Ketika mereka beriman tentang konsep hidup yang salah, maka mereka secara tidak langsung menjerumuskan diri mereka sendiri melalui pembenaran-pembenaran.

Saya sering menganalogikan konsep ini melalui cerita.

Ada dua orang anak, sebut saja satu namanya Aldi satu lagi namanya Aldo.

Aldi lahir di keluarga yang biasa saja. Namun seiring beranjak dewasa Aldi sering membaca buku-buku tentang sejarah dan selalu menggali tentang makna dari suatu nilai-nilai yang tertanam di baliknya. Hingga ia sadar dan mempercayai bahwa ketika manusia sungguh-sungguh, rajin, dan konsisten dengan apa yang mereka mau, maka mereka akan mendapatkan hasil yang mereka inginkan suatu harinya. Maka Aldi terus mempercayai hal tersebut, fondasi tentang rasa percaya dan harapannya ia tuangkan ke dalam aktivitas sehari-hari seperti belajar, berteman, dan bersosialisasi dengan kawannya. Walaupun simpelnya Aldi hanya percaya rajin pangkal pandai dan kaya. Aldi kini menjadi figur orang tua yang baik, dengan penghasilan cukup, dan bertanggung jawab terhadap hidupnya. Walaupun masa-masa sulit terus menggodanya untuk mengambil jalan pintas.

Sedangkan Aldo kembarannya  selalu tertarik dengan apa yang ia lihat, apa yang temannya lakukan selalu diikuti, Aldo seolah tidak memiliki fondasi atau nilai yang ia percayai dalam hidupnya. Ia seringkali mempertanyakan betapa tidak pentingnya untuk belajar ketika di dunia kerja sudah ada kalkulator dan rumus lainnya. Ia percaya bahwa pada akhirnya semua bisa dibeli dengan uang, pertemanan, pasangan, dan posisi. Aldo di dalam hidupnya hanya fokus untuk mencari uang, dengan segala cara, meskipun harus beberapa kali kini ia terkenal sebagai mafia kasus di kehakiman, di mana ia bisa memperjual belikan kasus untuk keuntungannya sendiri.

Apakah ada yang lebih benar antara satu dengan yang lain? Jawabannya tidak.

Karena secara genetika, Aldi dan Aldo kembar. Namun Aldi dibentuk dengan kepercayaan ia tentang nilai-nilai bahwa sesuatu yang mudah akan datang setelah melalui yang susah, sementara Aldo hanya bingung melihat lalu lalangnya hal yang berbinar di matanya, hingga akhirnya ia mempercayai apapun yang baik datangnya dari uang. Kepercayaan, suatu garis tipis yang menentukan arah hidup seseorang.

Percaya dan harapan itu berbahaya. Karena ketika mereka sudah punya dua hal tersebut, mereka hanya akan mendengar apa yang mereka mau dengar, dan melakukan translasi kalimat nasehat yang diberikan agar sesuai dengan nilai yang mereka percaya.

Maka datanglah akal.

Untuk menyadarkan seseorang, butuh sifat instropeksi yang rutin dari seseorang. Harus ada kemampuan untuk merefleksikan diri dari sudut pandang yang lebih global. Siapa saya, kontribusi saya apa, kenapa saya mempercayai hal tersebut begitu lamanya. Karena ketika kita sampai ke tahap pemikiran yang benar, maka jiwa kita akan terbebaskan.

Tanpa mengurangi rasa hormat; Bayangkan saja seorang PSK, ketika mereka beriman bahwa ya ini yang saya lakukan, ini identitas saya, saya percaya bahwa saya hanya bisa melakukan ini untuk menyambung hidup saya. Maka mereka akan terus melakukan pembenaran, walaupun uang yang mereka tabung sekarang sudah cukup untuk kuliah, ataupun sekolah sekretaris.

Mungkin ini gaya saya, untuk menentang tulisan saya sendiri dan membiarkan mengakhirinya secara ambigu. Percayalah terhadap hal yang baik, dan berharaplah bahwa segala jerih payah ini akan menjadi hasil di suatu harinya. Dari situ kita akan selamat dari segala hiruk pikuk dan keramaian ini.

Salam, RG