Semakin mahal semakin bagus

Semakin mahal semakin bagus

Dari konten suatu video yang saya tonton akhir-akhir ini, ada suatu hal yang menarik.

Bahwa kita sudah sampai di suatu era bahwa sesuatu yang sangat kompleks, seperti teknologi untuk konsumsi personal, ataupun otomotif yang tadinya menjadi mahal karena ongkos produksinya. Kini telah melewati masa industrialisasi, di mana segala hal yang kompleks bisa diproduksi lebih murah ketika dioutsource ke negara berkembang, dengan begitu keuntungan dari tiap penjualan dapat meningkat, sedangkan ongkos produksi turun jauh dari sebelumnya.

Lalu ketika semua orang bisa bersaing dengan jenis produk dengan kompleksitas yang sama, ongkos produksi yang mirip, karena diproduksi di pabrik yang sama. Kini kita hadir dengan kompetisi jenis baru, mengemas hal yang sama dengan bungkus yang berbeda.

Saya ingat ketika saya masih kecil, saya diceritain oleh Ibu saya, saya sudah pernah dibelikan baju yang bagus banyak. Namun yang saya pilih malah baju ksatria baja hitam, saya hanya mau pakai kaos itu, kalau kaosnya belum kering saya bisa nangis jumpalitan. Dulu kaosnya ada dua, yang batman sama ksatria baja hitam.

Sebagai konsumen sewaktu kecil, saya tidak pernah mempermasalahkan itu dibuat di mana, memiliki branding program seperti apa, mendukung program LGBT ataupun tidak, asli atau tidak, atau yang paling terakhir, saya tidak pernah peduli apakah harganya mahal atau murah. Saya dalam jentikkan jari akan suka karena memang saya menyukainya.

Lalu mengapa sekarang seolah semakin mahal semakin bagus?

Ketika berbicara kualitas seperti kerapihan, kebersihan, dan pelayanan dari restoran sudah mencapai angka 10 dari 10. Sebagai makhluk yang selalu bersaing, manusia akan mencari parameter lainnya seperti branding organik, mendukung kampanye penghijauan, hingga mungkin ekstremnya, mendukung perlindungan komodo di perbatasan. Suatu restoran dikemas hingga sedemikian rupa, hingga menjadi begitu mahal. Hingga ketika seseorang dengan daya beli yang tinggi, ingin menghabiskan jerih payah dan waktu yang terbuang selama ini. Ia akan pergi untuk bercerita ke temannya, “eh kemarin malem minggu gua makan di restoran yang support keberadaan komodo loh”.

Apa maksud dari paragraf di atas? Sebagai manusia, sangat lumrah jika seseorang mengikuti suatu pergerakan massal / tren tentang sesuatu. Ketika seseorang bercerita bahwa itu merupakan hal yang hebat, kita akan tertantang untuk melihat, melakukan komparasi, hingga akhirnya mencobanya dan bercerita ke teman terdekat kita. Hingga kita sadar bahwa;

Kita mudah dibohongi

Karena dari kecil sayangnya beberapa dari kita juga dididik untuk berhati-hati dengan benda yang mahal. Tanpa melanjutkan kalimat setelahnya.

“Hati-hati sama handphone mama, mahal itu baru beli.”

Atau

“Hati-hati sama handphone mama, contact mama di situ semua, kalo rusak gak bisa nyarinya lagi.”

Beberapa dari kita mungkin lebih sering mendengar konteks yang pertama di kehidupan sehari-hari. Jika sesuatu itu mahal, maka itu berharga. Padahal, secara konteks kegunaan, tidak linear seperti itu.

Lalu ketika semua hal menjadi mahal, apakah ini menjadi suatu pertanda yang baik? Bisa iya, bisa tidak. Karena ketika suatu perumahan menjadi mahal, merupakan suatu indikasi bahwa perumahan tersebut memiliki standar sanitasi yang baik, akses terhadap kebutuhan sehari-hari yang dekat, lingkungan yang aman, dan lain-lain. Namun ketika parameter tersebut terus ditambahkan seperti kasus restoran komodo di atas, akan menjadi sulit bagi konsumen untuk bersaing dengan segala hal yang sebenarnya mereka tidak perlukan dalam kehidupan sehari-hari.

Harga pada dasarnya akan terus bergerak sesuai permintaan pasar, ketika semua orang memproduksi benda yang sama, sedangkan jumlah konsumen tetap, maka harga akan turun, dan sebaliknya. Entah ini kritik atau apa, namun saya sebagai penulis ingin sedikit menyentil kebiasaan untuk mempercayai;

“Cheap no good, good no cheap la…”

Karena sebagai konsumen yang cerdas kita bisa mengendalikan ego kita terhadap tulisan diskon, brand luar negri yang sebenarnya diproduksi di negara yang kita tinggali. Apakah semua barang harus menjadi mahal untuk menjadi bagus? Atau sebenarnya dari dulu ada suatu titik equilibrium untuk semua barang, namun kita tertipu dari kemasannya?

Triknya apa agar bisa cerdas? Kembali lah ke tahap naif seperti kita masih kecil, ketika sepatu tersebut bukan merk asing, tapi ketika diinjak bisa mengeluarkan lampu terang, maka kita akan tertawa keasikan sambil memamerkannya ke orang tua kita.

Mahal bukan berarti berharga, kejarlah yang berharga, bukan yang mahal.

Semoga kita bisa menjadi konsumen yang lebih cerdas.

Salam, RG